CH. 1

119 9 0
                                    

Desiran angin, cukup membuat mata itu terpejam sesaat, menikmati udara dinginnya petang. Tidak diragukan, suasana senja adalah sebuah ketenangan dari beribu ketenangan yg tidak terkira. Langit dengan ukiran khas, perpaduan beberapa warna, membuat siapa saja yg melihat enggan menutup mata walau sejenak. Hati kecil berkata demikian; Keindahan ciptaan Tuhan sangat menakjubkan, aku ingin berlama lama sebentar, walau aku tau tak lama, akan kau ambil paksa dan mungkin keesokan hari tidak lagi sama, walau itu terulang sekian kalinya.

Terus menatap jauh keatas sana. Seolah-olah tau, bahkan Burung-burung seakan mengerti waktu untuk kembali, karena ada suatu hal yang menanti atau pun dinanti, ntah hal tersebut anak burung itu atau sangkar baru yang aman untuk ditempati. Makhluk malam yang seolah mengerti tugas yang harus dijalani, berbunyi menggiring langit yang sebentar lagi akan berubah warna.

Suasana yang amat damai, tidak mengusik makhluk bernyawa itu. Sepertinya yang selama ini dia cari, hal yang sudah lama tidak ia rasakan. Badan seolah nyaman duduk dibawah rindangnya tumbuhan yang kini tinggi menjulang.

Malam yang sangat sepi. Hanya berbalut dress bermotif bunga-bunga dan bandana dikepalanya. Sedari tadi ia hanya menyaksikan pergantian warna pada langit. Ntah apa yang sedang ia lihat diatas sana. Apa dia berharap? atau hanya merenung meratapi sesuatu.

Lebih lama, ia berharap demikian rupanya.
Pada langit, hewan malam dan bintang sebagai saksinya. Tidak ada bulan malam itu. Hanya ada manusia itu dan air yang keluar dari pelupuk mata.

Dia menangis. Rasa senang sekali lagi bergelayut dihati orang ini. Setidaknya sesaat sebelum akhirnya tersadar bahwa dunia benar-benar sangat kejam.

"Ternyata hanya mimpi"

Sangat singkat, Namun cukup membuat sendu raut wajah yang baru kembali dari alam bawah sadar. Seperti nyata dan benar ada. Tapi itu tidak mungkin terjadi, terlebih kepada dirinya.

[Name], bangkit dari ranjang tidur. Bersiap untuk melakukan hal yang kali ini agaknya sedikit berat. Bergerak mempersiapkan diri untuk pergi. Pekerjaan kali ini sangat menguras tenaga. Sebab, [Name] harus pergi ke dinding bagian dalam.

Suatu alasan mendesak. Tak mudah bagi [Name] untuk masuk. Berada sangat jauh dari pusat kota, sungguh sangat menyulitkan. Walau bagaimana pun, [Name] tetap harus melakukannya.

"Sedikit lagi, aku sampai"

Kepala itu menyembul dari dalam sungai. [Name] berhasil masuk melewati celah aliran air menuju dinding ke-2, Rose. Menghirup udara sebanyak-banyaknya, menggelengkan kepala, mengibaskan rambutnya yang lepek Karena basah. [Name] membuka mata untuk melihat sekitar, memastikan tidak ada orang yang melihat dirinya.

"Tertangkap"

Diam sejenak, seolah beradaptasi dengan kondisi. Ekspresi keterkejutan sedikit terpampang jelas diraut wajahnya kali ini. [Name] mencernah suasana berulang kali, masih tidak percaya, bahwa yang dia lihat sekarang pemukiman ramai yang menakjubkan menurutnya.

"..Tertangkap kau Hana"

[Name] melihat anak-anak yang sedang bermain. Bahkan, tanpa sadar [Name] menarik sudut bibirnya karena ikut merasa senang melihat anak-anak itu. Masih berendam didalam air sambil memperhatikan sekitar, takut ada yang melihat. [Name] bangkit dari air. Tangannya meraih pinggiran papan apung agar bisa naik kepermukaan.

Suasana itu sangat asing bagi [Name]. Apakah ini termasuk rasa yang ia cari? Tapi sekali lagi, ini membuat rasa sendu bergelayut kembali dihati. Sungguh, suasana ini menyenangkan bagi dirinya. Setelah mencapai ke permukaan, [Name] hanya berdiri. Mata seolah tidak mau diam, selalu melihat interaksi banyak orang yang berlalu lalang.

Suara khas pasar. Berisik, tapi seolah itu alunan musik bagi seorang gadis dengan stellan dress panjang, dress basah yang di balut jubah kering. [Name], gadis itu berjalan menenteng coper vintage, menelusuri dan bersinggungan dengan lautan manusia itu. Tapi, tak berlangsung lama. [Name] terus berjalan, walau beberapa pasang mata melihat aneh dirinya. Siapa itu? gadis dengan baju basah kuyup? Berjalan ditengah padatnya penduduk? Mengundang kecurigaan dan itu membuat [Name] tidak nyaman. Berbisik-bisik, [Name] terus berjalan, tidak memedulikan kata-kata yang masuk ketelinganya.

"Kakak kenapa bisa basah?"

[Name] spontan berbalik, melihat siapa yang berbicara. Tapi, hal itu malah membuat [Name] merasa takut, dia berlari menjauh dari anak-anak yang ia temui sedang bermain dipinggiran sungai tadi.

[Name] suka suasana ini, tapi masih asing baginya, sangat-sangat asing. Berlari, ia tetap mempercepat langkah kakinya. Sudah berapa kali dia tidak memedulikan tatapan orang-orang yang tak sengaja ia tabrak. Dia terus berlari, mencapai batas, dan yang ia tatap hanya dinding tak terlalu tinggi berada dihadapannya sekarang. [Name] bersandar didinding kumuh itu.

"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?"

[Name] menengadah keatas. Rasanya, dia ingin menangis saat ini, dan itu sudah terjadi. Air mata turun, membuat jalur untuk dilalui air mata berikutnya. Disisi lain ia mau, tapi tidak berani ketika sudah dihadapan. Bingung, kalut, dan tidak percaya akan dirinya sendiri.

Perasaan ini, sekali lagi bahkan sudah sekian kalinya. [Name], hanya mampu mengobati goresan-goresan batin sebatang kara. Ia selalu mencoba. Berkali-kali hingga detik ini mencari apa yang sebenarnya telah terjadi. Rasa, hidup, penderitaan ini, apakah dikehidupan sebelumnya ia melakukan dosa?

"Aku tidak mengerti apapun"

Benar, dia tidak mengerti apapun. Sudah diluar batas kemampuan dirinya. Hanya saja, ia terlalu kuat bahkan dikuat-kuatkan. Kurangnya pengetahuan, membuat [Name] akhirnya merasakan kepahitan, tapi ia tak pernah menyerah. Selalu mencari tau, baik tentang dunia ataupun dirinya sendiri, bagaimanapun caranya.

Termasuk sekarang, salah satu cara [Name] mengetahui semuanya walau tau ada resiko yang sangat tinggi menanti diri. [Name] rasa sudah saatnya. Di sela-sela ia meratap, ada semangat yang sedikit demi sedikit menguar.

"Aku tidak tau apapun, tapi aku tau cara bagaimana mencari tau"

DISTRICT TROST 845

I'm Happy In The EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang