Aku sudah berpakaian rapi. Tak lupa buku harianku kumasukkan ke dalam tas. Rencananya aku jalan kaki menuju rumahnya. Aku biasa kemana – mana jalan kaki. Hitung – hitung olahraga. Jl. Lembayung dekat dengan minimarket. Nanti, aku mau beli cemilan untuk di rumah.
Aku berjalan menyusuri jalan raya. Aku juga harus menyebrang dua kali. Butuh 30 menit untuk sampai di Jl. Lembayung. Ketika aku melihat plang Jl. Lembayung, jantungku berdegup sangat kencang. Apa Bena ada di rumahnya ? Kutenangkan diriku dengan melipir dulu di minimarket untuk beli macam – macam cemilan. Aku membeli kue pia, biskuit coklat, dan keripik pedas.
Kakiku berat ketika kulangkahkan untuk menyusuri Jl. Lembayung. Jantungku berdegup kencang seperti mendengar suara dangdut di perkawinan yang menggunakan speaker besar. Jl. Lembayung No. 1 sudah kulewati, kini aku beranjak ke rumah sebelahnya yaitu No. 2. Aku semakin ragu. Rasa takut menyelimutiku. Aku takut Bena menganggapku perempuan aneh. Aku takut dia berpikir 'kenapa dia datang kesini ?'. Aku butuh beberapa langkah lagi menuju No. 3, rumahnya Bena.
Jantungku hampir copot ketika aku sampai persis di depan rumah Bena. Rumahnya besar dan asri. Pagarnya tinggi menjulang dan berwarna hitam. Di samping pagar sebelah kanan, ada bel rumah. Aku sangat ragu untuk memencet tombol belnya. Tapi, aku sudah benar – benar di depan rumahnya. Dengan segala keraguan yang berkecamuk di dalam hatiku, akhirnya kupencet bel rumahnya. Tanganku gemetar ketika bel kupencet.
'Treeet!' 'Treet!'
Tak lama kemudian seorang perempuan seumuranku keluar dari rumahnya. Mungkin itu adik atau sepupunya Bena.
"Cari siapa ya, mbak ?," tanya perempuan itu.
Aku ingin menjawab pertanyaan itu tapi lidahku kelu.
"Cari siapa, mbak ?," tanya perempuan itu lagi.
"Benanya ada, mbak ?," tanyaku dengan gugup.
Dia mengernyitkan dahi. "Bena ?,"
Apakah selama ini aku dibohongi Bena kalau ini alamat rumahnya ? Kok perempuan ini seperti tak tahu Bena siapa ?
"Bena Aditya yang dulu sekolah di SMP Permata, mbak," jawabku.
"Katanya rumahnya Bena di sini," tambahku.
Ia berpikir sebentar sambil memandang wajahku. Ia tersenyum, kubalas senyumannya tapi hatiku semakin tak tenang.
"Oh, Bena ya. Dia sudah pindah lima tahun lalu. Rumah ini sudah dibeli oleh orang tua saya," jawab perempuan itu.
Aku kaget mendengar jawaban perempuan itu. Di dunia maya aku sulit bertemu dengannya, apalagi di dunia nyata.
"Mama saya itu sepupunya Papanya Bena, mbak. Waktu keluarga Bena pindah, rumah ini dibeli oleh orang tua saya," tambahnya.
"Sekarang Bena pindah kemana, mbak ?"
"Keluarga Bena pindah ke Bandung, mbak," jawabnya lagi.
"Tapi... kalau boleh saya tahu, ada apa mbak cari Bena?"
Ya Tuhan! Aku sama sekali bingung harus jawab apa. Aku berpikir sebentar dan menjawab,
"Saya mau silaturahmi dengan Bena," jawabanku ngawur sekali.
"Memangnya mbak tidak tahu tentang Bena ?,"
Aku tercekat. Ada apa dengan Bena ?
"Bena kenapa, mbak ?," tanyaku.
