Hai, sebelumnya aku mau nanya, aku suka masukin vidio lagu di mulmed, itu muncul di kalian atau nggak?
Jangan suka untuk komen kalo ada typo atau kasih kritik ya🥰
Selamat membaca❤️❤️
***
30. Satu Bahu Untuk Memikul Segalanya
***
Saat ini, jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang dua puluh menit. Membuat cowok bertubuh jangkung menjadi kelabakan seorang diri, pasalnya ia baru saja selesai menyelesaikan catatan di beberapa mata pelajaran dan juga merapikan buku tulis yang ia bawa di tasnya, namun tiba-tiba ia teringat dengan janjinya bersama Jerdian. Buru-buru Juandra menyambar jaket boomber serta kunci motor, lalu menelusuri lenggangnya jalanan malam. Meskipun dia yakin jika waktu tempuhnya tak sampai dua puluh menit, namun dia sudah berniat datang lebih awal tadi, tapi malah dia terlalu larut dengan buku-bukunya. Juandra tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri.
Delapan belas menit berlalu, sampai akhirnya dia sampai di lokasi tujuan. Jembatan itu terlihat sepi dan terasa tenang dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang lampunya masih terang benderang. Angin sepoi-sepoi, menerpa wajah tampan Juandra, membuat ia kerap kali merapatkan jaket untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat.
Sudah beberapa menit berjalan, dan ini lewat dari jam yang dijanjikan Jerdian, namun cowok itu tak kunjung tiba. Sampai Juandra pun berinisiatif untuk mengirim pesan.
Salinan Gue
Jer, lo dimana?
Gue udah sampe.
Coba turun ke bawah sedikit, disana ada kursi.
Read.
Juandra menuruti perintah Jerdian. Matanya menelisik ke setiap sudut yang ada di sini, mencoba mencari kursi yang Jerdian bilang. Ternyata tak sulit menemukannya, karena memang hanya ada satu kursi di halaman yang luas layaknya lapangan bola. Juandra mengerutkan kedua alisnya saat melihat sekotak sepucuk surat yang ditindih dengan kotak P3K agar tidak melayang jika terkena hembusan angin.
Awalnya Juandra ragu untuk mengambilnya, namun melihat keadaan di sini yang sepi, dia jadi penasaran. Dengan rasa penasaran yang hinggap di hatinya, Juandra pelan-pelan mengambil surat itu, lalu membacanya.
Obatin luka lo, jangan sampe muka lo jadi jelek dan kalah ganteng sama gue. —ian
Juandra memaki dalam hati. Benar-benar sialan, batinnya. Jadi, Juandra jauh-jauh datang ke sini hanya untuk bertemu dengan kotak P3K dan surat ini? Demi Tuhan, Juandra hanya ingin bertemu dengan kembarannya, bukan ini yang dia mau. Dengan emosi yang meradang, dia mencoba menelpon Jerdian, namun ternyata nomornya sudah tidak aktif. Dia bangkit dari duduknya, membuang kotak itu ke tanah hingga isinya berceceran dimana mana. Tangannya memukuli pinggiran kursi.
"Anjing! Anjing! Jerdian, sialan! Arghhh." Darah sudah bercucuran di tangannya, karena tergores oleh pinggiran kursi. Ia sudah tidak peduli dengan dirinya sendiri. Rasanya, semua sakit yang ada di tubuhnya bukanlah sesuatu yang hal yang harus di khawatirkan. Namun, tubuhnya menegang kaku, ketika sebuah suara akhirnya mengintrupsi dirinya. Suara seseorang yang ia kenal betul siapa pemiliknya.
"Lo sama kembaran lo sama aja ya, suka nyiksa diri sendiri." Juandra menoleh, melihat perempuan manis yang menenteng plastik belanjaan. Cowok itu hanya bergeming, sambil menyaksikan perempuan yang kini memungut obat-obatan di bawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Sisi (Sudah Terbit)
Novela JuvenilJerdian dan Juandra, si kembar yang berlomba-lomba untuk menutupi lukanya masing-masing. Terlihat saling ingin menjatuhkan, padahal mereka saling sayang. Mereka hanya tak tau bagaimana caranya menunjukkan rasa sayang seperti orang pada umumnya. Mamp...
