hai haii haiii!!!
apa kabar semuanyaaaa??
terima kasihh untuk seluruh vote dan comment di chap sebelumnyaa
waduh udah 3 minggu yaa tidak bertemuuu hehe aku sempat aktif bentar di ig aja sieee
lagi lumayan sibuk, juga merasa mentalku sedang kurang baik, so i'm taking a break. so sooo grateful finally i feel better!
sudah siap untuk chapter inii?
targetnya 160 komentar yaaa!!
happy readingg!!
***
Jiwa memandang pada kopernya yang baru saja ia tutup, menghela nafas seraya menggeret benda tersebut keluar dari kamar dengan langkah yang terasa sangat berat. Di luar, Hani sudah menunggunya.
Jarum jam mulai meninggalkan angka 10. Jiwa tadi melewatkan sarapan meskipun Hani sudah sempat mengajaknya. Alih-alih makan, Jiwa memilih untuk melangkah menuju ke ruangan Jingga, berniat untuk menemui perempuan itu mungkin untuk kali terakhir, setidaknya dalam jangka waktu yang cukup lama.
Ketukan Jiwa di pintu tidak membuahkan jawaban. Ketika Jiwa hendak mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jingga, Jaka tanpa sengaja lewat dan memberitahu Jiwa kalau Jingga sudah pergi sejak pagi tadi, bahkan ketika matahari baru saja menampakkan dirinya. Jaka sendiri tidak tahu ke mana perginya perempuan itu saat Jiwa bertanya.
Ada yang patah di dalam dada Jiwa secara telak saat mengetahui bahwa Jingga justru pergi di hari terakhirnya menetap di Galar, seakan Jingga tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya di sini.
Sesuatu yang membuat Jiwa jadi bertanya-tanya; apakah ia sebenarnya penting bagi Jingga? Atau justru ia hanyalah sesuatu yang sepele yang bisa diabaikan dengan mudah oleh Jingga?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggema di tiap sudut kepala Jiwa, bahkan ketika ia sudah duduk bersisian dengan Hani yang duduk di kursi pengemudi. Sudah sepuluh menit lewat semenjak mereka bergerak meninggalkan Galar, yang artinya sudah sepuluh menit juga Jiwa yang biasanya memiliki celotehan tidak penting untuk memicu naiknya tekanan darah Hani kali ini hanya diam seraya memandang pada jendela di sebelahnya.
"Tinggal gue rekam udah bisa jadi music video baru lo ini." Hani menyindir Jiwa yang sedari tadi menatap ke luar dengan tatapan sendu.
"Diem deh, Mbak."
"Kenapa? Jadi nggak khusyuk galaunya?"
Jiwa berdecak. "Lo kira gue main-main ya, Mbak, sama Jingga?"
"Nggak juga. Justru karena gue tau kali ini lo serius makanya gue ngecengin lo. Gimana? Enak nggak galauin orang? Itu yang dulu cewek-cewek lo rasain tiap lo ghosting seenak udel lo."
Jiwa merengut sebal seraya menyugar rambutnya sebelum memasang topinya kembali.
"Gue sayang banget sama Jingga, Mbak."
"Udah lo chat belum?"
"Buat apa?"
"Ya buat nanyain kenapa dia cabut pas lo mau pamit lah, dodol." Hani jadi gemas sendiri.
Mendengarnya membuat Jiwa kembali membuang muka. "Kenapa gue harus tanya? Seharusnya dia udah tau kalau gue pasti pengen untuk ketemu dia sebelum gue balik ke Jakarta. Emang gue nggak penting aja buat dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Temu Jiwa [Completed]
RomanceBebas bertemu belenggu. Ribut bertemu sunyi. Ramai bertemu sepi. Banyak yang bilang bahwa dua sosok bertolak-belakang justru akan saling tarik-menarik layaknya magnet. Namun dalam realita, Jiwa dan Jingga adalah sepasang manusia yang punya kemampuan...
![Temu Jiwa [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/275217581-64-k809385.jpg)