"Bena kan sudah meninggal dua tahun yang lalu,"
Air mataku meleleh. Bercucuran saling berkejaran membasahi pipiku. Aku hanya bisa melamun dan menangis. Ternyata memang aku sudah sulit bertemu dengan Bena. Perempuan itu menepuk – nepuk pundakku.
"Kalau begitu, boleh minta alamat rumah Bena di Bandung ?," tanyaku sambil menyusut air mataku.
"Boleh, mbak,". Ia sepertinya bingung melihatku menangis.
"Mbak, masuk ke dalam, yuk. Kita ngobrol di dalam saja," ajaknya.
Akhirnya aku masuk ke dalam rumah yang alamatnya Bena tulis belasan tahun lalu di buku harianku.
***
Aku tak mau masuk ke dalam rumahnya. Aku ingin duduk di kursi teras saja. Perasaanku masih sangat kacau. Aku kaget sekali kalau Bena sudah meninggal. Tapi, mungkin saja Bena masih hidup tapi perempuan ini bekerja sama dengan Bena untuk prank aku. Tapi untuk apa Bena prank aku ? Toh aku datang kesini tak memberi tahu siapapun, termasuk Bena. Perempuan itu keluar dari dalam rumah dengan menyuguhkan aku minum, kue nastar, dan sekotak tisu.
"Sabar ya, mbak," katanya. Raut wajahnya terlihat sedih.
"Oh, iya. Nama mbak siapa ?," tanya dia lagi.
"Fara," jawabku. Aku masih terus saja menangis.
"Aku Mila," jawabnya.
Ia menyodorkan selembar tisu dan aku ambil. Kususut air mataku dengan tisu. Kenapa aku tak tahu Bena sudah meninggal ? Apa teman – teman yang lain tahu kalau Bena sudah meninggal ? Kalau ada yang tahu, kenapa aku sama sekali tak tahu ? Perasaanku hancur seperti cangkir yang jatuh tempo hari.
Aku banyak mengobrol dengan Mila. Mulai dari di mana dia kuliah, mengambil jurusan apa. Ternyata benar dugaanku. Mila seumuran denganku. Dia kuliah di jurusan arsitektur di salah satu kampus ternama di Indonesia. Ia juga memberi alamat keluarga rumah Bena di Bandung. Aku juga bilang pada Mila kalau besok akan ke rumah Bena di Bandung. Alamat Bena Mila tulis di selembar kertas.
"Kamu benar mau ke rumahnya ?," tanya Mila.
"Iya, Mila. Aku mau kesana. Setidaknya aku berkunjung ke pusaranya Bena," jawabku.
"Kamu besok hati – hati ya mbak berangkatnya," katanya.
"Sepertinya kamu teman dekatnya Bena, ya ?," tanya Mila. Aku masih menyusut air mataku. Ia mendekatkan duduknya denganku dan menepuk pundakku.
"Iya ," jawabku singkat. Aku terpaksa berbohong pada Mila karena aku bingung harus menjawab apa. Aku bukan teman dekat Bena. Bahkan ngobrol banyak pun tidak. Aku hanya ngobrol dengan Bena kalau satu kelompok. Ia tersenyum mendengar jawabanku.
"Pasti Bena senang di sana kalau teman dekatnya masih ingat padanya,". Aku hanya tersenyum mendengarnya dan mengamini dalam hati.
Setelah berbincang panjang lebar, aku pamit pada Mila. Harapanku yang semula ingin melihat Bena walaupun sedetik saja, tapi ternyata aku tak akan pernah bertemu lagi dengan Bena.
KAMU SEDANG MEMBACA
BENA
Short StoryBelasan tahun Fara memendam rasa pada Bena, seorang teman sekelasnya yang jago basket. 9 Tahun dalam almamater yang sama, mereka berpisah ketika SMA. Ia mulai mencari keberadaan Bena. Mulai mencari di facebook, instagram, hingga twitter tak ditemuka...
