CH.2

82 5 0
                                    

Ketika hanya sendiri, apa yang kamu rasakan selain sepi? Diam merenung atau menangis sejadi-jadinya? Cukup kalut Hati dan pikiran. Berkecamuk, membuat rentetan pikiran gelap.

"Apa harus aku akhiri saja semua ini?"

Ia bertanya-tanya pada dirinya. Bukankah, pada dasarnya manusia hanya makhluk tidak berdaya? Apakah benar, manusia hanya makhluk hina penuh akan dosa?

Positif Negatif? Atau salah satu dari dua kata itu. Dia sangat bingung. Mencari arti segalanya, sebab akibat yang ia sendiri tidak tau, bahkan sama sekali tidak mengerti akan hal itu. Rentetan pikiran gelap semakin menjadi. Otak dan hati saling berlawanan, tidak ditemukan sinkronisasi yang jelas. Dia kalut, gelisah, sedih, dan kecewa. Ada sesuatu dihati, bahkan ia sama sekali tidak tau bagaimana cara mengekspresikan.

Rumput yang ia pijak bersamaan langit mendung kala itu, Menari terbawa angin, beserta awan yang siap memuntahkan beribu tetes air. Waktu itu, ia terduduk bersimpuh kaki diatas bukit. Dengan tetes Hujan yang kian deras.

Lebih mengerti kondisi dan situasi. Dimana ada gadis kecil dengan segala beban yang dia pikul sendiri. Mencoba membantu menetralisir segala rasa, dalam bayang-bayang yang berusaha keluar. Membuncah dalam dada. Menangis sejadinya, suara yang berpadu dengan rintikan air, dan air mata itu menjadi satu dengan limpahan air yang jatuh dari langit.

[Name], gadis kecil yang malang.

***

Cerita yang sangat luar biasa kembali terjadi. Sekali lagi diberi peringatan. Tidak, ini melainkan sebuah ancaman. Rasa ketakutan selalu menghujam mereka. Terulang sekian kali dan nyawa sebagai tumbalnya. Malang memang, tapi ini kehendak atas Tuhan yang mereka percaya. Tidak semua, tapi ada dan itu sebuah keyakinan. Mereka hanya bisa berharap.

"Dimana kebebasan yang kalian janjikan?"

Kalimat menuntut itu hanya diabaikan. Orang-orang itu hanya menatap tanah dan terus berjalan. Setiap langkah, tetes air mata, darah segar yang masih enggan berhenti mengalir dari goresan luka yang menganga, dan sakit dibatin masing-masing dari mereka. Akankah yang menuntut mengerti?

Hanya semata-mata ego manusia. Punggung kokoh mereka, membawa sesuatu yang tak pernah terlihat. Mereka pulang membawa luka dan rasa sakit, tapi pandangan mereka yang lain, semua orang itu hanya tukang pembawa janji tak pasti.

"Pulanglah kerumah masing-masing, berhentilah menjadi prajurit untuk Umat manusia!"

Demi sebuah pencapaian. Orang pintar akan selalu berusaha agar kepintaran itu tidak lenyap, walau banyak yang harus ia korbankan. Selalu mengasah otak agar hal itu tetap bertahan. Waktu, tempat dan segalanya. Begitu pula kali ini, mereka dihadapkan dengan kondisi yang hampir sama, hanya kali ini mereka sedikit putus asa. Tujuan yang didambakan. Kebebasan penduduk dinding yang tidak pernah diraih sampai titik ini. Rasanya sangat sia-sia para prajurit itu berlatih selama 3 tahun lebih. Yang pada akhirnya, kekuatan Si bodoh yang memakan mereka semua. Dimana letak pintarnya? Dan Kemana kepintaran itu?

Mereka lupa, tidak ingat sama sekali. Tanpa sadar, manusia seperti mereka hanya diperbudak dan memperbudak. Selalu berputar dalam ruang lingkup yang tidak lepas dari kata dan rasa Egoisme. Cara berpikir penduduk dinding dan apa yang mereka lontarkan, akan selalu berupa tuntutan dan meminta hak yang tanpa mereka tau, tidak semudah hanya pergi keluar dinding.

Mereka semua bodoh karena pikiran yang sejak dulu terkekang oleh adanya dinding tinggi tersebut. Tak ada yang menyalahkan. Mereka mendapatkan hal ini, karena upaya orang-orang terdahulu yang belum selesai. Bahkan mungkin semua sebab dan akibat itu bersumber dari orang-orang itu, tidak ada yang tau. Sekarang, hal yang belum tuntas itu diteruskan. Akan hanya ada ego yang mengisi setiap manusia yang berperan dalam operasi Kebebasan umat manusia.

"Rencana dengan resiko besar. Apa kau yakin?"

Strategi yang matang dan tingkat fokus yang tinggi. Rancangan formasi yang diatur harus berpengaruh diakhir.

"Dan ini hanya jalan satu-satunya agar misi kali ini tidak seperti sebelumnya"

Menjadi pemimpin itu suatu kebanggaan. Title tinggi itu mengibaratkan seseorang untuk selalu dihormati. Kebanyakan opini pada umumnya membenarkan, tapi perbedaan itu pasti ada. Title itu memberatkan punggung yang masih mantap tegap berdiri. Berbeda, tapi Title itu baginya hanya sebuah kutukan yang melekat, hari demi hari, mau tak mau harus ia jalani, hingga sumpah pahit itu menggerogoti habis tubuh tegap itu. Demi pencapaian, harus banyak yang dikorbankan bukan?

"Banyak rekan yang gugur. Dengan begitu, rencana ini akan sedikit memakan korban Jiwa"

"Dusta yang kau ucapkan Erwin Smith. Pencapaian yang kau inginkan ini, setiap langkah itu akan terus meminta nyawa dan darah, dari semua yang ikut andil dalam peristiwa yang kau sebut pencapain, kedamaian, dan kebebasan umat manusia. Ingatlah itu hanya permulaan bagimu Erwin. Camkan didalam otak dan hatimu itu, bahwa kau juga akan lenyap dilautan darah bersama dengan yang kau ajak bersamamu. Sahabat-sahabatmu, akan berada diwaktu itu, tunggu dan lihatlah Erwin. Kematian dirimu sudah ditetapkan dan kau tak akan bisa lari dari takdir itu. Bebaslah, kau berhak atas itu, baikpun para prajuritmu demikian. Jangan paksa jiwa dan ragamu, berhenti diperbudak rasa keingintahuanmu. Kau tak perlu memikul beban penuh harap itu lagi. Bawalah prajuritmu pergi dari dunia kejam ini, itu pesanku padamu."

"Baiklah, kita sudahi rapat ini" Erwin berdiri, dengan salam hormat yang terpatri didada pria berwibawa itu.

To be continued..



Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 02, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

I'm Happy In The EndTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang