Benang Kusut di Ruang Tengah

354 53 7
                                        

​Jeno melangkah keluar dari kamar mandi, aroma sabun bayi yang lembut menguar dari tubuhnya kontras dengan kaus oversized dan celana training milik Renjun yang tampak sedikit kedodoran di tubuh atletisnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​Jeno melangkah keluar dari kamar mandi, aroma sabun bayi yang lembut menguar dari tubuhnya kontras dengan kaus oversized dan celana training milik Renjun yang tampak sedikit kedodoran di tubuh atletisnya. Rambutnya yang masih setengah basah jatuh menutupi dahi, memberinya kesan rapuh yang jarang terlihat.

​Di ruang tengah, Giselle sudah menantinya dengan kotak P3K yang terbuka lebar di atas meja kopi. "Sini, Kak. Duduk dulu," panggil Giselle lembut, tangannya menepuk bantalan sofa di sampingnya.

​"Siap, Bos," Jeno tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya melihat perhatian gadis itu rasa hangat yang hampir membuatnya lupa pada denyut nyeri di lututnya.

​Saat Jeno baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa, Giselle bangkit berdiri. "Tunggu sebentar ya, Kak. Aku ambil kompres air hangat dulu di dapur supaya memarnya tidak makin parah."
​Baru saja Giselle membalikkan badan menuju dapur, suara kunci diputar dengan kasar mengejutkan mereka berdua.

​Cklek!

​Pintu depan terbuka lebar. Renjun masuk dengan napas memburu, diikuti Jaemin yang tampak basah kuyup. Langkah Renjun seketika terkunci di ambang pintu saat matanya menangkap siluet pria yang sangat ia kenali sedang duduk di sofanya, mengenakan pakaian miliknya.

​"Giselle, siapa—" Kalimat Renjun terputus. Wajahnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang seketika. "Jeno?!"

​Jeno tersentak berdiri, menahan ringisan saat lututnya dipaksa bergerak tiba-tiba. Tatapannya bertemu dengan tatapan tajam Renjun. Keheningan yang menyesakkan langsung menyergap ruangan itu.

​Giselle muncul dari balik sekat dapur membawa baskom kecil berisi air hangat dan kain kompres. Ia mematung melihat atmosfer yang mendadak membeku. "Kak Renjun? Kak Jaemin? Kalian sudah pulang?"

​"Kenapa dia ada di sini?" tanya Renjun, suaranya rendah dan sarat akan ancaman. Ia tidak menatap Giselle, matanya tetap terkunci pada Jeno. "Kalian... sudah saling kenal?"

​"Tidak!" celetuk Jaemin tiba-tiba, suaranya terlalu tinggi hingga terdengar tidak natural.
​Renjun menoleh cepat ke arah Jaemin dengan kening berkerut. "Apa maksudmu 'tidak'? Jelas-jelas dia duduk di sofa rumahku!"

​Jaemin mengerjap, otaknya berputar cepat mencari alasan untuk menutupi fakta bahwa ia sebenarnya sudah tahu Jeno mendekati Giselle sejak awal. "Maksudku... tidak, mereka tidak kenal dekat! Tadi aku lihat motor Jeno mogok di jalan, mungkin Giselle cuma kebetulan lewat dan menolong sebagai orang asing. Ya, kan, Jel?" Jaemin memberi kode mata yang panik pada Giselle, mencoba menghentikan kejujuran adiknya sebelum Renjun meledak.

​Namun, Jeno justru mengabaikan sandiwara gagal Jaemin. Ia menatap Renjun dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara rasa bersalah dan kekecewaan. "Jadi benar... Giselle adalah adikmu. Sekarang aku mengerti kenapa Jaemin selalu melarangku menemuinya."

​Wajah Renjun memerah padam. "Keluar," ucapnya dingin, hampir berupa bisikan namun terdengar sangat otoriter.

​"Kak, tapi Kak Jeno sedang terluka!" protes Giselle, langkahnya maju satu tindak untuk melindungi Jeno.

​"Aku bilang KELUAR, Lee Jeno!" bentak Renjun, suaranya menggelegar mengalahkan suara guntur di luar. "Dan lepaskan baju itu. Jangan berani-berani membawanya keluar dari rumah ini!"

