Hari itu merupakan hari senin, hari pertama masuk sekolah setelah libur semester berakhir. Kini dua orang dari trio siswa SMA Kiamat 1 itu tengah menjemput salah satu temannya-Sooyoung terlihat sangat bersemangat saat disuruh untuk memukuli pintu rumah Dokja.
Bunyi kunci diputar menghentikan aksi Sooyoung, Dokja keluar dengan roti selai di tangan kirinya. Matanya menatap tajam kearah sahabat peremupuannya.
"Bisa ga sih jemputnya jangan kek orang mau ngajakin tauran gitu?"
Sooyoung tidak menjawab, gadis itu malah menarik tangan kiri Dokja dan membawanya ke mulutnya. Dan holla! roti Dokja kini memiliki bekas gigitan. Sebelum bisa protes, tangan cumi itu kini sudah ditarik oleh sahabatnya yang lain.
"Cepat makan, kita sudah terlambat."
Dokja hanya bisa mendecih dan menuruti apa kata Joonghyuk. Di belakang keduanya, Sooyoung hanya tertawa puas melihat si cumi yang tidak bisa membalasnya.
Tak lama kemudian, ketiganya sampai di depan gerbang sekolah mereka. Di depan gerbang itu ada Moryak beserta anggota OSIS lain yang berjaga. Ketiganya bisa masuk setelah Moryak mengecek kelengkapan atribut mereka.
"Joonghyuk, nanti temui aku di ruangan OSIS." perintah Moryak.
Joonghyuk hanya berdeham pelan sembari berjalan melewati anak tertua keluarga Yoo itu. Langkahnya terhenti saat seseorang menabrak bahunya. Joonghyuk dengan spontan menatap wajah si pelaku dan terjadi adegan saling menatap layaknya di drama-drama yang Sooyoung dan Sangah sering tonton.
Si pelaku mengerutkan dahinya melihat wajah tidak ramah Joonghyuk, "Ah, maaf-"
"YOOHYUN!" ucapan pemuda itu terputus karena teriakan seorang pemuda yang lebih pendek darinya.
"Oh, Yoojin!"
Dokja segera menyapa pemuda itu, Han Yoojin begitu eksistensi teman sekelasnya itu memasuki pandangannya. Yoojin mempercepat langkahnya mendekati keempat orang yang ia kenal.
"Yoohyun! Astaga kamu kemana aja? Bukannya Hyung udah bilang buat langsung ke aula!"
Yoojin menceramahi pemuda yang ternyata adik laki-lakinya itu. Pemuda itu, Han Yoohyun hanya diam dengan wajah cemberut mendengar ceramah kakak kesayangannya.
"Yasudah, ayo Hyung antar ke-"
"Yoojin! Bantuin di sini cepat!" panggilan teman OSISnya menghentikan ucapan Yoojin.
Anak itu kemudian kebingungan harus menangani yang mana dulu. Sebuah ide jahil muncul di benak Sooyoung. Gadis itu segera merangkul Yoojin—sekelebat Sooyoung bisa melihat tatapan Yoohyun berubah jadi tajam.
"Udah, lo bantu aja anak OSIS aja. Si Yoohyun ini biar Joonghyuk yang antar!"
Dokja yang melihat kerlingan Sooyoung segera mengangguk setuju, "Iya! Biar Joonghyuk yang nanti antar dia!"
Wajah Joonghyuk mengerut tidak suka, namun suara teriakan teman Yoojin membuatnya tidak berbicara apa-apa.
"Eh? Beneran? Yaudah, Yoohyun, kamu ikuti temen ku itu sampai ke aula ya! Hyung pergi dulu!" Yoojin berbicara terburu-buru kemudian berlari meninggalkan mereka.
.
.
Di sepanjang perjalanan menuju aula, keduanya tidak banyak berbicara. Yoohyun sibuk mengamati sekolah barunya, sedangkan Joonghyuk enggan membuka pembicaraan. Perjalanan mereka sempat terkendala akibat siswi yang mengelilingi mereka layaknya semut mengerubungi gula.
Maklum, Yoohyun dan Joonghyuk dengan paras rupawan begitu berjalan berdua beriringan. Bagi para siswi itu kesempatan yang lumayan langka. Keduanya berhasil kabur begitu Joonghyuk membuat alasan keduanya harus menemui Moryak. Desahan kecewa terdengar dari para siswi yang mengerubungi mereka, namun tetap memberikan jalan agar keduanya bisa sampai ke tempat tujuan.
Yoohyun menghela napas, merasa lega ketika keduanya berhasil lepas dari siswi-siswi ganas tersebut. Tanpa sadar keduanya kini sudah berada di depan aula. Terdengar suara murid-murid baru saling berkenalan dan bercanda satu sama lain.
Joonghyuk ingin segera pergi dari tempat itu, sebelum sebuah suara menginterupsinya, "Makasih, Sunbae."
Joonghyuk memutar badannya menghadap adik teman sekelasnya itu. Yoohyun dengan tenang dan wajah datarnya menatap Joonghyuk.
"Dan maaf soal di depan gerbang tadi."
Joonghyuk hanya diam tidak menjawab, namun tangannya bergerak menepuk kepala Yoohyun. Pemuda yang lebih muda setahun darinya itu tersentak kaget. Melihat wajah kaget Yoohyun membuat Joonghyuk ikut tersadar dan segera menarik tangannya dari atas kepala Yoohyun.
Yoohyun bisa melihat mata Joonghyuk yang terlihat kebingungan. Tanpa berbicara, kakak kelasnya itu segera pergi meninggalkannya. Dan entah mata Yoohyun yang salah atau bagaimana, pemuda itu dapat melihat ujung telinga kakak kelasnya itu memerah. Sepertinya pemuda itu malu karena kelakuannya sendiri.
"Pfft-" Yoohyun sekeras mungkin menahan tawanya dan masuk ke dalam aula.
"Keknya kita harus ketemuan lagi, Sunbae."
Tbc
Ngihaaaaaa
Mumpung ide masih fresh, jadi upnya hari ini juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Choose Me !
Fiksyen Peminat"Joonghyuk-ah pilih aku atau dia?!" "Sunbae pilih aku saja!" "Dasar bocah prik." Berawal dari penasaran lalu bertanya pada sahabat kecilnya. Kini Yoo Joonghyuk malah terlibat situasi aneh seperti ini. Seharusnya ia tidak bertanya waktu itu. Benar k...
