Apa kabarmu?
Apakah puncakmu masih hijau?
Apakah airmu masih biru?
Dan, apakah kamu baik-baik saja?
Dulu hamparan hijau sepanjang mata
Kini telah berganti atap
Seakan tak ingin menatap
Kami, manusia menutup mata
Kecintaan akan bumi hanya ada diketikan jari
Kami unggah, tapi nyatanya tak peduli
Kami buat, tapi kami juga yang mendengus
Kesal dengan udara yang kian memanas
Berbondong-bondong ramaikan jalan
Adu gengsi dengan kendaraan kebanggaan
Tapi kita lupa, udara dapat tercemar perlahan
Jadi jangan salahkan, jika siang kau kepanasan
Hujan datang, bumi pun kini sejuk
Usai itu, airnya tak kunjung surut
Hey, lagi-lagi jangan salahkan air
Salahkan dirimu yang sadar tak sadar turut
Menyumbang sampah disembarang tempat
Hukum alam masih berlaku sobat
Kita yang menanam, kita juga yang menuai
Bumi kita sudah tua dan sakit
Harusnya kita rawat sepenuh hati
Jika bumi rusak, apakah kita akan aman?
Tidak! Hidup kita pun saat itu berakhir
Selagi masih ada, selagi masih bisa
Cintai bukan hanya di jari, tapi dari hati dan buktikan
Jika bukan kita, siapa lagi?
Jika bukan hari ini, kapan lagi?
Jangan tunggu besok, tapi saat ini
Jangan tunggu hari Bumi, tapi lakukan setiap hari
- gadisawo
KAMU SEDANG MEMBACA
Kata Tak Indah
PoésieKata itu kata Indah itu indah Jika kata tak indah, buatlah indah akan dirimu Tanpa mengemis indah pada orang lain Ditulis oleh Desi Nur Noviani