​Jeno menghela napas panjang, menatap Renjun dengan sisa ketulusan yang ia miliki. Ia tidak ingin memperkeruh suasana, terutama di depan Giselle. Ia segera menyambar jaketnya yang lembap. "Aku akan menggantinya dan mengirimkannya kembali besok. Gis, terima kasih untuk semuanya. Aku pergi."

​Tanpa menoleh lagi, Jeno melangkah keluar menembus hujan badai, meninggalkan kehangatan rumah itu yang kini terasa mencekam.

​Setelah pintu tertutup dengan dentuman keras, Renjun menjatuhkan dirinya ke sofa, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Jaemin berdiri di sudut ruangan, merasa tidak enak hati namun tetap berada di sana untuk memantau keadaan.

​Giselle menaruh baskom kompresnya dengan tangan bergetar. Air matanya mulai menggenang. "Jelaskan padaku. Kenapa Kakak sebenci itu? Dan kenapa Kak Jaemin juga ikut berbohong tadi?"

​Renjun mendongak, matanya tampak memerah. "Kamu masih kecil saat kejadian itu, Giselle. Kamu tidak tahu apa yang dilakukan pria itu pada keluarga kita. Dia... dia adalah alasan kenapa Kak Mark pergi selamanya."

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Giselle. Nama Kak Mark kakak tertua mereka yang meninggal dalam kecelakaan tragis beberapa tahun lalu adalah luka yang tak pernah benar-benar kering.

​"Maksud Kakak... Kak Jeno pelakunya?" bisik Giselle, suaranya bergetar hebat.

​"Dia yang mengemudi malam itu, Giselle," sahut Jaemin dengan nada bicara yang sangat serius, kehilangan jati dirinya sebagai pelawak sejenak. "Itu alasan kenapa aku menceletuk 'tidak' tadi. Aku ingin melindungimu dari kenyataan ini, tapi sepertinya sudah terlambat. Aku sahabatnya sejak kecil, aku tahu betapa hancurnya dia, tapi aku juga tahu betapa hancurnya keluargamu."

​"Jangan pernah mendekatinya lagi," Renjun memperingatkan dengan nada yang sangat tajam. "Jika Ayah dan Bunda tahu kamu berinteraksi dengannya, mereka tidak akan ragu mengirimmu ke luar negeri saat ini juga. Mereka tidak akan membiarkanmu melihat wajah pria itu lagi."

​"Ke luar angkasa?" gumam Jaemin polos, refleks mencoba mencairkan suasana yang terlalu berat baginya.

​"Ke luar negeri, bodoh!" bentak Renjun frustrasi, emosinya benar-benar terkuras habis.

​"Terserah Kakak!" teriak Giselle, air matanya tumpah. Ia merasa dikhianati oleh takdir. Pria yang baru saja membuat jantungnya berdebar, ternyata adalah orang yang membawa duka terdalam bagi keluarganya.

​Jaemin bangkit, menyadari situasinya sudah tidak terkendali. "Aku pulang dulu. Suasana di sini sudah terlalu panas."

​"Kak Jaemin, tunggu!" panggil Giselle dengan suara parau. Ia merogoh tasnya dan menyerahkan sebuah benda. "Tolong kembalikan ponsel Kak Jeno. Aku menyimpannya tadi agar tidak rusak terkena hujan."

​Jaemin menerima ponsel itu, menatap Giselle dengan tatapan iba. "Siap, Princess. Jangan menangis terlalu lama. Terkadang kebenaran memang sepahit obat, tapi setidaknya kamu sekarang tahu di mana kamu harus berpijak."

​Jaemin melambaikan tangan dan melangkah keluar, meninggalkan rumah itu dalam keheningan yang menyesakkan keheningan yang dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu yang kini kembali menghantui setiap napas mereka.

🍒

Note : Renjun memang sudah tahu Giselle menyukai Jeno (sejak adegan pertama di rumah), tapi yang membuat Renjun meledak adalah karena ia tidak menyangka Jeno sudah masuk ke dalam rumahnya dan bahkan memakai bajunya. Sementara itu, Jaemin menceletuk "Tidak" karena ia panik dan mencoba menutupi fakta bahwa dialah yang selama ini menjadi "jembatan" (meski pasif) bagi Jeno untuk mendekati Giselle.

RUANG ANTARA KITA | JENSELLE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang