Suara Tokek

23 3 0
                                    

Cerita berikut penah terbit di Kedaulatan Rakyat edisi 29 Januari 2021.

Selamat menikmati~

--------------------------------------------------------------------------------------

     Jabar sangat serius menyimak pelajaran IPA yang dijelaskan oleh bu guru. Materi hari ini tentang Makluk Hidup dengan Lingkungannya. Ia jadi mengerti kalau warna pada tubuh bunglon bisa berganti-ganti untuk melindungi dirinya, perubahan warna itu disebut mimikri. Atau pada cecak yang memutuskan ekornya ketika dalam bahaya disebut autotomi.

     Bel istirahat berbunyi. Bu guru pergi meninggalkan kelas. Jabar langsung menoleh ke teman sebangkunya. "Aku pernah lihat ekor cecak yang putus," ucap Jabar mulai bercerita.

     Bagas menoleh. "Hah? Di mana?" tanyanya antusias.

     "Di teras rumah, waktu itu aku lihat cecaknya dikejar-kejar kucingku. Terus si cecak mutusin ekornya, deh. Ekor cecak itu masih bisa gerak-gerak kayak cacing," kata Jabar sambil mengangkat jari telunjuk lalu menggerak-gerakkannya

     "Hiii ...." Bagas bergidik geli. "Jadi bunglon seru ya, bisa gonta-ganti warna."

     "Kamu mau kulitmu warna-warni?" tanya Jabar yang justru bingung.

     "Iya, biar Ibu bingung waktu nyariin untuk tidur siang, hahaha."

     Tawa mereka berdua memenuhi ruangan.

     "Kalau tokek mutusin ekor juga gak, ya?" tanya Jabar, "Mereka masih satu spesies, kan?"

     "Bisa jadi, sih," jawab Bagas sambil menggaruk kepalanya, "Omong-omong soal tokek, kata nenekku kalau dengar suara tokek malam-malam, terus suaranya berjumlah ganjil, berarti ada hantu gak jauh dari situ."

     Krucuk-krucuk. Perut Bagas berbunyi.

     "Kalau itu bunyi tanda lapar," ucap Jabar, kedua anak itu lalu tertawa.

     "Iya nih, haha. Udah yuk ke kantin," ajak Bagas.

     Mereka berdua pun keluar kelas menuju kantin.

***

    Pada malam harinya, ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Jabar berada di kamarnya, masih mengerjakan tugas. Sepulang sekolah tadi, ia langsung main dan baru ingat ada tugas setelah makan malam.

     "Jabar, sudah malam, Nak, waktunya tidur," ucap Ibu yang berdiri di bibir pintu bermaksud melihat anaknya.

     "Iya, Bu, sebentar lagi," jawab Jabar tanpa menoleh ke arah Ibu.

     "Besok lagi kalau ada tugas, dikerjakan siang, ya. Kasihan tuh matamu, jadi merah," saran Ibu kemudian meninggalkan kamar Jabar, setelah melihat anaknya mengangguk.

     Suasana semakin sepi, hanya terdengar suara detik jam pada dinding dan suara jangkrik dari luar. Tiba-tiba Jabar mendengar suara tokek yang sangat nyaring.

     Tokek! Jabar langsung teringat ucapan Bagas, kata nenekku kalau dengar suara tokek malam-malam, terus suaranya berjumlah ganjil, berarti ada hantu gak jauh dari situ. Jabar langsung mengangkat jari telunjuknya. "Satu ...."

     Tokek! Jari tengahnya ikut terangkat. "Dua ...."

     Tokek! Jabar sudah melupakan soal-soal di meja, justru fokus pada suara tokek. "Tiga," ujarnya sambil mengangkat jari manis.

     Tokek! Pikiran Jabar mulai ke mana-mana. "Empat ...." Jari kelingkingnya terangkat.

     Tokek! "Lima," ucap anak laki-laki itu yang mulai berkeringat, ia sudah membuka kelima jarinya. Jabar menunggu suara tokek selanjutnya, tapi tidak terdengar juga. Ia sampai mencoba menajamkan pendengarannya, tetap tidak muncul suara ke enam yang berarti suara tokek berjumlah ganjil.

     Gruduk-duk-duk! Suara gaduh justru muncul dari plafon kamarnya, membuat Jabar lari terbirit-birit. Ia berteriak memanggil ibunya. "Bu ...! Tolong!"

     Orangtua Jabar langsung keluar kamar, memastikan keadaan putranya. Seketika Jabar langsung memeluk ibunya. "Ada apa, Bar?" tanya Ibu yang ikut cemas.

     "Ada hantu di kamarku, Bu!" ucap Jabar ketakutan.

     Ayah dan Ibu pun menuntun anaknya untuk mengecek. Begitu sampai di kamar Jabar, ada seekor kucing yang melongok dari lubang di sudut plafon kamar. Meong!

     "Hahaha!" Jabar justru merasa geli sendiri. Ternyata suara gaduh itu berasal dari kucingnya yang berada di plafon. "Mpus, ngapain kamu di sana?" Meong, kucing itu justru mengeong.

     Ayah dan Ibu Jabar hanya bisa menghela napas. "Tidak ada hantu ya, Jabar."

     "Soalnya kata temenku, kalau dengar suara tokek berjumlah ganjil, berarti ada hantu," jelas Jabar.

     "Itu cuma mitos, Nak," ucap Ayah, "lagian kamu ngapain ngitungi suara tokek? Emang tugasnya sudah selesai?"

     Jabar menggeleng.

     "Hahaha...." Ibu, dan Ayah justru terbahak melihat tingkah anaknya. Sedangkan Jabar merasa malu sudah berlari ketakutan hanya karena seekor kucing. Akhirnya Jabar ditemani menyelesaikan tugas oleh orangtuanya sampai selesai, kemudian ia tidur bersama kucing kesayangannya. []

------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerita AnakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang