Cernak berikut pernah terbit di Solo Pos edisi 15 Desember 2019.
************************************************************************
"Bu, mana botol air minum yang dibeli kemarin?" tanya anak perempuan kelas empat SD dari dapur. Dari tadi dia sudah mencari botol minumnya di rak piring, tapi tidak ketemu juga.
"Sudah Ibu siapkan di meja makan," ucap Ibu sambil memasuki dapur.
"Waah, terima kasih, Bu." Mona langsung berlari menuju meja makan, lalu mengambil botol, kemudian memasukkannya ke saku yang ada di sisi tas.
Mona yang sudah siap berangkat, menunggu kedatangan temannya di teras. Sekolahnya enggak jauh dari rumah. Jadi, dia berangkat jalan kaki bersama Dita. Mereka belum lama kenal, karena Dita di sini baru dua bulan.
Dita pindahan dari kota yang dijuluki Kota Pahlawan, ya Kota Surabaya. Meskipun mereka belum berteman lama, Dita sudah menjadi teman yang baik untuk semua orang, khususnya Mona.
"Mona, ayo kita berangkat!" ajak Dita begitu sampai di pagar rumah, kemudian tersenyum ke arah Ibu.Mona berpamitan, lalu berjalan menuju ke arah Dita.
"Hari ini aku ada piket, jadi agak cepat ya, hehe."
"Oke ...." Dita kemudian mengambil botol dari saku tas Mona. "Waah, bawa bekal minum juga, nih."
Mona tersipu malu. "Iya, Dit. Setelah aku pikir-pikir, omongan kamu benar. Kalau bawa minum, kan, bisa lebih hemat karena enggak harus beli minum di sekolah."
"Nah, gitu dong. Kita juga bisa membantu mengurangi sampah plastik, kan?" ucap Dita sambil mengembalikan botol di tempat semula.
"Iya, benar sekali, Dita."
Sesampai di kelas. Mona langsung mengambil sapu, kemudian mulai menyapu. Sedangkan Dita mengambil buku, lalu keluar dari kelas. Mona melihat buku yang dibawa Dita.
***
Bel istirahat berbunyi. Beberapa anak memilih tetap di kelas. Mona dan Dita ke luar sambil membawa botol berisikan air minum.
"Dit, tadi buku baru, ya? Soalnya aku baru lihat," tanya Mona teringat dengan buku yang tadi pagi.
"Oh, itu buku lama, punya perpustakaan. Aku sudah pinjam dari dua hari yang lalu. Jadi, harus aku kembalikan."
"Hah? Aku malah belum pernah pinjem buku di perpustakaan," ucap Mona.
"Sayang sekali, Mon. Itu kan, fasilitas dari sekolahan."
"Hehe."
Mona dan Dita sudah sampai di kantin. Mereka memesan soto, tanpa minuman. Kemudian mencari tempat duduk yang kosong di tengah kantin.
"Nah, kan jadi hemat dua ribu. Biasanya beli es teh, sekarang sudah ada minum bawa dari rumah, dong," ucap Mona sambil mengusap-usap botol dengan kedua tangannya.
"Iya, aku sudah terbiasa dari kecil. Jadi, uangnya bisa ditabung untuk beli sesuatu."
"Wah, hebat kamu, Dit," puji Mona tulus.
"Yang hebat ibuku, Mon. Dia sabar sekali membiasakanku untuk membawa bekal minum ke sekolah. Katanya, dengan begini kita sudah menjadi pahlawan untuk bumi ini. Ibuku itu tergabung di komunitas Zero Waste."
Soto yang mereka pesan sudah tiba. "Terima kasih, Pak," ucap mereka hampir bersamaan.
"Apa itu Zero Waste, Dit?"
"Itu aksi mengurangi sampah plastk. Seperti yang ibuku lakuin selama ini. Ibu mengganti sedotan plastik dengan sedotan bambu, jadi bisa dicuci terus dipakai lagi. Kalau belanja ke pasar, Ibu juga selalu membawa kantung dari rumah, jadi belanjaannya langsung dimasukkan dalam satu kantung besar."
"Hah, sedotan dari bambu?" Mona melotot ke arah Dita saking tidak menyangkanya.
"Iya, bambunya yang kecil, loh," jelas Dita lalu melanjutkan makan.
Mona sampai takjub mendengarkan penjelasan dari sahabatnya. Selain pintar, Dita juga sangat mecintai lingkungan. Katanya, dengan mencintai lingkungan itu adalah cara untuk berterima kasih kepada bumi.
"Pantas saja, kamu sering bawa box nasi kosong, terus kamu isi siomay, atau jajanan lainnya," ucap Mona baru menyadari kebiasaan baik Dita.
"Hehe ... iya, Mon. Eh, sebentar lagi masuk, nih," kata Dita sambil melihat jam tangannya.
Tidak lama Dita mengucapkan itu, soto di mangkuk mereka pun habis. Bel masuk pun berbunyi. Keduanya beranjak dari meja, untuk membayar makanan yang sudah mereka lahap.
Mona berjalan mendekati Dita. "Dit, nanti istirahat kedua, temeni aku ke perpustakaan, ya."
Dita kaget mendengar permintaan sahabatnya itu. "Oh, boleh-boleh."
"Aku mau pinjam buku juga, hehe."
"Akhirnya ... nah, gitu dong. Oke, Mona. Besok hari Minggu kamu kalau mau main ke rumahku saja. Ada banyak buku di kamar, pasti kamu suka."
"Sekalian mau cobain sedotan bambu, boleh?"
"Oh, boleh banget."
Mona tersenyum bahagia. Dia merasaberuntung bisa kenal dan bersahabat dengan Dita. Keduanya kini memasuki kelas,dan bersiap menerima pelajaran selanjutnya.
=====
Jangan lupa vote, ya ....
Follow juga akun ini supaya terus berkembang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Anak
Short StoryBerisikan cerita yang bisa membangun karakter putra dan putri Indonesia. Semoga bisa dijadikan bahan untuk meningkatkan hubungan anak dan orangtua dengan menceritakannya kepada anak.