Beside You [Kunikida x Dazai]

238 10 2
                                        

Sesuatu menjalar di dalam hatinya sesaat seorang pria yang dia kenal termenung di tengah hijaunya rerumputan, badan bertulang tergeletak tak berkutik di bawahnya—dekat sungai jernih tempat mereka baru saja terhanyut. Kunikida kurang yakin dengan apa yang sedang ia lihat, kurang yakin apakah bercak pada kedua ujung mata pria berambut cokelat adalah hasil tangisan atau tetesan air yang jatuh membasahi mereka (Kunikida lebih ingin mempercayai asumsi kedua-

dia yang berpura-pura ignorant* terhadap itu semua), karena sungguh di luar karakter Dazai. Bengkak merah dan kantung hitam yang tampak jelas pada kulit pucat di sekitar kelopak matanya menjadi alasan kecurigaan.

Rekan-rekan kerja mereka secara bergantian menyelamatkan nyawa orang ini–bukan lagi sesuatu yang mencengangkan, bahkan sudah menjadi rutinitas keseharian mereka. Dazai sendiri tidak pernah menunjukkan alasan dia sangat mengharapkan kematian. Tidak ada tanda yang menunjukkan ke arah sana, sehingga sudah pasti orang-orang terdekatnya akan mengira dia hanya ingin mencari perhatian.

Kunikida pun sempat berpikiran sama, tapi mungkin — pemikiran tersebut muncul karena ketakutan untuk mengetahui kebenaran—cara menghadapi bukti nyata, bahwa realita tidak secantik ilusi yang semata kita tanam dalam benak.

Bertanya "Apakah kau baik-baik saja?" Terdengar bodoh di mulut Kunikida. Orang dari mana yang baik-baik saja setelah tenggelam dari dasar sungai, ditambah dia yang dari awal bertujuan untuk mengakhiri hidup, kegagalan pasti membuatnya murka.

Sepasang patung yang tidak mampu berkata-kata, tatapan saling tertukar di tengah keheningan canggung yang tidak bisa mereka putuskan. Apakah boleh bertanya mengapa dia menangis? Kemungkinan besar Kunikida akan ditertawai, harga dirinya tidak mau itu terjadi.

Satu kalimat kasar keluar dari mulut, tertuju untuk si pria berperban, "Dasar tolol!"

—terdengar natural bukan? Terdengar sesuai karakter 'Kunikida'. Kekhawatiran yang ditunjukkan secara langsung tanpa peringatan hanya akan membuat Dazai takut dan memperbaiki topeng yang ia kenakan. Sebagai rekan kerja pertama Dazai di ADA, Kunikida tahu dia lebih dari siapapun.

Dari hari mereka baru berkenalan, bekerja sama sebagai sepasang duo, hingga sampailah mereka ke titik samar ini. Tahun-tahun yang dilalui bersama seharusnya dapat menghapus garis penghalang antar mereka. Sebagai teman, bukankah bertukar rasa sakit, berbagi cerita, menanggung beban bersama, merupakan tindakan yang wajar? Atau sejak awal, Kunikida lah satu-satunya yang melihat hubungan mereka sudah melebihi label rekan belaka.

Seberapa menyebalkannya Dazai, seberapa banyak ia kehilangan kesabaran akibat tingkah laku kekanak-kanakannya, di dalam lubuk hati terdalam Kunikida — hari dimana Dazai benar-benar mati, merupakan hari dimana dia akan kehilangan orang berarti.

Pada buku idealisme-nya tercatat; setiap manusia berhak untuk hidup dan berbahagia, bahkan manusia seperti Dazai, Dazai Osamu. Kekosongan pada hati itu sulit dimengerti, Kunikida terlalu dangkal untuk bisa memahami lautan sedalam Dazai—dengan ini ia jadikan sebuah misi untuk menariknya keluar dari ombang-ambing ombak badai.

Bergeser dia untuk duduk di samping tubuh yang masih tergelimpang, memijat dahi yang mengkerut terlalu lama. Kacamata yang terselimuti air ia taruh kantung kemeja, "Sialan. Sudah berapa kali minggu ini?! Kamu pikir aku enggak punya pekerjaan lain?!"

Tidak biasanya Dazai membutuhkan waktu untuk menjawab, hitungan detik yang berlalu diam-diam terhitung di udara. Dazai si pandai berbicara tidak pernah tidak memiliki jawaban yang pas agar Kunikida bereaksi dengan emosi tertentu - tentu saja rasa kesal lebih sering muncul, menguras semua tenaga, Kunikida benci saat ini terjadi. Tetapi kali ini, anehnya, dia malah ingin Dazai membuatnya kesal, dia ingin merasakan andrenalin yang meningkat.

"Jangan ngerepotin dirimu sendiri buat nyelamatin aku kalau gitu. Toh, aku enggak minta. Kamu tahu sendiri."

Dimana ejekkan juga tawa memuakkan itu berada?

Pertanyaan yang lebih tepat;

Mengapa tindakan-tindakan Dazai yang sering menggiringnya ke ujung batas kewarasan sangat Kunikida butuhkan sekarang? Apakah dia seorang masochist?

Dazai ikut terduduk, rambut basah menutupi wajah, menyembunyikan ekpresi yang terpasang. "Aku tadi hampir mati loh! Aku bisa lihat gerbang menuju neraka! Cahayanya berkilau terang! Wah, sedikit lagi pasti aku bisa merasakan kematian!"

Tidak ada kata lain selain sinonim-sinonim kata 'bodoh' yang ingin Kunikida lontarkan. Bila Dazai mampu membaca isi hatinya, maka akan terlihat bahwa Kunikida selama ini membutuhkan dia di sisinya, untuk alasan-alasan konyol—salah satunya agar mengingatkan Kunikida pada idealisme yang dia sejak dulu tekunkan.

Sulit untuk diakui secara langsung, terutama karena sudah tak terhitung berapa kali Dazai mengetes pendirian itu, tapi Kunikida tersadar sesuatu berkatnya; membuat sedikit kesalahan pada jadwal dan moral yang tertulis bukan berarti dia telah melakukan tindakan kriminal dan/atau berdosa. Pada dasarnya, tuhan tidak menciptakan manusia untuk menjadi makhluk sempurna, namun manusia mengidolakan konsep kesempurnaan untuk bisa mencapai kebahagiaan hidup.

"Ayo, bangun." Ucap Kunikida setelah memutuskan untuk menunutup mulut, berdiri menghadap ke aliran sungai.

Terasa tatapan Dazai dari belakang pundaknya - menajam walau terabaikan. Kunikida belum terbiasa dengan Dazai yang sedikit mengerluarkan kata, umpama rumah kosong tanpa seorang penghuni — nyawa masih tertinggal di bawah sana — hanyut terbawa arus air ke tempat antah berantah.

Tersesat di tengah samudera luas demi mencarinya, menyelam pun tak masalah.

Kunikida sudah terlalu lelah menyaksikan kegelapan yang semakin melahapnya tiap hari berganti. "Dazai." Sebuah tangan penolong datang menjemput, memohon kepada dunia usahanya tidak berakhir sia-sia.

"Aku bilang, ayo."

"Kemana?"

"Kita pulang. Kamu bakal kena demam nanti."

'Pulang', tempat berteduh, berlindung, kata yang membuat sepasang manik gelap sekilas berkilau, menampakan kerinduan atas kenangan dari masa lalu. Tidak lama tangan berperban menggenggam miliknya, keraguan kecil terbaca di tengah gapaian. Kunikida mengambil kesempatan untuk menarik Dazai. Kaki yang belum berhasil berdiri dengan tegak hampir membuat Dazai terjatuh dan terseret.

Suara tawa merdu yang telah ditunggu-tunggu datang menghentikan kegelisahan, "Ahaha! Tumben Kunikida-kun seperhatian ini!"

"Hah?! Dari dulu kamu kira siapa yang ngurusin kamu?!"

Tuhan telah mendengarkan permohonan tak berdaya dari sang pengikut yang menginginkan kembalinya normalitas keseharian.

Berjalan secara berdampingan, lanunan tangan mengikat kedua pria bersama. Secara bergatian mereka bertukar kata dengan cara mereka masing-masing;

Ketika Dazai mengocehkan omong kosong, Kunikida mendengarkan.

Ketika Kunikida mengomelkan pendapat, Dazai menghiraukan.

Kunikida senang, mengetahui dia belum terlambat menyelamatkan kebahagiaan itu.

Kendati luas lautan tak berujung, Kunikida tidak berhenti mendayung, berusaha menemukan harta karun.

Apapun yang terjadi, dia tidak akan membiarkannya pergi.

————

Lupa mention kalau ff ini gk akan bisa selesai tanpa bantuan Wolf-Senpai😭 WildWolf0303

Until The World Crumbles Apart - BSD OneshotsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang