01 | istirahat sejenak

1.3K 218 52
                                        

halo!

sudah siap?

happy reading!

***

"I didn't do that."

Jiwa menyandarkan punggungnya di sandaran kursi seakan dirinya sedang berada di situasi santai, bukan di tengah hujaman tatapan tajam dari para petinggi di agensi yang telah menaunginya selama 5 tahun terakhir.

"Jiwa, teman kamu yang mengaku sebagai korban juga menggunggah bukti kekerasan yang kamu lakukan—"

"It was a fight." Jiwa menyela lantas mendengus ringan—terkesan meremehkan bahkan. "Bajingan itu juga mukul gue. Dan memang hanya dia yang punya bukti kekerasan itu karena well, gue nggak babak belur. Kelihatan, kan, siapa yang lebih lemah?"

"JI—" Hani melotot, lantas buru-buru menurunkan nada suaranya sambil mencubit paha Jiwa, tak habis pikir dengan kelakuan artisnya itu yang chill abis berasa lagi liburan di Bali. Jiwa meringis kesakitan, menoleh tak terima ke arah Hani yang sedang mengumpatinya tanpa suara.

Kalau saja mereka tidak sedang dalam situasi yang serius, Hani benar-benar akan menerkam Jiwa dan berteriak, "OTAK LO DIPAKE, COKKKKK!"

Namun kekacauan yang terjadi beberapa hari terakhir ini belum membuat Hani bisa mencapai level kegilaan untuk berani melakukan hal seperti itu.

"Kita tentu ada di pihak kamu, Jiwantara. Kita nggak akan mundur kalau dia memilih membawa kasus ini ke meja hijau. Belum ada bukti langsung yang menunjukkan kalau kamu yang melakukan kekerasan itu lima belas tahun lalu. Dan lagi, seperti yang kamu bilang, bisa saja itu hanyalah pertengkaran antara dua bocah laki-laki." Salah satu pihak perwakilan dari agensi angkat suara.

Hani tersenyum lega mendengarnya. "Saya juga sudah menghubungi pengacara—"

"Tapi di sini terlalu banyak nama baik yang dipertaruhkan." Senyum Hani seketika memudar. "Nama baik kamu. Nama baik agensi. Dan juga nama baik artis-artis lain yang dinaungi agensi ini kalau sampai media tahu kami tetap mempertahankan artis dengan track record yang... kurang baik."

"Let's get to the point." Jiwa tampak bosan, bikin Hani benar-benar harus mengontrol dirinya untuk tidak berteriak "JANCOK" di depan wajah cowok itu.

"Well, Jiwantara. Semua schedule sampai pertengahan tahun, termasuk tur dan perilisan album kamu, akan diundur."

Hani melebarkan mata. "Sampai kapan?!"

"Unspecified time." Jawaban yang sangat tidak diharapkan oleh Hani. "Semuanya akan tergantung oleh fakta yang terungkap nanti. Semuanya sedang berada dalam penyelidikan sekarang. Sekali lagi, kita tentu ada di pihak kamu, Jiwa. Tapi terlalu banyak hal yang dipertaruhkan untuk langsung mempercayai kamu begitu saja."

Jiwa tampak tak terkejut sama sekali. Bahkan sekilas, ada segaris senyum yang bermain di wajah pemuda itu. Seakan kabar yang baru saja didengarnya adalah kabar yang membahagiakan.

"Alright." Sesingkat itu jawaban Jiwa. Sementara di tempatnya, Hani seperti baru saja tersambar petir di siang bolong.

Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, pihak perwakilan agensi keluar dari ruang pertemuan, menyisakan Hani dan Jiwa yang duduk berdampingan dengan ekspresi yang sangat berbeda jauh meski baru saja mendengar kabar yang sama.

Keheningan itu bertahan tidak sampai dua puluh detik, karena sunyi lantas pecah saat Hani dengan sepenuh napsu menggeplak punggung Jiwa membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. "MBAK!"

Temu Jiwa [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang