Sakura'S Classmate

115 9 0
                                        



"ADEK BANGUN KAMU, INI UDAH MAU JAM ENAM LOH."

Teriakan sang bunda tentu saja membuat si bungsu keluarga Son ini terbangun. Bukan karena teriakan yang kencang tapi karena perkataan sang bunda mengenai sebentar lagi akan masuk pukul enam. Sakura memaki diri dalam hati, melangkahkan diri  ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera menunaikan kewajibannya. 

Setelah dirasa beres dengan penampilannya, Sakura meraih tasnya dan memasukkan beberapa buku yang telah disiapkannya semalam. Keluar dari kamar, menuruni tangga dengan cepat sepertinya memang menjadi kebiasan si bungsu ini.

"Selamat pagi bundaaa." Ucapnya setelah sampai di lantai dasar dan menghampiri bunda yang sedang menyiapkan sarapan. Sedangkan  bunda hanya mengusap kepala Sakura dan melanjutkan kegiatannya.

Sakura mengambil satu roti dan mengolesinya  dengan selai, menyimpan nya dipiring dan segera meminum susunya hingga isi gelasnya itu kosong. Mengambil kembali rotinya dan berpamitan pada sang bunda untuk segera berangkat ke sekolah.

Jarak rumah Keluarga Son dan sekolah Sakura memang tidak telalalu jauh mungkin hanya sekitar 500m. Setibanya Sakura di sekolah, dia bertemu teman-  temannya di parkiran dan berjalan bersama untuk menuju kelas masing - masing.

"Lalaa!! Selamat pagiii." ucap Sakura setelah sampai di kelasnya. Nabila Salsabilah atau yang kerap disapa Lala itu tersenyum dan membalas kembali sapaan Sakura. Kelas itu memang masih dihuni oleh mereka berdua, maklum teman sekelasnya pada suka datang mepet bel. 

"Oh iyaa, La mau bantuin aku ngonten gak?? Folowersku nanyain kamu mulu tahu."

"Masa?? Gak percaya aku sama kamu."

"Beneran La. Katanya gini, Sakura kapan ngonten bareng sama Lala lagi. Kita  kangen liat kalian berdua. Gituh katanya."

"Heleh bisa ajah kamu. Emang mau ngonten apa??"

"Gak tahu sih, tapi aku ada rencana bikin one day with Lala. Sekalian aku juga mau ngajak kamu buat ngecover lagu gitu, gimana menurutmu??"

"Bagus sih Sa. Aku jadwalnya kosong kalau ahad doang tapi."

"Nah aku ahad ini juga kosong, sabtu aku kerumah kamu deh sekalian aku nginep gitu."

"Boleh - boleh ajah kalau gitu."

"DOR!!" 

Kedua perempuan itu dikejutkan oleh suara seseorang disertai gebrakan pada pintu kelas. Pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah beberapa temannya yang baru saja tiba.

"Model sama Content Creator kita sedang berbincang - bincang gaes." Celetuk salah satu teman yang sedang menyimpan tasnya di bangku sudut paling belakang. Panggil saja Nizar, ketua OSIS SMAN Salama yang akan segera lengser dari jabatannya.

"Ini kenapa kelasnya masih berantakan?? Cepet - cepet nanti dimarahin BuSus pada ketar - ketir kalian."

"Siap bu ketu."

Kalau sudah bu ketu yang berkumandang semua seisi kelas itu akhirnya membersihkan kelas dengan cepat agar tidak dimarahi oleh walikelas mereka, Bu Susi namanya.

"Btw nih gaes yah, kalian belajar buat ujian nantikan??" tanya Hana, si Face of School. Gimana gak dipanggil gitu, mukanya itu ada di mading, poster, bahkan ada di spanduk penerimaan siswa baru. Mukanya udah kayak aset sekolah.

"Cuma buka - buka buku doang sih Han. Soalnya hari inikan cuma mtk jadi yah gw udah hatam lah."

"Lu mah enak Hislan, anak olim mtk. Lah gw udah gak paham mtk ditambah lagi akhir - akhir ini jarang masuk kelas karena disuruh buat video penerimaan murid baru."

"Yoh yang sabar Han, biasanya juga lu nyontek ke gw. Tumben - tumben bener ngeluh" Bu ketu kembali berkumandang. Benar yang dia katakan, biasanya Hana kalau sibuk ngurus ini itu dan tidak sempat untuk ikut pembelajaran pasti solusi saat ujian yah nyontek pada teman sebangkunya itu.

"Wokeh! Awas aja nanti gak ngenyontekin, gw jambak lu Vir."

"Serem banget Han, yang mau nyontek siapa yang galakan siapa."

Dan percakapan itu ditutup oleh tawa keenamnya disusul dengan bunyi bel yang menggema. Iya hanya berenam karena sisa penghuni kelas itu tengah mendominasi barisan orang - orang yang terlambat. Meskipun kini mereka tengah berbaris di depan pagar, mereka masih bisa dengan santainya melambaikan tangan dan tersenyum ke arah enam temannya yang tengah memperhatikan mereka dari lantai dua. Emang urat malunya udah putus mereka.

S+ || Lee JenoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang