“prim.” prima melirik richelle yang baru saja datang ke rumah lama kedua orang tuanya; ketika mereka masih bersama.
“what’s wrong?” tubuh gadis itu terlihat tidak sehat sama sekali.
luka lebam ada di mana mana dan richelle juga menemukan banyak kaleng bekas minuman beralkohol di sekitarnya.
“lo gila?” prima tersenyum. “chelle.” richelle mendekatinya.
“lo masih punya buktinya kan?”
“kalau ada apa apa sama ibu gue tolong laporin dia ya.” richelle berjongkok di hadapan prima yang duduk di anak tangga pertama. “kita yang laporin.” ucap richelle.
“gue ngga mau kalau sendiri.”
“sama sagara.” richelle menggelengkan kepalanya.
“ngga usah ngaco prim.” prima menggulung piyamanya dan menampilkan luka goresan benda tajam yang cukup dalam.
“siapa?” tanya gadis itu.
“suaminya ibu.” air mata gadis itu menetes.
“gue anterin ke rumah sakit ya?”
“apa kata orang pas lihat gue nanti di sana? anak yang dianiaya sama ayahnya sendiri?” richelle mengepalkan tangannya.
“peduli lo sama omongan orang?”
“dulu mungkin engga.” prima menatap lengannya yang terluka dan richelle juga melihatnya.
gadis itu mengeluarkan hansaplast dari tas sekolahnya lalu dia tutup luka di lengan prima perlahan.
sagara mendengar semuanya.
laki laki itu keluar dari sana untuk menelepon pihak rumah sakit yang datang dua puluh menit setelahnya.
Whisper.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝓦hisper
Fanfiction[ ft. 박성훈 ; end ] and you say, ❝as long as i'm here, no one can hurt you.❞ © 2O22
