Chapter 1 || Nikmatnya Rasa Sakit

9 1 0
                                    

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, selamat datang di cerita kesekian kalinya aku. Semoga kalian suka  dan berkenan mengikuti sampai ending. Vote dan komen jika kalian suka sama ceritanya.

Note : Cerita ini hanya imajinasi author yang sengaja dirangkai melalui kata-kata, ambil baiknya dan buang buruknya.

Bismillahirrahmanirrahim ....

___________

Saat kamu merasa hidupmu tidak baik-baik saja, maka ketahuilah shalatmu lah yang tidak baik.
~DedeEndut~

Termenung di sebuah taman belakang sekolah, seorang gadis memakai seragam sekolah lengkap dibalut hoodie berwarna ungu seperti sedang menangis.

Rintihan itu terdengar menyayat hati. Dari arah toilet seseorang yang mendengar tangisan tersebut mencari asal suara.

'Kapan ini bakalan sembuh' batin gadis bibirnya bergetar, dengan tatapan kosong ke depan.

'Harus berapa banyak lagi gue cuci darah?'

'Mending gue mati kalau gini' Tangisan itu makin lama begitu berat didengar.

Didudukan bokongnya di samping gadis tersebut, lalu dia memberi setumpuk tisu yang sengaja dia ambil disaku roknya.

"Lap air matanya, kecantikan kamu jadi hilang karena tangisan itu," ujarnya tersenyum lebar.

Diputar kepalanya menghadap ke arah asal suara, lalu dia mengangkat pandangannya, "Ngapain kamu di sini? Kamu siapa?"

Gadis dengan hijab syar'i putih memegang telapak tangannya, lalu menggenggamnya, "Hana Salsabilah 11 MIPA-1."

"Kamu kenapa nangis di sini?" tanyanya, menaikan satu alisnya.

Gadis tersebut tidak menjawab, dia ingin beranjak pergi dari sana. Namun, lebih dulu ditahan oleh Hana.

"Athalia, duduk dulu!" perintah Hana menepuk-nepuk bangku disebelahnya. Hana memanggil itu usai melihat name tag di seragam sekolahnya.

"Aku gak ada maksud apa-apa, tadi kebetulan denger suara orang nangis. Jadi, aku cari asal suara itu dan ternyata kamu," akunya menjelaskan

Bukannya menjawab atau mengucapkan kata apapun, cairan bening mengalir derasnya tanpa suara, hingga dia kesusahan untuk bernapas.

Hana cukup mengelus punggungnya saja, tanpa berbicara sepatah katapun. Dia ingin membiarkan Athalia menangis sepuasnya.

"Aku capek, capek banget." Athalia dalam tangisnya begitu berat diucapkan.

"Minum obat, cuci darah, disuntik sana-sini, rasanya sakit banget!" rintih Athalia napasnya memburu.

Sorot matanya kosong, bibirnya bergetar, dan tubuhnya menghangat. Hana yang melihat kondisi Athalia justru menjadi panik, dia mencoba menenangkan.

"Lia, aku emang gak tau seberapa besar masalah kamu, seberapa banyak rasa sakit kamu, sesering apa kamu nangis, tapi yang aku tau kamu cewek kuat," tutur Hana pelan, memandang wajah sendu Athalia.

"Percaya deh, Allah itu maha baik dan pasti gak akan kasih cobaan diluar batasnya. Kalau ujian itu datangnya ke kamu, ya Allah percaya kamu bisa selesain ini semua," tutur Hana lemah lembut.

"Kamu pernah denger kata-kata ini gak?" Hana bertanya.

Rasa sakit bisa menjadi penghapus dosa-dosa bagi orang yang merasakannya, tetapi jika orang itu bersabar dengan penyakitnya. Sakit juga bisa membuat kita mengingat dengan Allah SWT, sebagimana kebanyakan orang memang selalu mengingat Allah SWT disaat kesusahan dan diberi cobaaa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 29, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Lilah untuk AllahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang