Part 2

68 1 0
                                    


Di keramaian ini di tempat ini Lea merasa dirinya kosong dan sunyi. Ntah udah berapa kali dia mencuri tatap kearah Angga yg selalu menjadi pendengar yg baik buat teman² nya saat cerita. Dia masih sama Angga yang dulu Angga yg mencintai nya Angga yg selalu sayang sama Lea . Yah orang yg sama tapi gak menjamin hatinya. Tuhan ini sangat sulit dia muncul tiba-tiba tanpa kabar, memangnya apa yg mau diharapkan lagi klo dia udah gak menganggap ku ada tp masih ada kesempatan kan untuk cari tau alasannya? Batin Lea.
Menyadari sahabatnya masih bengong Dea menyenggol lengannya. "Heh biasa aja Dong liatinnya ntar matamu copot"
Lea langsung pura² membuka ponselnya dan astaga dia lupa klo hari ini dia ada kelas siang. Buru² ia membereskan tas nya dan pamit. Angga yang menyadari hal itu mengikuti kemana kaki Lea melangkah dan saat itulah ia permisi keluar.

"Lea" panggilnya saat Angga tepat ada dibelakang nya. Lea seketika menoleh.

Dia sangat tampan dengan rambut gondrong nya, Lea fokuss.

"Ia ada apa?"

"Hai, apakabar, tadi gak sempet nanyain karna rame"

"Kabarku baik, maaf yah aku ada kelas jadi harus buru²"  Lea langsung masuk ke dalam taxi yg tadi sempat di setop nya.

Angga hanya melihat kepergian Lea dg tatapan hampa. 'kamu pasti marah le, ia memang seharusnya begitu, mungkin terlalu egois buat aku masih mengharapkan mu' sesalnya dalam hati.

.

Angga termenung dikamarnya sambil memandang bingkai foto Lea.

Angga termenung dikamarnya sambil memandang bingkai foto Lea

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ini fotonya.

Ingin sekali Angga menemui Lea secara pribadi dan ngobrol tapi.... Apa masih ada kesempatan buat dia melakukan hal itu setelah semua yg terjadi.

Flashback

"Tapi pa kenapa, kenapa haru Fiona, papa tau sendiri klo Angga gak bisa dan Angga gak mau, Angga sudah punya pacar pa"
Terangnya dg tegas setelah apa yg papanya ucapkan ingin menjodohkan dirinya dengan Fiona anak dari teman bisnis papanya.

"Putuskan dia, atau papa akan turun tangan sendiri"

Degg...

Angga gak bisa membantah lebih dari itu, Angga tau klo papanya gak pernah main² dengan apa yg beliau ucapkan. Satu lagi klo papanya tau siapa Lea.

"Jangan sampai papa cari tau siapa pacar kamu, putuskan semua yg berkaitan dengan nya "

Angga terdiam. Hatinya memanas karna gak bisa melakukan apapun. Lea adalah pacarnya udah hampir setahun mereka pacaran mereka pacaran dan mereka baik² saja meskipun jarak mereka jauh.

Flashback end.

"Le, gua kangen bgt tapi gua gak berdaya, gua terlampau takut untuk menemuimu. Takut klo papa beneran akan menyakitimu, maaf klo aku jadi orang pengecut "

Atensinya dialihkan saat ponselnya berbunyi.

"Hallo"

Diam. Tak ada suara. Angga mengernyit
"Hallo" sekali lagi Angga berucap tapi nihil gak ada jawaban.

"Ngga... Ini aku "
Suara itu, sungguh aku merendikannya.

"Lea?"

"Iya ini aku Lea, bisa kita bicara"

.....

Dan disinilah Lea menunggu Angga. Tangannya terlipat, hatinya bergemuruh gak karuan. Lea merasa gak tenang.

Dan seseorang memegang pundaknya dari belakang "maaf telat" suara itu membuat Lea jadi kikuk dia terlalu merindukan suara itu. "Ia gak pa²"
Lea menatap Angga beberapa detik saat yg ditatap masih sibuk dg ponselnya yg sejak tadi chating menghampiri nya.

"Maaf udah ganggu waktu Lo"
Angga menoleh cepat saat Lea bilang 'lo'
"
Memangnya apa yg Lo harapkan ga'

"Gua cuma butuh penjelasan, selama ini apa yang terjadi, kenapa Lo menghilang, apa gua melakukan kesalahan, apa gak bisa Lo kasih tau alasannya sebelum benar² menghilang dan itu sukses buat gua khawatir. Tapi apa? Aku buntu dengan fikiran² liar ku yg memang mungkin saja kau meninggalkanku tp gua tau Lo bukan orang seperti itu, katakan klo semua ini gak benar" Angga menatap Lea yg bicara dg tenang tapi setiap kata yang terucap sukses buat Angga merasa tersudut dan yah kesalahan memang ada padanya.

"Lalu kenapa kau masih menunggu. Apa yg membuat kau berfikir klo aku masih Angga yang dulu "

Cessss air mata Lea seketika mengenang di pelupuk matanya. Gak menyangka klo Angga akan mengatakan sesuatu yang menyakitkan . Memang sejak di perjalanan Lea lebih ingin klo Angga muncul sebagai Angga yg berengsek. Tapi dirinya blom siap untuk menerima kata² menyakitimu itu.

"Mungkin memang bodoh, tapi apa salah jika selama dua taun aku menunggu mu? " Suaranya terlampau serak akibat menahan air matanya yg gagal untuk tak jatuh. Lea mengusap kasar.

" Harusnya kamu bisa berfikir kemungkinan selama dua taun berlalu, kemungkinan terburuknya aku udah lupain kamu " hatinya lemah saat kata² itu lolos tanpa celah. Hatinya teriris sakit melihat Lea yg air matanya sejak tadi mengenang di pipi tembem nya.

Angga mendekat mengikis jarak yg sejak tadi hanya berjarak dua langkah. Angga mengusap lembut air mata itu. Lea memejam karna terlalu lemah dan sialnya dirinya gak bisa menolak perhatian Angga.

" Kenapa, kenapa kau bisa jadi sw berengsek ini. Aku udah berharap klo kau datang sebagai lelaki berengsek yang mungkin aku akan mudah buat lupain Lo. Tp kenapa ini sakit banget ga"

"Anggaplah aku berengsek dan pengecut itu jauh lebih baik buatku, predikat ku gak bisa di perbaiki lagi. Aku emang udah menghancurkan hatimu jadi untuk apa. Untuk apa kita masih bertahan dan asal kau tau" Angga mengangkat jarinya yg memamerkan sebuah cincin di jari manisnya "aku udah tunangan"

Bersambung

BertahanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang