Genre : Melodrama, Young Adult, Mystery, Chicklit
Giselle, seorang siswi baru di SMA Harapan Bangsa, tak sengaja bertemu kembali dengan Lee Jeno, cinta pertamanya yang populer. Namun, kebahagiaan itu sirna saat ia mengetahui rahasia kelam keluarga:...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam itu, langit seolah ikut berduka. Gerimis tipis mulai membasahi aspal jalanan, menciptakan aroma tanah basah yang menyeruak masuk ke dalam sebuah bangunan tua di sudut gang sempit. Di sana, di sebuah ruangan yang mereka sebut basecamp, lampu neon yang berkedip redup menjadi satu-satunya saksi bisu kehancuran sebuah hubungan yang telah dibina selama bertahun-tahun.
Lee Jeno menyandarkan punggungnya pada sofa beludru yang sudah mulai menipis warnanya. Kepalanya tengadah, menatap langit-langit yang dipenuhi coretan grafiti dan poster band yang sudah mengelupas. Di tangannya, sebuah kaleng minuman dingin yang sudah tidak lagi dingin hanya digenggam, tanpa niat untuk diteguk. Pikirannya melayang jauh, kembali ke momen beberapa jam yang lalu di depan kedai bakso.
Bayangan wajah Nancy gadis yang tumbuh bersamanya sejak kecil, yang tahu setiap kebiasaan buruknya, yang selalu ada di setiap perayaan ulang tahunnya terus berputar seperti kaset rusak. Ia masih bisa merasakan getaran suara Nancy saat mengucapkan kata "putus". Ada luka yang begitu dalam di sana, dan Jeno tahu, dialah pemegang pisaunya.
"Jangan terus-terusan menatap langit-langit seperti itu, Jen. Plafonnya tidak akan memberikanmu jawaban," suara berat Jaemin memecah keheningan.
Jaemin duduk di kursi kayu di seberang Jeno, sibuk mengutak-atik senar gitarnya. Suara dentingan nada yang sumbang sesekali terdengar, menambah kesan melankolis di ruangan itu.
Jeno mengembuskan napas panjang, sebuah helaan yang terdengar sangat melelahkan. "Aku merasa seperti bajingan paling buruk di dunia ini, Jaem. Aku menyakitinya. Sangat dalam."
Jaemin menghentikan jemarinya. Ia menaruh gitarnya di samping meja, lalu menatap Jeno dengan tatapan serius yang jarang ia tunjukkan. "Mengakhiri sesuatu yang sudah tidak memiliki 'hati' di dalamnya bukan berarti kamu bajingan, Jen. Itu kejujuran. Menyakitkan memang, tapi jauh lebih baik daripada kamu memeluknya sambil memikirkan orang lain. Itu jauh lebih jahat."
Jeno menoleh, matanya terlihat sedikit merah, mungkin karena kurang tidur atau karena menahan emosi yang menyesak. "Tapi kenapa harus secepat ini? Kenapa perasaanku bisa berpindah begitu saja hanya karena satu kejadian konyol di koridor? Aku merasa tidak mengenal diriku sendiri."
Jaemin menyeringai tipis, sebuah seringai yang sulit diartikan. "Cinta tidak pernah meminta izin untuk datang, Jen. Kadang dia mengetuk pintu dengan sopan, tapi kadang dia mendobrak masuk tanpa permisi sampai rumahmu berantakan. Dan sepertinya, anak baru itu... Giselle... dia baru saja meruntuhkan dinding pertahananmu."
Mendengar nama itu, jantung Jeno berdegup sedikit lebih kencang, sebuah reaksi fisik yang tidak bisa ia kendalikan. "Aku tidak tahu apa yang istimewa darinya. Kami bahkan baru bicara sebentar. Tapi sejak tabrakan itu, setiap kali aku menutup mata, yang kulihat adalah ekspresi paniknya saat memungut buku Kimia itu. Dan senyumnya... senyumnya seolah-olah menjadi melodi yang terus terngiang di kepalaku."
Jeno meraih ponselnya, ibu jarinya ragu-ragu di atas layar. Ia ingin mengirim pesan, ingin memastikan apakah gadis itu baik-baik saja setelah kepulangannya yang terburu-buru tadi siang. Namun, ia juga takut. Takut jika gerakannya terlalu cepat, takut jika dunia menganggapnya terlalu mudah berpaling.
Jaemin tidak langsung menjawab. Ia bangkit, berjalan menuju jendela kecil yang menghadap ke jalanan. "Jen, sebagai sahabat, aku senang kalau kamu menemukan kebahagiaan baru. Tapi..." ia menjeda kalimatnya, membuat suasana mendadak tegang. "Berhati-hatilah. Sekolah ini punya banyak rahasia, dan anak baru selalu membawa misterinya sendiri. Jangan sampai kamu hanya berlari dari satu masalah menuju masalah yang lebih besar."
Jeno mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu? Kamu bicara seolah-olah ada sesuatu yang salah dengan Giselle."
Jaemin berbalik, menyandarkan pinggulnya pada ambang jendela. "Bukan salah. Hanya saja... ada beberapa orang yang tidak akan senang melihatmu bersamanya. Dan jangan lupa, Renjun. Dia kakaknya, bukan? Kamu tahu sendiri betapa protektifnya dia jika menyangkut adiknya."
Jeno terdiam. Benar, Renjun adalah temannya, tapi pria itu memiliki sisi misterius dan tegas jika sudah menyangkut prinsip. "Aku tahu. Tapi aku tidak berniat main-main dengannya, Jaem. Kali ini rasanya berbeda."
"Semua orang selalu bilang 'kali ini berbeda' di awal, Jen," cibir Jaemin, meski nada bicaranya tidak sinis. "Tapi baiklah, aku akan mendukungmu. Setidaknya, sampai kamu benar-benar jatuh dan butuh seseorang untuk menarikmu bangun kembali."
Keheningan kembali menyelimuti basecamp. Suara rintik hujan di luar sana kini berubah menjadi deras, menghantam atap seng dengan irama yang kacau.