3. "Sepatu Merah Muda"

362 11 0
                                        

"Dia datang setiap kali aku membutuhkannya, tanpa tahu hal itu benar-benar menyebalkan" Annida Ayna Lubis
.
.
🍃🍃🌸🍃🍃
.
.

Hari-hariku berjalan seperti biasanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari-hariku berjalan seperti biasanya. Canda tawa dari Nana dan Mayla selalu bisa mengubah dinginnya suasana. Saat itu aku dan seluruh kelas XI IPS tengah mengikuti pelajaran TIK (Ilmu yang mempelajari tehnik pengoprasian komputer) di lab komputer.

Setelah sekitar dua jam pelajaran kita berada di dalam lab dan mencerna materi yang diberikan oleh guru. Bel tanda pelajaran telah berakhir membuat seluruh siswa menghela napas lega. Begitupun aku, pelajaran yang bagiku sangat membosankan itu akhirnya berakhir.

"Alhamdulillah" ucap Nana tanpa rasa berdosa yang membuat seluruh siswa menatap tajam ke arahnya. Tak terkecuali guru mapel yang terkenal killer di kelasku. Nana si pembuat onar hanya mengangkat bahu tanpa rasa bersalah. Tapi itulah Nana, bersikap masa bodoh benar-benar hal yang mudah dilakukannya.

Jika ditanya pelajaran apa yang paling kubenci selain Matematika. Aku pasti konsisten menjawab pelajaran tentang tehnik pengoprasian komputer. Selain membosankan aku benar-benar tidak suka disuruh menghafal menu-menu yang menurutku tidak menarik untuk dihafal.

Setelah mengambil buku dan pulpenku yang tadinya ada diatas meja aku langsung melangkahkan kaki keluar ruangan ber-ac itu bersamaan dengan siswa lainnya. Baru kusadari sepatu merah muda yang biasa kukenakan hanya tersisa sebelah. Nana dan Mayla yang sudah berhasil memakai sepatunya pun ikut mencari keberadaan sebelah sepatuku yang lenyap entah kemana.

"Ay, itu sepatu lo kan ya? " ucap Nana tiba-tiba, sambil menunjuk sebuah sepatu merah muda yang tergantung di ujung pintu lab komputer.

" Iya itu sepatu lo Ay" jawab Mayla memastikan.

"Kok bisa disitu sih Na, may? " tanyaku pada mereka sambil berjalan menghampiri sepatu itu dengan kakiku yang hanya beralas kaos kaki dengan dua tangan menenteng sepatu dan yang lainnya membawa buku pelajaran.

Aku baru menyadari keberadaan Harris yang tengah berdiri dengan senyum mencurigakan tidak jauh dari tempatku berjinjit- jinjit mencoba meraih sepatu yang tergantung disana. Baru setelah aku melihat kearahnya, dia menyembunyikan senyum itu.

"Aiss, ini pasti perbuatan lo kan? " ucapku tidak sabaran pada Harris yang sekarang tepat berada di depanku.

" Apa sih Ann? Dateng-dateng langsung marah, kenapa? Aku ada salah sama kamu? " kalimat pura-pura bodoh dari Harris membuatku semakin tersulut emosi, bisa-bisanya dia bersikap santai setelah melakukan hal ini padaku.

"Nggak usah bohong, lo kan yang ngegantung sepatu gue disana? " Harris tertawa mendengar perkataanku, semakin membutku bingung karena sikapnya.

"Bukan aku Ann, suerr" jawab Harris lagi dengan senyum santai yang dibuat-buat. Padahal aku tahu betul, hal-hal jail seperti ini selalu dia yang melakukannya. Bahkan ini telah kesekian kalinya dia menjahiliku dengan semua tingkah menyebalkannya.

"Us, Almost" On GoingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang