Sebagaimana langit yang senantiasa menghadirkan warna Jingga di kala perpindahan waktu, seperti itu pula perasaan Alkana terhadap bumi yang di pijaknya. Selalu tumbuh di saat waktu yang terbilang lengang, meskipun riuh sekali pikirannya akan kehidupan tentang apa sebenernya maksud Tuhan menciptakan kepergian pada setiap makhluk yang telah Ia ciptakan.
Sempat Alkana bertanya, dalam sujud dan doa yang sering ia langitkan dalam keadaan tangan menengadah ke atas. Begini, katanya:"Wahai yang maha membolak-balikkan waktu dan keadaan. Bisakah kupinjam sebentar sebuah anugerah yang kau sebut karunia itu? Aku ingin tahu, alasan terkuat mengapa Ayah meninggalkan Ibu dan aku sendirian. Tanpa berpikir bagaimana keadaan masa yang akan datang seperti sekarang. Pertemukan aku dengannya, satu kali saja. Aku hanya ingin bertanya, sungguh. Hanya itu. Tidak akan ada lagi yang ingin kusampaikan setelah perasaan itu mendarat dan lepas dari belenggu buruknya iblis yang bersemayam di pikiranku. Yang sering kali meracuniku untuk membenci dunia, yang tidak pernah membiarkanku hidup tenang dengan hal-hal yang ada dan tercipta.
Selepas itu, Kau bebas membawaku ke mana pun, Tuhan. Bahkan jika perlu dan boleh menawar, aku ingin menyusul Ibu. Aku ingin bersama beliau selamanya, di sana. Di tempat yang katanya indah itu."Di tengah-tengah doanya, ia sering menitihkan air mata. Tak jarang pula isak tangis mengiringi kesakitannya. Siapa sangka seorang lelaki yang tidak memiliki apa-apa, tidak tahu tentang bagaimana cara bekerja semesta, bisa hidup sampai menginjak umur 17 tahun lamanya. Bukankah suatu keajaiban yang terbilang sangat langka?
***
Kali ini, cuaca Jakarta mendung. Awan-awan yang tadinya putih bersih bak mutiara, memunculkan gelam yang diselubungkan langit.
Alkana mengeluh, sebab, ia takut petir. Ia takut gemuruh yang dibalut suara bising yang tak jelas alunan melodinya itu. Menurut Alkana, suara petir itu tak jauh buruk seperti puisi tanpa narasi."Kalau sampai petir terus-menerus turun ke bumi, aku akan membenci dunia ini."
Begitu, ucap Alkana dengan ketus satu waktu. Tiap kali langit memancarkan kemurungannya, memberi pertanda dengan gemuruh yang bersorai bahwa hujan akan datang setelah semua kila-kila itu sampai.
"Kana!"
Dari kejauhan, terdengar seru suara perempuan. Ya, itu Nameera. Ia sedang berjalan sedikit cepat untuk menghampiri Alkana yang telah menunggunya di gerbang Sekolah sedari tadi. Mereka berdua berbeda kelas, dan pada hari ini, kelas Alkana pulang lebih dulu.
Memang sudah menjadi kebiasaan pula bagi Pria itu untuk menunggu Gadis kecil yang sering menguntilnya jika ia pulang lebih dulu. Seolah kewajibannya setelah beribadah, adalah menjaga dan menunggu Nameera."Kamu bawa jas hujan, nggak, Ra? Aku lupa menyiapkan kemarin malam."
Setelah saling berhadapan, Alkana mendaratkan pertanyaan pada Nameera.
"Bawa, tapi cuma satu. Buat aku sendiri aja, gimana dong?"
"Syukurlah.. gak pa-pa, yang terpenting kamu dulu aja."
Jawab Alkana dengan teduh.
Nameera tersenyum saat Alkana menyampaikan pernyataan yang membuat hatinya tenang layaknya lautan.
"Lagipula, kamu nggak akan pernah inisiatif bawa cadangan kayak aku."
Baru saja hati Nameera dibuat tenang oleh pernyataan Alkana, tentang sebuah ekspresi kepedulian yang tidak ditunjukan secara langsung. Tetapi, dipatahkan begitu saja saat Pria itu hendak menaiki motor miliknya dengan gelagat tengil untuk membuat Gadis itu kesal.
"Ih! Kana!"
Ketus Nameera dengan nada kesal seraya memukul pundak Alkana.
Dan rencana Pria itu, berhasil. Karena Gadis yang baru saja ia khawatirkan secara sadar, mengekspresikan kekesalan lewat tingkah lakunya.
Lalu karena merasa senang, ia tertawa puas seraya menghidupkan motornya dan pergi dari parkiran sekolah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Embun
Romance"Ketika mentari menyapa, aku tak mampu untuk tetap ada. Aku, lenyap." Baginya, kehilangan adalah sebuah hal paling misterius dalam kehidupan. Sebab semasa hidup, ia tak pernah diberikan jawaban tentang pertanyaan bagaimana terjadinya kepergian. Yang...