Draco menghela napasnya begitu dia keluar dari kantor Profesor Snape. Saat dirinya menoleh, dia menemukan Theo dan Vince yang sedang bersandar di dinding sebelah pintu masuk kantor. Theo dengan satu tangan yang masuk ke saku celananya dan tangan lainnya yang bermain ponsel, sedangkan Vince sibuk memakan cupcake yang entah dia dapat dari mana.
"Heh, gue udah selesai," ujar Draco, membuat mata Theo dan Vince secara bersamaan menatapnya. Vince buru-buru memasukkan sisa cupcake-nya ke mulut sebelum menegakkan tubuhnya, membuat perut gembulnya sedikit terangkat.
"Lama bener ngambil HP yang disita doang, Potter aja udah dari tadi keluar," gerutu Vince, lalu membalikkan badannya dan mulai berjalan menuju Aula.
"Yang lain mana?" Draco berbisik pada Theo yang berjalan di sampingnya. Theo bilang bahwa yang lain sudah lebih dulu ke Aula, sedangkan Theo memutuskan untuk menunggu Draco karena ingin mengulur waktu lebih lama sebelum dia harus melakukan sesuatu yang menentukan hidup dan matinya.
Draco menggelengkan kepalanya. Theo dan sikap dramatisnya.
"Tapi lo udah siap kan?" tanya Draco, melirik Theo di sampingnya yang tampak sedikit pucat.
"Siap nggak siap," jawab Theo. Kalau Draco tidak tahu dengan pasti, Draco merasa suara Theo sedikit bergetar sekarang.
Ketika mereka sudah tiba di Aula Utama dan duduk di meja Slytherin-Draco diapit oleh Millie dan Daphne sedangkan Theo duduk di ujung meja-untuk makan siang, Aula sudah dipenuhi oleh hampir seluruh siswa Hogwarts. Draco bisa melihat Theo yang terus-terusan melirik ke arah Lovegood di meja Ravenclaw. Kegugupan terlihat jelas di wajahnya, membuat Draco entah kenapa juga ikut-ikutan gugup.
Draco mendistraksi dirinya dengan mulai mengambil sepiring penuh kentang tumbuk dan sepotong ayam bakar. Sebelum Draco memakannya, dia melemparkan pandangannya ke arah meja Gryffindor dan mendapati Harry tidak berada di sana, begitu juga dengan Weasley. Di tempat biasa Harry duduk, hanya ada Finnigan, Thomas dan Longbottom yang bercengkrama sambil tertawa-tawa.
Tidak biasanya, pikir Draco. Tapi dirinya mencoba untuk tidak berpikir macam-macam dan menikmati makanannya. Setelah waktu makan siang tinggal sepuluh menit lagi dan semua Profesor sudah kembali ke kantor masing-masing, hanya menyisakan siswa-siswa yang masih mengobrol seru di Aula, namun Harry belum juga kelihatan, padahal si Finnigan sudah tidak terlihat di meja dan cuma ada Thomas serta Longbottom, Draco mulai khawatir.
Belum sempat Draco mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Harry, Theo sudah berdiri dan berjalan ke depan Aula. Beberapa dari siswa yang masih tersisa di Aula-yang sialnya separuh dari siswa-siswa Hogwarts-mulai menatap Theo bingung.
Well, shit. Draco benar-benar tidak membayangkan segugup apa Theo sekarang.
Sedetik kemudian, Draco mendengar Theo berdehem, sebelum kemudian angkat bicara.
"Semuanya, gue boleh minta perhatiannya sebentar?" kata-kata Theo begitu tegas, sama sekali tidak terlihat gugup atau apa, malah jantung Draco yang rasanya melompat tak karuan, membayangkan sekacau apa nanti begitu giliran Draco untuk melakukan hal semacam ini.
Mendengar permintaan Theo, siswa-siswa yang sedetik lalu masih sibuk makan atau mengobrol, kini sempurna menatapnya, termasuk Luna.
"Oke, thank you," katanya, lalu menghela napas sejenak sambil dengan tidak sadar menyisir rambutnya ke belakang dengan satu tangannya, membuat telinga kucingnya sedikit berkedut, gestur yang Draco kenali sebagai tanda bahwa Theo sedang gugup. "Uh... kalian mungkin bertanya-tanya kenapa gue di depan sini, tapi gue cuma mau bilang... bahwa... uh..." Theo terbata-bata.
KAMU SEDANG MEMBACA
✓ Cat Ears and Confession
FanfictionKetika Draco dan Theo kalah bermain Exploding Snap di suatu sore, Pansy mengutuk mereka sehingga mereka memiliki telinga kucing. Kutukan yang hanya bisa hilang ketika mereka mengaku pada orang yang mereka sukai tentang perasaan mereka di depan publi...
