Jimin
Panggilan pekerjaan yang mengantarkannya sampai ke Denpasar jadi membuat Jimin kalang kabut mencari dimana kiranya bisa menemukan kos-kosan yang mudah dijankau dengan harga bersahabat. Mulai dari yang mewah tapi kosongan, sampai yang berisi tapi penuh dengan lingkungan yang tidak memungkinkan. Selain keterbatasan biaya, Jimin juga harus memikirkan tempat dimana ia bisa mengisi perutnya setiap hari. Kalau terlalu jauh dengan tempat makan, ia bisa kena masalah baru.
"Sudah dapat, kan, kosnya? Kalau belum, menginap saja di rumah temanmu yang Hoseok-Hoseok itu." Ibunya datang dengan banyak tas yang hendak diangkut oleh mobil travel menuju bandara. "Kan, tidak jauh kalau dari tempat kamu kerja, nanti."
"Sudah dapat, kok, bu," jawab Jimin.
"Ya, sudah. Berangkat, kan, sebentar lagi? Jam berapa?"
"Jam delapan."
"Hati-hati di jalan." Pelukan hangat dari sang ibu mengantarkan aroma serupa kembang sedap malam. Harum. Sayangnya harus bercampur dengan menyengatnya bau minyak kayu putih. Tertumpuk seperti baju di dalam lemari. "Jangan aneh-aneh kalau sudah di Bali."
"Iya, bu." Jimin mengangguk. Cuma itu yang bisa ia janjikan. Jauh dari rumah berarti ia harus meninggalkan trauma yang menghantui setiap tidurnya. Meski nantinya ia bakal kesusahan untuk mempercayai orang baru, biarlah itu menjadi rahasia besar. Tugasnya cukup bersosisalisasi seperti manusia pada umumnya. Antara percaya atau tidak, itu urusan belakangan.
...
Ini bukan kali pertama ia bertemu dengan wajah yang tengah menunggunya di depan pintu kayu kos yang kosong. Tidak ada yang berubah. Cuma sedikit lebih dewasa dan bermutasi menjadi pemuda yang rupawan. Jimin terlampau kenal dengan kawan semasa kecilnya yang hampir selalu berakhir dengan luka-luka kecil tergores akibat memanjat pohon. Apa saja. Hoseok punya kebiasaan aneh, memang.
"Lama menunggu, bli?" Jimin sapa lelaki berkaos santai dan celana pantai itu. Membuat atensinya dari benda kotak pintar di genggaman jadi teralihkan. Bertemu dengan Jimin yang masih menjinjing satu tas ransel dan satu koper yang masih ia dorong pelan-pelan mendekat. "Susah sekali mendapat gojek di sekitaran bandara, Hoseok. Kamu tidak pernah bilang itu."
"Naik apa kamu kemari?" Cekatan kedua lengan itu bergerak. Memindah barang yang awalnya masih membeban pada Jimin, beralih pada tubuh Hoseok yang lebih tinggi. Pemuda itu masih punya sikap tsundere yang mau-mau tapi malu. Benar-benar tidak berubah sama sekali. "Salah kamu sendiri tidak tanya. Kan, aku sudah tawarkan buat aku jemput. Tapi kamu bilangnya tidak usah karena takut merepotkan."
"Ramahlah ke turis walaupun cuma turis lokal, Hoseok."
Tubuh Hoseok berbalik. Ia yang semula hendak meletakkan tas ransel ke atas kasur kosong jadi kembali berjalan dan menghadap Jimin seolah menghardik. "Kalau aku tidak ramah, kamu ndak bakal dapat kos-kosan murah di Denpasar, Jim."
"Sabar," kata Jimin. "Aku baru datang dan kamu sudah marah-marah. Apa kantormu sedang chaos lagi?" Ia duduk dan merunduk untuk melepas sepasang sepatu yang dikenakannya mulai keluar dari rumah, masuk mobil travel, naik pesawat, sampai mendarat di pulau yang lain. Melangkah cekatan untuk bisa sampai ke kamar mandi guna membasuh kaki dan tangan. "Aku tidak mau membayangkan sepusing apa jadi animator seperti kamu."
"Aku doakan kamu berjodoh sama animator."
"Tidak apa-apa. Tapi kalau jadi salah satunya, kayaknya aku tidak bakal kuat."
"Masih minum obat?" Dari segala pertanyaan yang harusnya diajukan, Hoseok justru langsung menyentil tombol sensitif yang Jimin punya. Dari segala hal yang membuatnya tersinggung, kenapa pula harus yang paling parah. "Aku punya kenalan psikiater disini, kalau kamu mau. Orangnya baik dan ndak judgemental. Itu, kan, yang ke(kamu) cari?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Dewananda
Fanfiction[ ON REVISION WITH ADDITION SCENE ] : KookMin Indonesian's Mythology: Legenda Naga Basuki Ia tidak pernah menanti sebuah ampunan yang datang dari Sang Hyang Widhi. Biarlah nanti ia menerangi jalannya sendiri. Tapi mengapa sosok itu datang dan membua...