Jeongguk
Ia tersiksa di bulan Maret, April, dan Mei. Darah reptil yang mengendap di dalam badan, mengijinkan Jeongguk merasakan apa yang namanya gejolak ingin dikawinkan. Tapi otaknya menolak siapa saja yang masuk ke dalam kamar. Baik pertolongan, atau sekadar ditenangkan. Sudah empat kali Jeongguk bolak-balik kamar mandi. Memuntahkan saliva yang terlampau banyak dari dalam mulut. Dalam wujudnya yang manusia, menikah seperti seekor naga masih berpengaruh. Naga memuntahkan saliva guna membuahi naga yang lain. Bedanya Jeongguk, ia tidak diperbolehkan mengambil wujud reptil raksasa itu untuk sementara. Ia belum lagi diijinkan untuk kembali ke Gunung Agung, pura Besakih.
"Jeongguk, mbok bisa bantu apa?" Taeyeon setengah berteriak dari luar kamar. Tangannya kedengaran menggedor pintu beberapa kali untuk memastikan bahwa Jeongguk dengar.
"Tidak apa-apa, mbok." Tubuh Jeongguk lemas. Ia duduk di samping kloset yang kering. Sudah disirap pakai air lagi kalau ia muntah kesekian kalinya. "Minta air saja," katanya kemudian.
"Mbok tidak tahu dimana harus cari naga perempuan." Taeyeon kedengaran seperti orang hendak menangis.
"Memang tidak ada." Jeongguk terkekeh. "Naga Basuki lahir saja sudah random sekali."
"Hush! Jangan begitu," ujar Taeyeon, "mbok bawakan air, sebentar."
Jeongguk manggut-manggut mengerti meski tahu kalau Taeyeon tidak bisa melihat reaksinya. Ia merangkak dan beranjak pelan-pelan mendekat ke kasur. Sudah satu minggu ini perutnya seperti diaduk-aduk. Tidak ada obat yang bisa menanggulangi hasrat hewaniah yang lahir bersama dengannya. Daripada menolak, lebih baik menyerah saja dan terima apa adanya. Jeongguk sudah pasrah sejak dulu. Meski awalnya menolak mentah-mentah, ia harus beradaptasi juga dengan dirinya sendiri. Pada akhirnya, Naga Basuki tetaplah yang jadi pemenangnya.
Derap langkah bisa Jeongguk dengar mendekat. "Bli, aku taruh di depan pintu, ya." Suara gek Sana menyapa pendengaran. "Kalau sudah baikan, bli cepat ke bawah ya. Mbok Taeyeon khawatir sekali."
"Iya, gek." Jeongguk menjawab lemah. Tubuhnya sudah terkapar di atas kasur. Ia pandangi langit-langit kamar yang punya warna putih bersih. Satu lampu dinyalakan sebagai penerang ruangan. Setengah mati ia ratapi nasibnya yang masuk musim kawin. Hampir selalu begini. Tidak da wadah yang bisa menampungnya di dunia ini. Dan tidak akan pernah ada. Makhluk sepertinya dianggap mitologi belaka. Mereka tidak pernah tahu betapa susah dan frustrasi Jeongguk menghadapi reaksi tubuh yang berlebihan. Mungkin repot ini yang dirasakan perempuan ketika sedang haid.
Ia bangkit pelan-pelan. Mengambil daging mangga yang sudah dipotong jadi beberapa bagian. Jeongguk tidak sengaja bertemu dengan pemuda aneh, kemarin. Laki-laki yang bisa tahu kapan masa matang buah yang dimakan. Mungkin juga bisa tahu kadaluarsa makanan. Entahlah.
Rasa manis menyambangi indra pengecapnya. Lumayan bisa menetralisir sensasi asam yang dirasa lidah. Jeongguk kecap beberapa kali dan ditelan. Rasanya seperti baru saja mencelupkan diri ke dalam air setelah sekian lama berada di padang pasir. Segar betul.
Setelah membasuh peluh dan mandi, Jeongguk tarik sisa-sisa kulit yang terkelupas dari atas lengan. Dibuang di tempat sampah. Ia tidak boleh selamanya bergelung dengan kasur. Wujudnya juga berupa manusia. Bukan seutuhnya reptil. Tidak seharusnya Jeongguk terlalu terpengaruh dengan keadaan yang ada.
"Gek Tzuyu," panggilnya pada salah satu dari dua anak Taeyeon yang paling besar. "Minta tolong siapkan makan, ya. Aku mau makan sama-sama."
"Bli Jeongguk." Pintu kamar terbuka dan Tzuyu segera menutup hidung. "Amis," katanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dewananda
Fanfiction[ ON REVISION WITH ADDITION SCENE ] : KookMin Indonesian's Mythology: Legenda Naga Basuki Ia tidak pernah menanti sebuah ampunan yang datang dari Sang Hyang Widhi. Biarlah nanti ia menerangi jalannya sendiri. Tapi mengapa sosok itu datang dan membua...