Di Balik Rahasia dan Debar yang Baru

200 31 2
                                        

​Lampu-lampu jalanan mulai menyala saat Giselle melangkah masuk ke dalam rumah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​Lampu-lampu jalanan mulai menyala saat Giselle melangkah masuk ke dalam rumah. Pikirannya masih tertinggal di food court mall, tepat pada ucapan Karina yang menggantung. Ada sebuah potongan teka-teki yang hilang: Apa sebenarnya hubungan Karina dengan Nancy? Apakah mereka sekadar teman satu sirkuit gosip, atau ada ikatan yang lebih dalam?
​"Geregetan sekali... kenapa semuanya terasa seperti misteri?" gumam Giselle sembari menggigit bibir bawahnya, tak menyadari langkah seseorang mendekat.

​"Hayo, sedang merencanakan konspirasi apa?" sebuah suara berat menginterupsi.

​Giselle tersentak. Renjun berdiri di sana dengan tangan bersedekap dan senyum jahil yang sudah menjadi ciri khasnya.

​"Tidak ada, Kak! Oh iya, Kakak... kenal Karina juga tidak?" tanya Giselle cepat, matanya berbinar penuh harap.

​Renjun terdiam sejenak, wajahnya berubah serius seolah sedang menggali memori jauh di otaknya. "Oh, tentu saja..." jawabnya pelan, membuat Giselle menahan napas.

​"Tentu saja... aku tidak kenal," lanjut Renjun dengan nada datar, diakhiri dengan tawa renyah yang menyebalkan.

​Brak!

​Tanpa aba-aba, Giselle menyambar mobil mainan limited edition milik Renjun yang tergeletak di atas meja dan melayangkannya ke arah sang sepupu. Beruntung, benda itu hanya meleset beberapa sentimeter dari telinga Renjun.

​"Wah, kau gila ya, Dek! Ini barang mahal!" Renjun buru-buru memungut "harta karunnya" dengan wajah panik, meniup debu khayalan yang menempel di sana.

​"Habisnya Kakak menyebalkan! Kalau tidak tahu bilang saja tidak tahu, jangan membuatku berharap!" seru Giselle kesal, lalu menghentakkan kaki menuju kamarnya dengan wajah merengut.

​Renjun hanya menggelengkan kepala, menatap punggung adiknya dengan sisa tawa. "Dasar... sepertinya memang sedang datang bulan. Pantas saja sumbunya pendek sekali," gumamnya maklum.

​Namun, belum sempat Renjun kembali duduk, Giselle tiba-tiba berlari keluar dari kamar dengan wajah pucat yang menggemaskan.

​"Huaaa, Kak Renjun!"

​"Kenapa lagi? Ada pasukan kecoa yang menyerbu kamarmu?" tanya Renjun, langsung memasang posisi siaga satu.

​"Bukan!"

​"Ada cicak jatuh di atas kasur?"

​"Bukan itu!" Giselle menggeleng cepat, napasnya sedikit tersengal.

​"Apa kalau begitu? Langsung katakan saja, jangan membuat Kakak jantungan!"

​Giselle mendekat, lalu berbisik dengan nada yang sangat pelan, hampir tak terdengar. "Bisa minta tolong... belikan sesuatu?"

​Renjun menaikkan alisnya. "Hmm?"

​"Beli yang ada sayapnya..." bisik Giselle lagi, wajahnya kini semerah tomat. "Jangan yang panjang, Kak. Yang pendek saja..."

​Renjun terdiam sesaat, lalu mengembuskan napas panjang. Ekspresi jahilnya seketika luntur, berganti dengan sorot mata seorang kakak yang siap siaga. "Hanya itu? Kenapa harus pakai drama seperti melihat hantu?" gerutunya pelan, namun tangannya sudah menyambar kunci motor dan dompet di atas meja. "Tunggu di rumah, jangan menangis!"

​Keesokan harinya, suasana sekolah terasa sedikit lebih cerah meski mendung masih betah menggantung. Di depan gerbang, langkah Giselle kembali tertahan oleh sosok yang kini mulai terasa akrab. Seungmin sedang bersandar santai di pilar gerbang, seolah memang sedang menantinya.

​"Hai, Gis," sapa Seungmin, senyumnya terkembang tulus.

​"Oh, hai Kak Umin," balas Giselle singkat, mencoba menormalkan detak jantungnya.

​Seungmin terkekeh, matanya menyipit jenaka. "Wah, sekarang aku punya panggilan sayang, ya?"

​"Eh, bukan begitu, Kak! Itu hanya singkatan, supaya lebih praktis!" Giselle buru-buru meralat, pipinya terasa menghangat.

​"Bercanda, Gis. Jangan terlalu serius," Seungmin menegakkan tubuhnya, menatap Giselle dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bagaimana kabarmu hari ini?"

​"Kabar siapa?"

​"Kabar kamu, dong. Memangnya aku sedang bicara dengan siapa lagi di sini?" Seungmin tersenyum manis, membiarkan keheningan sejenak menyelimuti mereka.

​"Baik, Kak. Syukurlah," jawab Giselle canggung. "Jangan bilang Kakak di sini hanya untuk 'memastikan' sesuatu lagi?"

​Seungmin terperangah sejenak, lalu tertawa lepas. "Wah, kau mulai bisa membaca pikiranku, ya? Makin sayang deh," godanya, membuat Giselle mendelik sebal.

​"Berhenti bercanda, Kak!"

​"Ish, kau ini tidak seru sekali," Seungmin pura-pura merajuk, bibirnya sedikit dikerucutkan.

​"Sebenarnya... apa yang ingin Kakak pastikan sih? Dari kemarin membuatku penasaran saja," tanya Giselle, tak mampu lagi menahan rasa keingintahuannya yang sudah mencapai puncak.

​Seungmin tidak langsung menjawab. Ia justru tertawa geli, lalu dengan gerakan kilat yang tak terduga, ia mencubit pipi chubby Giselle dengan gemas.

​"Aduh! Sakit, Kak!" seru Giselle sembari mengusap pipinya yang kini memerah.

​"Maaf, maaf," ucap Seungmin dengan nada menyesal yang dibuat-buat, meski matanya masih berkilat jenaka. "Habisnya kau menggemaskan sekali. Rasanya ingin sekali aku bawa pulang."

​Giselle hanya bisa mendengus, namun ia tak bisa menutupi tawa kecil yang lolos dari bibirnya. Ada sesuatu yang aneh dalam kedekatan ini. Seungmin adalah sahabat Jeno, namun kehadirannya yang ekstrovert dan hangat perlahan mulai mengisi kekosongan yang ditinggalkan pria yang tiba-tiba menghilang itu.

​Dalam diam, Giselle bertanya-tanya: Apakah Seungmin sedang menjalankan pesan rahasia dari Jeno, ataukah pria ini memang sedang mencoba menuliskan ceritanya sendiri di hidup Giselle? Apapun itu, misteri tentang hilangnya Jeno kini mulai bersaing dengan debar baru yang perlahan merayap di hatinya.

RUANG ANTARA KITA | JENSELLE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang