16: "Semua Kehilangan"

68 10 9
                                        

Sore itu, rasanya Jian dan Hana ingin menarik mulut Nadhif untuk berhenti menawarkan Joan bersama dengannya. Mengingat terakhir kali Joan malah menghubungi temannya yang berada di sekolah lain. Namun, kali ini berbeda.

Senyum Nadhif terlihat saat Joan menerima ajakannya untuk berangkat bersama dan membuat yang lain ternganga, termasuk kedua teman Joan.

"Joan gak salah, kan?" tanya Hana kebingungan dan kali ini kepalanya dipukul pelan oleh Angga. "Ih, apaan, dah!" rutuknya.

"Jangan banyak tanya masalah Joan," bisik Angga. "Sama gue aja!" ajaknya dan menunjuk ke arah motor miliknya.

Arion menatap lama ke arah Joan sebelum Jayden datang untuk memberikan boncengan. Sejenak ia mengembuskan napas hingga tatapannya dengan Joan bertemu. Alis gadis itu terangkat dan Arion menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Tidak ada yang dibicarakan sepanjang perjalanan, hanya embusan napas yang berulang kali terdengar. Masih terasa berat, bahkan bau yang tercium pun sama.

Bagas

Bagas

Bagas

Semua yang teringat di kepala hanya tentang Bagas. Joan mendongakkan kepala untuk menahan air mata agar tidak keluar begitu saja.

"Jangan gitu, nanti jatuh!" teriak Nadhif dari depan dan menepikan motornya, membiarkan yang lain melewati mereka. "Kenapa? Ada yang masuk?" tanyanya saat membalikkan badannya untuk melihat Joan.

Gadis itu menggelengkan kepala, tapi matanya yang memerah terlihat jelas.

"Bener? Itu merah, loh," tunjuk Nadhif lalu turun dari motornya dan membiarkan Joan tetap berada di sana. "Sini gue lihat."

Nadhif mendekat dan memperhatikan mata Joan untuk memastikan ada yang masuk pada matanya atau tidak. Dua detik yang sangat singkat, Joan tidak sanggup berada sangat dekat seperti ini. Ia pun mendorong tubuh Nadhif agar menjauh darinya.

"Mata gue gak apa-apa, Gas."

"Ha?"

Joan kembali menggelengkan kepala dengan mata yang ia pejamkan. "Gue gak apa-apa, Dhif," ulangnya setelah menarik napas singkat.

Nadhif mundur dua langkah dari hadapan Joan, ia memaklumi apa yang dirasakan oleh Joan sekarang. Kembali mengheningkan cipta dan Nadhif pun bingung apa yang harus dilakukannya sekarang.

"Ada tisu?" tanya Nadhif.

"Gak apa-apa, nanti merahnya bakal hilang," balas Joan. Matanya bukan karena dimasuki oleh sesuatu, melainkan air mata yang tengah ia tahan. "Mending nyusul yang lain aja," sambungnya dengan nada pelan.

Mengikuti apa yang dikatakan oleh Joan, Nadhif pun menaiki motornya dan mulai melajukannya.

🐣HIRAETH🐣

Tiga motor tengah berhenti di persimpangan jalan sedang menunggu temannya yang tertinggal jauh di belakang.

"Mereka gak berantem di jalan, kan?" tanya Jian, ia takut jika Joan menyesali karena pergi bersama dengan Nadhif.

"Atau kita susul aja?" tanya Hana.

Alby dan Angga mencoba menghubungi Nadhif karena sudah lebih dari sepuluh menit mereka menunggu dan Nadhif pun bukan tipe yang mengendarai motor dengan kecepatan yang di bawah rata-rata. Satu sisi, mereka bukan takut jika Nadhif dan Joan bertengkar, tapi takut jika kejadian yang dialami Bagas terulang oleh Nadhif.

"Salah satu dari kita nyusul aja gak, sih?" usul Alby dan disetujui oleh yang lain. "Biar gue aja sama Jayden atau Arion?"

"Gue aja." Arion menawarkan diri dan berpindah dari motor Jayden ke motor Alby.

HIRAETH - Ryujin ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang