Bell POV
Semua murid satu sekolah datang ngerumuniku yang masih diam terpaku bak patung. Ada yang memberi selamat ada juga yang bertanya-tanya, apa hubunganku dan Arsen sebenarnya, padahal selama ini seluruh siswa di sekolah tau, kalau aku dan dia tidak pernah bertegur sapa ataupun memiliki hubungan baik-baik. Kita selalu seperti musuh. Aku tidak menyukai kesombongannya dan dia sepertinya tidak menyukai sifat bossy-ku. Kalau begini, jadi aku yang malu. Benar-benar merasa dipermalukan. Bagai menjilat ludahku sendiri. Aku yang selalu menjelek-jelekkannya, kini menjadi kekasihnya. Ketiga temanku itu pun segera menarik tanganku keluar dari kerumunan.
"Wawancaranya besok aja ya! Sekarang kita mau minjam Bell dulu!" pamit Daffa pada yang lain, sedangkan Jerry dan Romeo menarikku ke ruang kosong dekat gudang sekolah. Aku tidak menghiraukan ucapan Jerry dan Romeo karena terlalu larut dalam hipotesisku. Mungkinkah semua ini menjadi kesempatannya untuk mempermalukanku? Atau dia diam-diam menyukaiku? Kalau yang terjadi adalah hipotesis kedua, maka itu adalah hal yang sangat tak terbayangkan sekaligus menggelikan.
"Errghh..." erangku kegelian karena membayangkan seseorang seperti Arsen menyukaiku. Bukankah ia seperti psycho jika seperti itu? Menyukai secara diam-diam, terobsesi, dan aku justru masuk ke perangkapnya sebelum ia membuat perangkap.
"Lo sebenarnya dengerin kita ga sih?!" kesal Jerry yang menyadarkanku dari hipotesis terhadap penerimaan pernyataan cinta oleh Arsen.
"Sorry.. Sorry. Kalian ngomong apa tadi?" tanyaku menatap mereka bergantian.
"Maaf gara-gara gue ama si o'on ini lo jadi kayak gini. Gue itu awalnya yakin banget kalo lo bakal ditolak. Tapi malah diterima.." ucap Daffa merangkul Jerry yang kebingungan dengan panggilan "Si O'on" yang dimaksudkan oleh Daffa.
"Ya gue juga nyangkanya gitu.." jawabku.
"Si O'on siapa Daf?" tanyanya yang langsung mendapatkan jitakan dari Romeo.
"Ya, lo lah. Siapa lagi?" jawab Romeo tetap menjitak sekaligus mengketeki Jerry.
"Duh... Duh.. Duh.." keluh Jerry sambil berusaha melepaskan diri dari jepitan Romeo.
"Udah, Yo. Kasian.." leraiku. Biasanya aku akan tertawa dan ikut menjahili Jerry. Tapi untuk saat ini, aku masih tidak bisa melepaskan pikiranku dari alasan mengapa dia menerimaku.
"Tumben, lo bela gue.." ucap Jerry sambil merapikan seragam dan rambutnya.
"Bersyukur lo. Malah begitu. Hu!" sahut Daffa seakan-akan melayangkan bogem kepada Jerry.
"Aneh ga sih dia nerima terus sikapnya kayak tadi?" tanyaku tanpa melihat mereka. Dugaan-dugaan dan hipotesis tadi kembali memenuhi ruang pikiran dan imajinasiku.
"Aneh." jawab Romeo singkat.
"Iya aneh. Masalah dia segala pake skinship kayak gitu. Kayaknya mau ngerjain lo deh.." terang Daffa yang memberikan pencerahan dalam hipotesisku.
"Hmm.. Masuk akal. Tapi bisa aja dia emang suka sama Bell." ucap Jerry yang juga sedang menerka-nerka.
"Ga gantle lah. Kalau suka bilang, bukan tiba-tiba kayak gitu.. " cela Romeo.
"Gimana mau bilang, Bell aja kayak singa betina lagi hamil. Dikit-dikit marah.." gumam Daffa yang masih dapat kudengar dengan jelas.
"Wah parah Bell, lo dikatain.." ucap Jerry berusaha memanas-manasiku.
"Ha!! Udah-udah. Pusing gue. Mau cabut duluan. Entar gue coba ngomong sama dia kalau tadi itu dare doang." ucapku lalu berjalan meninggalkan mereka.
"Mau kemana lo?!" teriak Romeo. Aku membalikkan badan dan menggerakkan bibirku seolah berbicara "UKS".
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold, Truth or Dare
Teen FictionKarena permainan bodoh itu seorang gadis tomboy harus menjalankan dare untuk menyatakan cinta kepada laki-laki the most wanted boy di sekolahnya, tepat di depan seluruh murid lainnya. Tentu saja ini hanya permainan baginya dan sudah pasti dia akan t...
