Pada larut malam, Taehyung masuk ke kamarku seolah tidak terjadi apa-apa.
Apakah ia lupa bagaimana ia membentakku? Aku pikir begitu karena dia tidak mencoba untuk meminta maaf dan aku meninggalkannya sendirian, tidak menginginkan konfrontasi seperti sebelumnya. Aku jarang meninggalkan rumah dan terus berdiam diri mengacaukan pikiranku. Semuanya tampak kacau dan membingungkan dan aku mulai khawatir untuk kewarasanku sendiri. Orang tuaku tidak berusaha menghubungiku dan aku tidak berpikir mereka akan datang menemuiku segera. Mereka malu dengan apa yang mereka lakukan padaku dan jujur aku tidak mau melihat mereka juga. Setiap ingatan tentang bagaimana hidupku dahulu terlalu menyakitkan dan aku lebih suka melakukannya tanpanya.
Sebuah amplop dilemparkan ke tempat tidurku ketika aku duduk. Aku memandang Taehyung yang sedang sempoyongan dan mengerutkan hidungku karena bau alkohol yang datang darinya. Dengan hati-hati aku mengambil amplop putih dan membukanya dan menemukan ticket ke Inggris, dengan penerbangan berangkat keesokan harinya, aku memandangnya dengan bingung karena aku tidak tahu sama sekali bahwa kami akan pergi.
"Kenapa kita pergi?" Aku bertanya kepadanya dan suaraku sendiri terdengar aneh bagiku karena tidak banyak menggunakannya selama beberapa hari terakhir.
"Kita perlu pergi dari kota untuk sementara waktu, Ayah berpikir akan menjadi ide yang baik untuk mengunjungi villa keluarga kami karena tidak mungkin orang mengetahuinya." Ia menjawab dengan nada singkat dan aku mengangguk. Dapat dimengerti bahwa keluarga kami ingin kami menghilang sebentar sebelum orang-orang mulai bertanya.
Mereka sudah memberi orang-orang itu cukup alasan mengapa kami tidak menghadiri makan malam atau mengapa kami melewatkan resepsi pernikahan kami sendiri. Inggris akan memberikan kesempatan bagi berita mengenai pernikahan ini untuk mereda dan mungkin kami bisa kembali.
Taehyung hampir dalam perjalanan kembali ketika ia tiba-tiba berhenti, membungkuk untuk mengambil sesuatu. Aku berlari cepat ke tepi ranjang untuk mencari tahu apa yang menarik perhatiannya. Aku mulai bermain-main dengan jari-jariku dengan gugup ketika ia mengambil potongan-potongan ponselku. Layarnya retak dan bagian belakangnya penyok. Aku telah memastikan untuk menjadikannya sama sekali tidak berguna sehingga aku tidak akan tergoda untuk menghubungi Yibo atau membalas panggilannya. Untungnya atau lebih tepatnya sialnya, tergantung pada bagaimana kau melihatnya aku tidak pernah bisa mengingat nomor telepon dan tanpa bantuan ponselku, ada kemungkinan kecil bahwa aku bisa menghubungi Yibo lagi. Lebih baik seperti itu.
Ia mengambil ponsel itu, memeriksanya dan kemudian menatapku meminta penjelasan. Aku mengedikkan bahu dengan santai dan berkata, "Itu terjatuh."
Ia mengerutkan bibirnya pada responku dan untuk sesaat sepertinya ia benar-benar peduli tetapi kemudian sesuatu pasti membuatnya berubah pikiran. Ia mengantongi ponselku dan mengangguk. "Aku akan memberimu yang baru. Aku akan mengambil ini sehingga kau tetap bisa memakai kartu simmu." Aku hendak memprotes tetapi kemudian rasionalitas mengingatkanku. Aku tidak perlu memberinya alasan.
Ia keluar dari kamarku dan kembali meninggalkanku dalam diam. Aku memilih untuk menonton TV dan mendengarkan berita. Membaringkan kepalaku ke bantal, aku membiarkan suara para reporter menjadi suara latar dan menutup mataku. Itu adalah teknik yang membantu, ketika para wartawan berbicara aku membayangkan gambaran sendiri dalam menanggapi kata-kata mereka. Ini membuat gambar-gambar tertentu tidak berkedip di mataku sampai aku tidur.
Hari berikutnya kepala pelayan dan para pelayan berada di kamarku, membantuku berkemas. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan karena ibukulah yang selalu melakukan pengepakan jika kami akan pergi untuk waktu yang lama. Aku membiarkan Nyonya Lee memeriksa barang-barangku dan memutuskan apa yang harus aku bawa. Taehyung sudah berkemas dan aku diberitahu bahwa ia sedang sarapan di ruang makan di lantai bawah. Aku tidak pernah bergabung dengannya untuk makan dan memilih untuk makan di kamarku. Namun pagi ini aku punya keinginan kuat untuk meninggalkan kamarku dan duduk bersamanya. Entah bagaimana aku berharap meninggalkan kota akan berarti bahwa sesuatu di antara kami berdua akan melonjak juga. Aku tidak mengharapkan kami untuk jatuh cinta, jauh dari itu, tetapi mungkin kami bisa belajar untuk berteman, hanya sampai kami mendapatkan penyelesaian.
"Nyonya, Tuan Kim sedang menunggumu di lantai bawah." Ia mengatakannya dengan suara kecil yang lemah lembut dan aku melihat seorang gadis muda, hampir 16 tahun menatapku dengan mata berbinar. Aku tersenyum hangat padanya dan mengangguk. Sudah waktunya untuk pergi dan aku tidak bisa keluar dari rumah ini lebih cepat. Berjalan ke bawah aku melihat seluruh barang bawaan kami sudah dimuat di dalam mobil dan Taehyung tengah mengetukkan kakinya dengan tidak sabar bersandar pada kusen pintu. Aku bergegas turun, suara tumitku menarik perhatiannya. Dengan ekspresi bosan di wajahnya, ia menyuruh pengemudi untuk membawa mobil ke depan rumah dan pergi tanpa mengakui kehadiranku. Aku memelototi sosoknya yang menjauh. Memangnya dia pikir dia itu siapa? Mungkinkah dia tidak mau repot-repot mengatakan sesuatu bahkan menyapa?
"Apakah kau mengepak semua yang kau butuhkan?" Ia bertanya padaku begitu kami berada di mobil dan menuju bandara? Aku mengangguk dan memalingkan wajahku darinya.
"Apa kau yakin?" Ia bertanya lagi. "Aku tidak mau harus kembali hanya karena kau lupa sepasang anting-anting atau sesuatu."
Aku memutar mataku dan sebelum aku sempat menghentikan perkataanku, aku telah mengatakannya. "Aku bukan Jisoo."
Aku menggigit bibirku segera setelah aku mengatakan itu dan melihat suamiku tersentak dan mengepalkan tinjunya. Aku ingin meminta maaf tetapi entah bagaimana kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulutku. Aku tidak merasa berhutang budi padanya, bahkan permintaan maaf pun tidak.
Sisa perjalanan berlalu tanpa bicara dan segera ketika kami berada di bandara. Taehyung mengurus semuanya, memperlakukanku seperti anak kecil yang tidak bisa dipercaya untuk menangani tanggung jawab seperti itu. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku pernah bepergian sendirian beberapa kali tetapi aku memutuskan untuk tutup mulut dan membiarkannya melakukan apa yang ia inginkan. Setelah kami check-in, kami menuju ke ruang tunggu dengan Taehyung berjalan setidaknya dua puluh langkah di depanku. Aku memutar bola mataku dan berjalan dengan susah payah ke arahnya, memfokuskan mataku di belakang kepalanya. Aku terlalu berkonsentrasi memelototinya sehingga aku tidak melihat orang lain berjalan ke arahku.
Aku hanya menyadarinya ketika aku menabrak orang itu dan barang-barangnya jatuh ke lantau membuat suara keras. Taehyung menoleh untuk melihat penyebab keributan dan mengerang ketika ia menyadari bahwa aku terlibat di dalamnya. Aku membungkuk untuk membantu mengambil barang-barang yang dijatuhkan wanita di depanku, terus-menerus menggumamkan maaf.
Ketika aku menyerahkan beberapa dokumen padanya, aku mendapat kesempatan untuk melihat siapa dia. Sekali lihat ia dan aku membeku. Aku bisa mendengar darahku berdesir kuat dan jantung berdetak kencang. Wanita itu sebenarnya seorang gadis, baru berusia 21 dan menatapku dengan mulut terbuka lebar. Sebelum salah satu dari kami sempat bicara, Taehyung datang dan berdiri di sampingku, tampak sopan seperti sebelumnya.
"Aku minta maaf atas kecerobohan istriku, kuharap tidak ada yang rusak." Ia berkata sambil menunjuk ke laptop yang gadis itu bawa di tangannya. Aku memberikannya untuknya pada hari ulang tahunnya, itu warna favoritnya, merah. Laptop warna merah itu sekarang cocok dengan warna wajahnya ketika ia menatap tajam ke arahku. Taehyung berkata istri, ia pasti mengambilnya. Aku harus menjelaskan beberapa hal kepadanya sebelum ia marah dan mengatakan hal-hal aneh kepada Taehyung. Aku membuka mulut untuk berbicara, mataku sedikit berair tetapi ia menyerangku sampai habis. Rasa sakit membuat mataku mengalirkan air dan aku berkata dengan suara bergetar.
"Lisa, tolong ini bukan seperti apa yang kau lihat."
"Bitch!" Ia meludah dan mengangkat tangannya dan seolah akan memukulku lagi. Aku menutup mataku menunggu rasa sakit, tetapi saat itulah akhirnya Taehyung kembali sadar dan berdiri di depanku dengan protektif, menangkap pergelangan tangan Lisa tepat pada waktunya.
"Apa yang kau lakukan?" Taehyung mendesis padanya, matanya tajam.
"Aku memberikan jalang pengkhianat ini apa yang dia inginkan." Lisa menjawab, nadanya asam.
Taehyung memandangku lalu kembali menatap Lisa. Ia kemudian menatapku, tangannya bersilang di depan dadanya, sosoknya menyembunyikan Lisa di belakangnya.
"Jungkook, apa yang terjadi?" Ia bertanya padaku, amarah dan rasa malu jelas dalam nadanya. Semua orang menatap kami dan telinga Taehyung memerah karena pertunjukan yang kami lakukan.
Aku menelan ludah dan memandang ke bawah, bertanya-tanya apakah aku harus berbohong tau tidak. Aku menduga bahwa kebenaran akan lebih baik melihat bagaimana Lisa ada di sana.
"Aku dulu berkencan dengan kakaknya." Aku berkata, rasanya kata itu bergema jutaan kali di seluruh pelosok dunia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Husband (PDF)
FanficFull chapter tersedia dalam bentuk PDF *** Ketika Jeon Jungkook menikahi Kim Taehyung untuk menyelamatkan keluarganya, dia tidak berharap untuk jatuh cinta dengan seorang pria yang selalu menganggapnya pilihan kedua. 👰👰👰 Ketika kakak perempuan Ju...
