"Bagaimana bisa?" Wei WuXian mengambil benda ditangan Jiang Cheng mengamati sebentar dan memberikannya lagi ke Jiang Cheng, "Kau yakin ini benar benar Zidian?"
Jiang Cheng masih tidak bisa berkata kata. Zidian mengenalinya. Dia mengayunkan tangannya ke salah satu objek di area latihan, menghasilkan kekuatan yang lebih kuat dari biasanya. Dia berbalik menatap Wei WuXian, mengangguk tanpa ragu.
Zidian yang dibawa anak kecil itu adalah Zidian yang sama dengan yang ibunya wariskan padanya. Bagaimanapun mereka mencoba berpikir logis, dua Zidian identik ditangan mengalahkan pikiran dan akal sehatnya.
"jadi... A-Sean," Jiang YanLi mulai menyimpulkan hal yang sedang terjadi.
Wei WuXian merasa darah terkuras habis dari tubuhnya. Jujur saja meskipun dia dan Jiang Cheng sudah memperkirakan hal ini, namun dari semua kemungkinan yang ada, fakta yang dihadapinya sekarang ada dalam daftar terakhir.
Tidak satupun dari mereka membuka pembicaraan. Keheningan mengisi ruangan sampai beberapa saat kemudian seseorang membuka pintu dengan kasar dan tergesa gesa menghampiri ketiganya.
"Jiang-Zongzhu, saya mendengar suara tangisan di kamar Jiang gu'niang. Saya tidak-"
Shidi mereka belum menyelesaikan kalimatnya, Wei WuXian langsung bergegas diikuti Jiang Cheng dan Jiang YanLi. Dan benar saja, dalam jarak beberapa meter dari kamar yang dituju terdengar tangisan Sean memanggil papanya. Wei WuXian terdiam didepan pintu, tadi begitu mendengar Sean menangis dirinya langsung pergi tanpa berpikir. Sekarang baru tersadar, setelah kebenaran sudah ada di depan mata, apakah siap untuk bertemu Sean? bertemu dengan anaknya dari masa depan?
Dia menutup matanya, menghela nafas berat.
"Kau mau masuk tidak?" Tanya Jiang Cheng kesal.
Wei WuXian membuka mata, menyadari posisinya berdiri didepan pintu menghalangi dua orang dibelakangnya. Dia segera membuka pintu, kemudian bergeser kesamping. Jiang YanLi menatapnya, menggelengkan kepala sebelum masuk ke dalam. Wei WuXian masih ragu ragu untuk masuk kedalam.
"Papa..."
Suara isak tangis disertai ratapan memanggil itu memberikan perasaan aneh didadanya. Mengikuti kata hatinya, dia melangkah masuk bahkan sebelum otaknya bisa mencerna perasaannya.
"A-Sean," Panggilnya lembut. Dia menghampiri Shijienya yang tampak kerepotan menenangkan Sean.
"Papa. Papaaa..." Tangisannya terhenti seketika melihat siapa yang mendekat.
Wei WuXian mengusap sisa air mata di wajah Sean dan mengangkat anak itu kedalam gendongan, berjalan membawanya keluar kamar.
"Papa disini, kenapa A-Sean menangis?"
"Papa tidak ada. Aku takut."
"Papa hanya pergi sebentar. Tidak akan ada yang menyakitimu okay? Kau aman disini. ,"
"Kita tidak akan kembali ke tempat gelap lagi?"
Langkahnya terhenti, begitupun langkah dua orang dibelakang yang mengikutinya dari tadi. "Apa maksudnya tempat gelap?"
"Kita selalu disana setelah Cheng jiujiu pergi."
Jiang Cheng berpindah ke samping Wei WuXian, berpikir dengan cepat. Dia menunjuk halaman sekitar, "Kau ingat tempat ini?"
Sean menggeleng, Jiang Cheng kembali bertanya, "Kalian tidak tinggal di Yunmeng?"
Sean menatap Wei WuXian bingung, "Papa tinggal disana sebelum orang orang jahat mengambil rumah Jiujiu, aku tidak ingat."
"Aku pikir lebih baik kita berbicara di pavilliun tengah," Saran Jiang YanLi, kedua orang dewasa lainnya mengangguk setuju.
Sepanjang jalan, Sean menatap takjub kesekelilingnya. Wei WuXian sedikit heran melihat Sean tidak mengucapkan satu katapun, tampaknya anak itu hanya akan berbicara ketika ada yang bertanya atau mengajaknya berbicara.

KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Kau dan Aku, Tidak Perlu kata "Terimakasih" dan "Maaf"
FantasíaSekembalinya Wei WuXian setelah didorong oleh sekte Wen di LuanZhang, bersama Jiang Cheng berhasil membangun kembali sekte Yunmeng Jiang. Semua berjalan seperti biasa sampai beberapa saat setelah itu, anak kecil yang tidak diketahui identitasnya ent...