Mata Azura terbuka perlahan, berusaha menyerap cahaya mentari yang ditangkap oleh retina melalui kornea dan lensa mata. Tidak seperti biasanya, kali ini dia bangun lebih siang, matahari pun sudah keburu muncul.
Zura menyibakkan sedikit tirai jendela dekat kasurnya, membiarkan kamarnya menjadi lebih terang lalu kembali melemparkan badan ke kasur. Ia meraba wajahnya, terasa lengket karena air mata semalam.
Rasanya terlalu malas untuk segera bangkit dari kasur. Itu adalah tempat ternyaman sekaligus teraman baginya. Untuk apa buru-buru bangun kalau berdiam diri saja sudah menghabiskan energi dan pikiran?
Tangan Azura meraih handphone yang tergeletak di samping meja. Kosong. Tak ada notifikasi pesan masuk. Sunyi. Tak ada nada dering panggilan masuk juga. Ia mengecek semua akun media sosialnya satu per satu, terlihat momen-momen yang dibagikan teman dan orang lain. Tersenyum bahagia, tertawa, juga ada yang tersipu malu. Melihat itu, hatinya terasa panas, ada perasaan iri dalam dirinya.
Jari-jemarinya beralih menyentuh logo aplikasi berkirim pesan yang berwarna hijau. Sama saja. Tak ada pesan baru untuknya. Toh memang di dunia ini tak ada yang menghiraukannya ataupun mencarinya. Segera ia menuju setelan foto profil akun tersebut dan menghapus fotonya, sehingga yang tampak hanyalah siluet berlatar putih.
Azura melempar handphonenya asal, ia mendengus kesal. Sampai kapan ia akan merasa kesepian, sunyi, hampa tanpa siapapun yang dapat ia ajak bicara? Lagi-lagi perasaan ini membuat Azura menangis, merasa dirinya tak berguna, tak berharga, serta tak perlu ada di dunia ini. Ia ingin menyusul ibunya.
***
Semua barang telah tersusun rapi di dalam mobil pengangkut khusus pindahan. Ada ranjang, lemari, meja, kursi, dan perabotan rumah lainnya, terikat satu sama lain agar tak mudah goyang saat di perjalanan.
Tidak hanya satu mobil yang nanti akan berangkat, ada satu mobil lagi untuk membawa keperluan berkebun Riaz seperti rak tanaman, berbagai jenis pot, aneka pupuk dan vitamin tanaman, serta beberapa tanaman hias tak luput untuk diangkut.
Setelah semua siap, mobil yang ditumpangi Riaz segera berangkat menuju Perumahan Azalea, tempat tinggalnya yang baru. Meski kini ia meninggalkan tempat lamanya, tetapi kenangan di sana tetap melekat di ingatan Riaz.
Ia lalu mengalihkan pandangan ke arah kaca samping mobil, menikmati angin yang berembus sambil melihat jalanan yang beberapa tahun ini selalu ia lewati.
Beberapa jam di perjalanan jadi tak terasa, sebab ia habiskan dengan berbincang bersama sopir dan temannya. Mobil akhirnya berhenti di depan rumah berhalaman luas itu. Riaz tampak sumringah, wajahnya secerah langit di atas. Bergegas ia membuka pintu pagar, mempersilakan mobil masuk pekarangan rumah untuk mempermudah proses pemindahan barang.
Mobil bergerak mundur agar lebih efisien saat angkut-mengangkut barang.
"Terus, Mang, terus," seru Riaz memberi arahan pada sang sopir.
"Op, op," ucapnya, tanda mobil harus berhenti. "Saya buka pintu dulu ya, Mang," kata Riaz dibarengi dengan tangannya yang merogoh saku.
Cuaca pagi yang bersahabat membuat kegiatan melelahkan ini tidak begitu banyak mengeluarkan keringat. Riaz dibantu beberapa orang mengangkut semua perabotan termasuk perlengkapan berkebun yang lumayan banyak.
Setelah semua selesai dipindahkan ke rumah baru, mereka semua duduk lesehan di teras.
"Capek juga ya, Mang," ucap Riaz pada mereka. Ia lalu mengambil kantong hitam berisi beberapa botol air minum dan membagikan pada masing-masing orang.
"Waduh, makasih ya," ucap Mamang berbaju krem.
Pindahan hari ini berjalan lancar. Perjalanan yang tadinya di kira bakal memakan waktu lama rupanya tidak. Cuaca yang tadinya dipikir akan panas terik, nyatanya malah adem ayem. Alhamdulillah.
Riaz membuka jaket cokelat yang sedari tadi melapisi tubuhnya, kini ia telah bersedia untuk menata rumah seorang diri. Baju kaos oblong membuatnya nyaman untuk beraktivitas. Senyumnya sumringah, ada semangat dan harapan baru bagi Riaz di rumah ini.
***
Walaupun pagi ini telat bangun, tetapi Azura tetap melakukan kebiasaannya. Seusai mencuci wajahnya, ia langsung membuka pintu depan, duduk di kursi teras, mengambil posisi seperti hari-hari sebelumnya.
Suara hiruk-pikuk manusia pada jam segini mulai terdengar. Namun, tidak terasa di rumahnya yang tetap sunyi dan sepi. Azura kembali memainkan jari-jemarinya perlahan, mengetuk-ngetuk di atas meja seolah sedang menghitung waktu.
Seakan mendengar keluhannya, seketika gerombolan burung beterbangan di langit melewati atas rumah Azura, mereka seperti sedang menghiburnya. Saat itu juga, ia melihat mobil pembawa barang beriringan menuju rumah di sampingnya. Azura sedikit penasaran.
Sudah lama sejak rumah tetangganya itu kosong, tak pernah ada yang mengisinya kembali. Perasaannya campur aduk. Akankah keluarga Pak Endang kembali ke rumah itu? Iya berharap bisa berbincang lagi dengan anaknya yang sebaya dengan Azura. Ataukah itu warga baru? Ah, semoga tetangganya itu tidak membuatnya terganggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Bertaman
General FictionBerkisah tentang seorang gadis bernama Azura Fayra, yang kehilangan semangat hidupnya sejak ditinggal pergi oleh sosok bernama Ibu. Kenangan tentang Ibu selalu menghiasi hari-hari Azura, terlebih ketika melihat taman milik Ibunya yang kini tak terur...
