Bell's POV
"Gue kangen banget sama lo, Dek!" ucapnya lalu mengacak-acak rambutku dan tersenyum. Aku membalas senyumnya sedikit malu-malu dan canggung. Masih diantara percaya dan tidak kalau ia benar-benar ada di depanku sekarang. Terakhir aku bertemu dengannya saat dia SMP dan aku masih SD. Ayahnya yang merupakan seorang diplomat, membuatnya sering berpindah-pindah tempat tinggal.
"Kapan lo dateng ke Jakarta?" tanyaku basa basi sambil merapikan rambutku yang berantakan karena Ivan. Kak Ivan.
"Seminggu yang lalu.." jawabnya sambil ikut merapikan helaian rambutku yang membuat degupan jantungku meningkat pesat. Kalau begini, lama-lama jantungku bisa lepas dari tempatnya.
"Dek? Kenapa diem?" tanyanya semakin menatapku lekat. Ayo Bell, stay cool. Jangan mau kalah dengan perasaan.
"Ya emang gaboleh orang diem?" jawabku mengalihkan pandangan agar tidak bertatapan.
"Kirain diem karena terpesona sama gue yang makin ganteng hahahaha" candanya. Untuk itu aku setuju, memang dia jauh lebih tampan dari sebelumnya.
"Ngga, geer lo. Ihh geer..." ejekku membuatnya merangkul dan mengapitku ke arah ketiaknya. Jujur, wangi parfumenya benar-benar membuatku lemah. Sangat menenangkan.
"Nih nih rasain gue ketekin lo.. " ledeknya. Iya gapapa kok, aku juga betah kalau diapit begini. Hanya saja, aku tetap harus menjaga image-ku. Jangan sampai dia tau kalau aku sedang tergila-gila dengan wangi parfumenya.
"Bau ni!! Ketek lo bau banget! Ga mandi berapa hari?" ledekku kembali dan berusaha melepaskan diri dari apitan keteknya. Sebenarnya aku sangat betah dan sedikit berat harus menahan gengsi ini.
"Enak aja! Ketek gue wangi! Nih Nih cium yang bener!" ucapnya tak mau kalah dan semakin menyodorkan ketiaknya kepadaku. Aku menusuk-nusuk ketiaknya dengan telunjukku untuk membalasnya. Kena kau!
"Aduh-duh.. Hahahaha geli dekk ampun!" sahutnya lalu menurunkan tangannya dan melindungi ketiaknya dari serangan telunjukku. Kami tertawa lepas. Senangnya dapat kembali seperti ini.
Drrtt...ddrtt
Aku merasakan sakuku bergetar berkali-kali, menandakan ada panggilan atau mungkin pesan pada gedgetku. Aku menatap Ivan meminta izin untuk memeriksa handphone-ku sebentar. Aku mengerutkan dahiku ketika menemukan beberapa pesan dari nomor tak dikenal, lagi.
From : +628xxxxxxxxxx
Jangan pernah coba-coba buat selingkuh!
Nomor siapa lagi ini? Ini bukan nomor yang tadi. Sepertinya hari ini aku benar-benar di teror oleh orang yang tidak dikenal.
"Siapa sih? Iseng banget." gumamku kesal lalu segera menonaktifin handphone-ku dan menyimpannya di ransel.
"Pacar lo ya?" tanya Ivan membuatku menatapnya tegas dan menggelengkan kepalaku. Jelas. Aku. Tidak. Mememiliki. Pacar. Tidak sama sekali.
"Gue ngga punya pacar.." jawabku kembali menegaskan ketika ia justru menatapku mengejek seakan tak percaya. Aku memutar bola mataku mengisyaratkan kata 'Terserah' padanya.
"Terus yang tadi nembak cowok di tengah lapangan sekolah siapa? Bukan lo?" tanyanya sambil ngangkat sebelah alisnya. Aku membelalakkan mataku dan menatapnya tak percaya. Apa dia lihat adegan tadi?
"Ya bukanlah.." elakku. Bukannya tidak mau mengiyakan tetapi aku tidak ingin dia berpikir kalau aku menyukai laki-laki lain. Padahal, jelas, yang aku suka adalah laki-laki yang ada di depanku saat ini.
"Bohong banget lo! Gue tadi dibarisan paling depan. Jadi jelas banget tadi itu lo.." jawabnya enteng lalu kembali merangkulku dan tersenyum. Argh! Sudah Bell, makin tertutup rapat saja jalanmu untuk bisa bersama Ivan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold, Truth or Dare
Fiksi RemajaKarena permainan bodoh itu seorang gadis tomboy harus menjalankan dare untuk menyatakan cinta kepada laki-laki the most wanted boy di sekolahnya, tepat di depan seluruh murid lainnya. Tentu saja ini hanya permainan baginya dan sudah pasti dia akan t...
