2J : Bab 28

2.2K 248 23
                                        

28

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

28. Berbagi Keluh Kesah Dibawah Rembulan

***

Setelah membersihkan tubuh masing-masing, kedua cowok berparas menawan itu kini duduk berdampingan di teras rumah. Menatap gelapnya langit malam. Juandra dan Hardian hampir memiliki nasib yang sama, tinggal bersama seorang ayah yang selalu menuntut kesempurnaan. Bedanya, Hardian memiliki sosok ibu yang masih hidup, meskipun kedua orang tua Hardian sudah berpisah dan tinggal di rumah yang berbeda. Dia memilih tinggal bersama sang ayah demi mendapat fasilitas berupa sekolah dan lain halnya, lalu ketika mendekati hari libur, cowok itu akan meninggalkan rumah ayahnya dan lebih suka berada dirumah sang ibu.

"Lo kenapa nggak coba cari pacar beneran, di banding godain adek kelas buat main-main, emang lo nggak punya perasaan sama siapa pun?" tanya Juandra sambil menyalakan sebatang rokok yang di sodorkan Hardian.

"Cinta maksud lo?" Hardian mengela napas berat sambil tersenyum kecil. "Kalo kata khalid di lagu silence, loving never gave me a home. Buat gue, cinta itu ilusi, yang timbulnya cuma sesaat. Dulu gue sering denger bokap sama nyokap gue saling lempar ungkapan cinta, tapi coba liat sekarang. They don't love each other."

Hubungan yang terikat resmi saja bisa kandas, bagaimana dengan hubungan remaja jaman sekarang yang sering di sebut dengan pacaran. Semua memang tergantung kepribadian masing-masing, tapi realitanya, orang-orang dewasa pun sebenarnya masih ada yang tidak mengerti, apa itu cinta. Apakah cinta adalah ketika dua orang yang saling menyayangi, kemudian bersatu? Atau saling merelakan demi kebahagiaan masing-masing?

Hardian melirik ke arah kertas yang ada di genggaman cowok di sampingnya. Juandra yang paham arti tatapan dari sahabatnya itu, langsung menyodorkan kertas itu ke Hardian untuk dia baca. Hardian sudah masuk terlalu dalam di setiap masalah hidupnya, jadi dia rasa tak ada lagi yang perlu di tutupi. Hanya di depan Hardian dan Mirza, Juandra bisa menunjukkan sisi lemahnya. Ya meskipun akhir-akhir ini intensitas percakapannya dengan Mirza sedikit berkurang.

"Kapan ya, bokap gue bilang kalo dia bangga punya anak kayak gue," keluh Hardian setelah membaca kalimat terakhir yang ada di dalam surat, membuat Juandra yang sejak tadi setia menemani di sampingnya, kini merubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arah cowok itu. Hardian kembali melahap permen gagang yang ia pegang.

"Lo nggak perlu validasi dari siapa pun. You just need to proud of yourself. Semua orang yang berambisi atas diri lo, nggak akan pernah menghargai sebuah usaha, entah sekecil apapun itu."

Cowok berbaju lengan pendek itu terenyuh selama beberapa menit. Ditampar dengan sejuta kalimat pun rasanya susah sekali untuk sadar bahwa kita tidak perlu memaksakan diri untuk memenuhi ekspetasi orang lain. Pikirannya seolah sudah di setting sedemikian rupa, agar ekspetasi orang lain menjadi beban yang harus ikut kita pikul di belakang bahu kita sendiri.

"I just need to proud of myself. But, honestly, I also want people to proud of me," gumam Hardian lirih.

Juandra mengangguk, mengerti. Dia tahu bagaimana rasanya harus membawa ekspetasi orang lain, sedangkan ekspetasi dirinya sendiri saja tidak selalu bisa ia penuhi. Di sela-sela perbincangan mereka berdua, Juandra membuka ponselnya, berusaha mengirim pesan kepada kembarannya, yang sudah tertera ceklis dua, artinya laki-laki itu sudah kembali menyalakan ponselnya alias online.

Dua Sisi (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang