32: "Kisah Yang Rumit"

46 7 0
                                        

"Kenapa Bagas? Kenapa malah ungkit dia lagi? Sadar gak, kalau lo terlalu aneh? Satu sisi lo nyuruh untuk meminimalkan semua tentang Bagas dan sekarang lo yang mulai duluan," tutur Joan tidak kalah emosi. "Kalau lo bahas itu, hubungan awal kita karena Bagas juga, kan?"

Nadhif mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin menjawab pertanyaan dari Joan karena memang begitu adanya. Laki-laki itu mengusap kepala dan berdecak kesal.

"Gak enak berantem di sini, mending nanti kita selesaikan dan jangan nyebut kata udahan lagi, tolong," ucapnya dengan penuh penekanan, lalu pergi dari hadapan Joan.

Rumit dengan kisah yang di jalani oleh Joan sekarang, dia pun berjalan gontai dengan pikiran yang sangat kacau.

Hana dan Jian tengah berbincang dan tentunya mereka sedang menunggu hasil yang dibawa oleh temannya itu. Namun, ketika melihat raut wajah Joan keduanya langsung tahu apa hasilnya.

Semenjak bertemu dengan Nadhif, Joan tidak berhenti untuk menghela napas. Hal seperti ini, tentu menjadi beban untuknya. Memang, jika suatu hal yang berhubungan dengan cinta atau perasaan pasti akan membuat manusia seperti orang gila.

Hana dan Jian sama kesalnya, hubungan yang dijalani Joan sama saja dengan hubungan yang tidak pasti. Jelas jika mereka menyudahinya, bila bertemu pun akan ditemani dengan pertengkaran. Lantas untuk apa masih dipertahankan? Joan hanya ingin salah satu saja, jika tidak ada waktu untuknya, sudahi saja hubungan itu.

Hari ini Syarif ke luar kota dan Jeffrian kembali menjadi tukang ojeknya Joan karena dia pun sudah pulang dari tempat magangnya. Melihat raut wajah temannya seperti itu, tangan Jeffrian sangat gatal ingin memasukkannya pada kolam ikan yang ada di rumahnya.

"Cepet tua lo begitu!" Tidak ada tanggapan kecuali helaan napas saja seraya memasangkan helm pada kepalanya sendiri. "Ck, pulang sendiri aja lo, males gue boncengan sama orang kusut gini," decaknya sambil menahan badan Joan agar tidak naik pada motornya.

"Ih, apaan, Jep! Gue lagi gak mood, nih!" bentak Joan.

"Gue juga gak mood kalau tampang lo begitu, Munah!"

Joan menarik napasnya lagi dan tersenyum paksa ke arah Jeffrian. Bahkan dia membuat jarak yang sangat dekat di depan wajah laki-laki itu dan berakhir dengan pukulan keras di atas helm Joan, membuatnya meringis kesakitan.

"Ya udah, ayo naik!" suruh Jeffrian.

Tidak ada berubahnya di antara mereka berdua. Jeffrian terus memancing emosi Joan sepanjang jalan, tetapi yang dilakukannya cukup menghibur perempuan itu. Pertengkaran yang meringankan beban pikirannya, berbeda dengan Nadhif yang tidak akan ada akhirnya dan malah menambah beban pikiran saja.

Baru saja sampai di rumah, Joan sudah dinanti oleh orang yang tidak asing lagi. Untuk apa dia ke sini? Pertanyaan yang terucap dari batinnya ketika melihat Yera duduk di teras rumah dan terlihat berbincang dengan ibunya.

"Itu yang ulang tahun kemarin, kan?" tanya Jeffrian sambil melirik Joan dari spion motornya dan Joan menganggukkan kepala. "Ngapain dia ke rumah lo?"

Joan mengangkat bahunya sambil turun dari motor dan menyerahkan helm milik Jeffrian. "Paling minta baju dia," jawab Joan asal, tetapi dengan rasa kesal. Mengingat baju yang diberikan oleh Nadhif kepadanya adalah baju milik Yera.

"Ha?"

Jeffrian kebingungan, dia tidak paham dengan maksud Joan. Belum sempat bertanya dia sudah pergi dan tanpa mengucapkan kata terima kasih.

"Kenapa pula gue bisa naruh perhatian sama dia," dumal Jeffrian dan melanjutkan motor ke arah rumahnya.

Perhatian Serin dan Yera teralihkan ketika Joan datang, lalu dia masuk ke rumah karena anaknya butuh ruang pula untuk berbicara dengan temannya. Namun, Yera menahan Serin sekaligus meminta izin membawa Joan untuk pergi bersama dengannya.

HIRAETH - Ryujin ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang