Harry tidak tahu sudah berapa lama dia menunggu di depan pintu masuk Asrama Slytherin di Lantai Bawah Tanah ini. Mungkin saja sudah berjam-jam, atau malah baru beberapa menit, Harry sendiri tidak tahu jawabannya karena dirinya tengah kehilangan pemahamannya mengenai konsep waktu saat dirinya merasa begitu gelisah.
Yang dia tahu, dirinya melakukan suatu kesalahan besar. Dirinya gegabah menyimpulkan sesuatu. Mengingkari janjinya, membuat Draco menunggu selama berjam-jam di tempat janjian mereka dan sama sekali mengabaikan lusinan pesan yang dikirim Draco Senin kemarin.
Tambahannya? Harry membagikan tweet miliknya yang kalau benar prasangka soal Draco yang hanya memanfaatkannya adalah salah paham—maka dirinya pasti membuat Draco terluka.
"Kayaknya kita salah paham soal kutukannya, mate." kata Ron beberapa saat yang lalu pada Harry. "Soalnya gue diberitahu Crabbe, katanya telinga kucingnya cuma bisa ilang kalo yang dikutuk confess ke crush-nya dan crush-nya percaya kalo dia beneran suka."
Pertama kali Harry mendengarnya, dadanya seperti mencelos. Karena bagaimana mungkin Harry berani untuk mempercayainya setelah harapannya dipangkas habis Senin kemarin?
Selama berminggu-minggu Harry habiskan dengan bertanya-tanya, takut jika prasangkanya soal Draco adalah hasil dari percaya dirinya yang terlalu tinggi. Karena Harry terlalu terbiasa disukai semua orang, sehingga saat Draco melakukan sesuatu yang membuat dadanya berdegup kencang, Harry mengartikannya sebagai tanda bahwa Draco menyukainya. Prasangkanya hancur berkeping-keping hari Senin lalu, ketika dirinya mengira bahwa Draco hanya menggunakannya untuk menghilangkan kutukannya.
Jadi, wajar kan jika Harry takut untuk percaya pada apa yang Ron katakan? Bagaimana jika saat Harry percaya lagi, ternyata kenyataannya tidak demikian? Bagaimana hati Harry bisa selamat untuk kedua kalinya jika ternyata Draco tidak merasakan hal yang sama?
Saat Harry mengatakan semua ketakutannya pada Ron, temannya itu hanya menghela napas, sebelum akhirnya menyatakan sesuatu yang membuat Harry memberanikan diri untuk melakukan semua ini.
"Wajar kalo Lo takut, kita sama-sama nggak tahu kebenarannya kayak gimana, tapi bukannya bakal lebih lega kalo Lo ambil risiko kesana dan memastikan kayak gimana Malfoy ke elo? Karena gue nggak yakin Lo siap buat nyesel kalo ternyata Malfoy beneran suka elo…"
Mengambil resiko, maka itulah yang Harry lakukan sekarang. Dirinya ini seorang Gryffindor, for Merlin's sake!
Jadi saat pintu masuk asrama Slytherin perlahan terbuka setelah beberapa menit penuh kesunyian, Harry buru-buru mengangkat wajahnya. Telapak tangannya begitu dingin, dengan jantung yang memompa terlalu keras sampai dirinya yakin pasti debarnya terdengar hingga ke menara Gryffindor, apalagi saat dirinya menemukan pria berambut perak platina dengan mata begitu sayu dan menatapnya penuh ragu-ragu.
"Harry," panggilnya hampir berbisik. Mendengarnya, membuat dada Harry begitu sesak. Baru kali ini dia sadar, bahwa dirinya tidak tahu harus memulai dari mana.
"Gue…" kata Harry, hampir gagu. Draco berdiri tidak jauh di depannya, begitu tidak yakin untuk menatap langsung ke arah mata Harry.
"Sebenernya gue tau kok maksud Lo datang ke sini," kata Draco pada akhirnya, masih tidak mau menatapnya. Harry kebingungan.
"Lo tahu?" Tanyanya bodoh. Ketika Draco hanya mengedikkan bahu sambil menendang kecil udara di kakinya, Harry merasa dirinya tidak perlu lagi membuang-buang waktu. Dengan dada yang masih berdegup kencang, dirinya memaksakan untuk menanyakan sesuatu yang sudah dari tadi ingin ditanyakannya.
"Jadi Lo beneran suka gue?" Tanya Harry cepat. Membuat Draco dan bahkan dirinya sendiri berjengit akibat kata-katanya yang sangat langsung ke poin utama.
KAMU SEDANG MEMBACA
✓ Cat Ears and Confession
FanfictionKetika Draco dan Theo kalah bermain Exploding Snap di suatu sore, Pansy mengutuk mereka sehingga mereka memiliki telinga kucing. Kutukan yang hanya bisa hilang ketika mereka mengaku pada orang yang mereka sukai tentang perasaan mereka di depan publi...
