- II -

787 86 20
                                    

"Sama mama aja ya nak" Ujar Shafa menolak permintaan anak nya. Jujur saja Shafa takut jika anak nya terlalu dekat dengan madu nya itu akan berbahaya untuknya.

"Ley mau tidul sama onty"

Pastinya kalian sudah pernah mendengar peribahasa 'buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya' dan seperti inilah contohnya. Sifat keras kepala Aldebaran menurun pada putra nya.

"Nak dengerin mama, tidur sama papa sama mama aja ya" Shafa terus mencoba membujuk Reyhan tapi ah sudahlah...
"Enggak"

Wajah nya sudah memerah, matanya berkaca kaca menandakan ia akan menangis. Melihat putra nya yang akan menangis, Al tak tega dan langsung menenangkan Rey.

"Udah ya Rey, ya udah malam ini Rey bobok nya sama onty Andin ya"

Aldebaran menoleh ke arah Andin. Merasa sangat heran mengapa ikatan keduanya begitu kuat padahal tidak ada hubungan darah antara keduanya. Jika saja Aldebaran ingat jika Andin juga istrinya mungkin Aldebaran akan lebih merasa kagum terhadap Andin yang mana kebanyakan orang tidak bisa menerima anak dari madu nya, tapi tidak dengan Andin yang mau menerima Rey. Aldebaran berdoa semoga kelak Andin akan mendapatkan jodoh yang terbaik. Sungguh beruntung yang akan mendapatkan Andin nanti nya, pikir Al.

Aldebaran tak bisa berbohong, ia akui jika Andin benar benar berbeda dari istrinya itu, bisa dikatakan Andin itu tipe istri idaman para kaum adam. Andai saja bisa rasanya Aldebaran menginginkan Andin bertukar posisi dengan Shafa, pasti akan sangat membahagiakan. Tapi menurut nya tidak akan bisa. Shafa ya Shafa dan Andin ya Andin, mereka dua orang yang berbeda dengan karakter dan kepribadian yang pastinya berbeda, tidak bisa ia sama ratakan.

Istrinya itu benar benar jauh dari kata idaman, oke mungkin dari segi fisik ia memang banyak diidamkan oleh kaum adam tapi kebiasaan nya benar benar menyebalkan. Sehari hari ia hanya berbelanja menghabiskan uang Aldebaran, keluyuran sampai malam, bangun siang, tak bisa memasak, tak bisa mengurus rumah dan juga mengurus anak nya. Untuk soal mengurus, mungkin ia hanya bisa mengurus dirinya sendiri dan juga 'adik' suaminya ( ya kalian ngerti lah ya ).

"Benelan pa?" Bocah itu langsung turun dari kursi dan berloncatan di lantai. Sebegitu senang nya kah?
"Iya nak"

"Makasih pa" didikan Andin memang benar benar bagus. Sejak kecil Rey sudah diurus oleh Andin hingga sekarang, hampir satu tahun Andin mengasuh Rey dan anak itu tumbuh menjadi anak yang pintar dan walaupun ia masih kecil, ia sudah tahu beberapa tata krama seperti mengucapkan terimakasih saat dibantu atau keadaan lainnya dan itu semua didikan dari Andin. Bahkan Andin juga sesekali mengajarkan kepada Rey sholat, mengaji dan hal hal yang berbau agama.

"Ayo onty" Rey menarik tangan Andin sampai sampai membuat Andin hampir jatuh.

"Saya permisi dulu pak, bu"

"Seharusnya dia mau loh nurut sama kamu"
"Ya gimana lagi"
"Kamu itu seharusnya yang urus dia dari kecil bukannya Andin, Andin bukan ibu nya, dia disini cuma pembantu"
"Ya biarin aja sayang, dia pembantu merangkap sebagai baby sitter"
"Untung yang ngasuh nya Andin, kalau yang lain saya agak ragu attitude nya Rey bakal gitu"
"Udahlah sayang ngapain bahas itu, mending kita buat adik nya Rey aja"
"Ngurus Rey aja kamu gak bisa terus ngapain mau kasih Rey adik"
"Ya gpp biar dia ada temen aja"

"Ayo" Shafa menarik tangan Aldebaran sedangkan Aldebaran hanya menurut. Sepertinya dia salah memilih istri, tapi sudah terlanjur juga bukan?

***

"Rey kalau udah besar harus jadi anak pinter ya sayang, harus jadi anak baik, patuh sama yang lebih tua, gak boleh melawan, sayang juga yang lain. Rey itu laki laki harus bertanggung jawab gak boleh jadi orang pengecut. Rey juga harus mandiri dan gak bergantung sama orang lain. Jangan pernah berharap lebih sama orang lain karena percuma berharap dengan manusia karena hal itu hanya akan menyakitkan hati kita. Rey harus rajin sholat, rajin ngaji, hafalin al qur'an biar nanti di akhirat bisa ngasih mahkota khusus untuk mama sama papa Rey, oke nak?" Andin sendiri tak tahu apakah semua itu akan di mengerti oleh anak seusia Rey, tetapi setidaknya jika di ingatkan seperti ini dan juga di praktekkan lama lama juga Rey akan terbiasa dan akan menjadi anak yang good attitude, bukan hanya good looking saja.

"Ley ngantuk" Ujar nya lemas mungkin sudah mengantuk.
"Ya udah kalau gitu sebelum tidur ngapain?"
"Baca doa"

"Bismika allaahumma ahyaa wa bismika aamuut"

"Ya udah sekarang Rey bobo ya"
"Mau peluk" Pinta Rey dengan manjanya. Manjanya persis seperti Al dulu sebelum mengalami kecelakaan. Andin merentangkan tangannya lalu memeluk Rey sembari mengelus lembut rambut anak tiri nya itu.

"Rey bobo ya" tak lama itu Rey malah melepaskan pelukannya.

"Kenapa?"
"Onty, mama gak sayang ya sama aku?"

"Kenapa ngomong nya gitu hmmm?" Rey menggeleng lalu kembali memeluk Andin. Andin yakin pasti ada yang tidak beres.

"Ya udah bobok ya sayang, besok kita bangun pagi shalat subuh"

Sebenarnya Andin tak memaksa jika Rey tidak mau shalat subuh, hanya saja Andin ingin Rey terbiasa sejak kecil. Bukan kah itu hal yang bagus?

"Allahu Akbar Allahu Akbar"

Begitu terdengar suara adzan, Rey terbangun dan segera mengambil air wudhu. Dengan setelan baju koko dan sarung tak lupa juga peci, Rey melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan Andin.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"

Setelah shalat mereka juga tak lupa untuk berdzikir dan berdoa, walaupun belum hafal, Rey tetap mengikuti apa yang Andin ucapkan.

"Aamiin"

Andin berbalik menghadap ke arah Reyhan
"Kalau onty boleh tau memang nya tadi Rey doa apa sama Allah, kok kayaknya onty liat serius banget"

"Ley doa supaya mama bisa sama kayak onty" Jawab Rey yang cadel dengan polosnya. Andin tersenyum lalu mengaminkan doa Rey. Ia juga berharap seperti itu, kasian Rey yang kurang mendapatkan kasih sayang dari mamanya. Hanya kurang saja, salah jika dibilang tidak mendapat kasih sayang sama sekali karena kenyataannya sesekali Shafa memberikan kasih sayang pada anak kandungnya sendiri.

"Kalau onty doa apa sama Allah?"
"Onty berdoa sama Allah agar ingatan papa kamu cepat pulih nak, ini sudah hampir dua tahun dan apakah papa mu itu masih tidak mengingat onty?" Jawab Andin dalam hati, tak mungkin jika ia katakan itu pada Rey.

"Rahasia"

"Aaaa onty mah gak selu"
"Ssssttt udah yok mending kamu tidur aja kalau masih ngantuk, onty mau keluar dulu mau masak buat sarapan"
"Kok onty yang buat makanan bukannya biasanya miss Kiki?"
"Miss Kiki nya lagi sakit sayang makanya onty yang bikin ya"

"Ley mau ikut boleh?" Andin bimbang, di satu sisi ia dapat melihat dari mata Rey yang sangat berharap akan ikut memasak bersamanya, tapi disisi lain ia takut jika Al atau Shafa akan marah.

"Ya udah ayo"

Andin memilih untuk mengizinkan Rey ikut memasak bersamanya dengan syarat Rey tidak boleh memegang benda benda berbahaya, tidak dekat dekat dengan kompor dan hanya duduk mantap melihat Andin memasak. Awalnya Rey menolak syarat syarat tersebut tetapi daripada ia bosan akhirnya menyetujui syarat syarat nya. Tak apa lah, Andin tidak takut jika nantinya Al ataupun Shafa memarahinya karena Rey ikut memasak bersama nya.

"Kita mau buat apa hari ini?"
"Gimana kalau es klim?"
"Itu mah mau nya Rey, kita kan mau buat sarapan, masa' iya nanti papa mama nya Rey sarapannya es krim" Rey tertawa mendengar jawaban Andin. Melihat itu Andin ikut senang melihat Rey senang.

"Ya udah kita buat pancake aja, Rey suka pancake kan?"
"Suka" Jawabnya dengan wajah yang sangat imut.

Andin mulai mempersiapkan bahan bahan untuk membuat pancake dan mulai mengeksekusi semua bahan. Rey ia dudukkan tak jauh dari ia memasak tetapi masih di area dapur. Sesekali Rey mendekat dan ikut membantu Andin yang pastinya dengan pengawasan ketat dari Andin.

"Ih onty muka nya kayak hantu"
"Ah masa' sih?" Andin melihat layar hp nya dan ternyata benar beberapa titik di muka nya sudah putih karena tepung terigu yang sudah Rey colekkan ke mukanya.

"Iihhhhh Rey mah" Ujar Andin mengambek layaknya anak kecil.
"Onty kayak anak kecil"
"Kan yang kecil itu kamu, kok jadi onty sih?"
"Iya onty lucu kayak badut"

Di tengah asiknya mereka, seseorang memperhatikan keduanya dari balik pintu. Bibirnya mengulas senyum melihat kedekatan keduanya. Tak mau ketinggalan momen langka ini, ia mengambil handphone nya lalu mengambil beberapa foto untuk dijadikan kenangan.

V O T E ! !

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 11, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Power Of Love Ft. AladinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang