Prologue

1.1K 163 42
                                        


Pernah mendengar soal titik librasi?

Kalau belum, bayangkan sebuah angkasa di mana kau melayang-layang tanpa keseimbangan. Tak ada gravitasi, tak ada tempat untuk berpijak, tak ada tujuan, tak ada harapan, tak ada impian. Namun, pada suatu saat, pada satu titik, tubuhmu mendadak stabil. Kau tak terhanyut, tak juga terseret pergi; mendapati setiap inci dari diri sendiri ditangkup dan diliputi keseimbangan. Tempat tersebutlah yang disebut sebagai titik librasi. Sebuah lokasi di mana terjadi tarikan gravitasi dari dua massa besar yang sampai saat ini, kerap dijadikan sebagai pendaratan satelit oleh NASA. Namun, bagaimana jika salah satu massa memiliki tarikan yang lebih kuat daripada yang lain?

Kalau tak salah, semua dimulai pada semester pertama tahun kedua sekolah menengah atas, musim semi, bulan Maret; bertepatan dengan tanggal panen daun bawang, lobak, kembang kol, hingga brokoli bertunas ungu. Di desa kecil yang jumlah penduduknya tak mencapai dua ratus kepala, kabar baru jelas tersebar kelewat cepat layaknya wabah.

Agak disayangkan, apalagi jika menilik buah bibir yang dilemparkan sama sekali tak terdengar menyenangkan. Sebuah keluarga dengan dua orang putra baru saja membeli rumah kosong di sini, katanya. Mereka mantan konglomerat yang jatuh bangkrut karena bernasib sial, imbuhnya. Kanna sendiri benar-benar ragu jika nasib sial saja bisa menguras habis dan menandaskan harta seseorang, tetapi untuk apa peduli terhadap kebenaran jika kebohongan terdengar lebih menarik?

Benar. Bukan urusanku.

Sama sekali tak perlu dirisaukan.

Namun, Mama yang berhati selembut puding susu buatan Bibi Hwang, mungkin berpikir sebaliknya.

"Berikan ini kepada mereka," titahnya.

Gadis itu seketika menahan napas saat sekotak besar kimchi dioperkan—masih segar, merah merekah, jelas terlihat menggiurkan. Nyeri pinggang akibat menggarami dua bak besar sawi putih bahkan masih menempel dan Mama sudah memberikan hasilnya kepada seseorang yang baru saja datang sehari lalu.

"Orang-orang yang sudah banyak melewati kesulitan pasti akan menghargai sedikit kemurahan hati. Jangan lupa katakan pada mereka kalau kita memanen sendiri bahan-bahan utamanya."

Si gadis jelas ragu. "Mama, mereka tak akan merasa begitu."

"Pergilah, Sayang."

"Bagaimana kalau mereka tak suka?"

Miyeon mendengkus samar, geli, memandang si gadis, menggelengkan kepala ketika mengembuskan napas panjang. "Saat hendak berbuat baik, jangan mengharapkan balasan. Lakukan tanpa pamrih, maka dunia pasti akan mengembalikan apa yang sudah kau berikan suatu saat nanti."

Itu jelas bukan argumen yang Kanna sukai. Mama terlalu naif, ia meyakini. Mama selalu berpikir bahwa dunia ini seputih kertas dan selembut kapas. Namun, jika Mama sudah memandangnya lurus tak berkedip, artinya tak ada jalan lain kecuali melakukan apa yang diperintahkan.

Jika memori si gadis tak keliru, rumah dengan dua lantai tersebut memang sudah dibiarkan kosong sejak ia berusia 11 tahun. Tak banyak yang berminat membeli properti di mana transportasi umum sulit dijangkau dan pusat kota terletak cukup jauh. Pemilik rumah, Tuan Joo, biasanya datang berkunjung sebulan sekali untuk memastikan bahwa tempat tersebut tak mengalami kerusakan fatal; tak mencurahkan banyak biaya untuk perawatan, tetapi juga tak semerta-merta mengabaikannya begitu saja.

Barulah sejak kabar mulai berembus bahwa rumah telah terjual, perbaikan mulai dilakukan. Rumput dipangkas, ranting pohon maple merah—yang menggores kaca—dipotong, dindingnya dicat ulang. Kanna juga menyadari bahwa kosen-kosen pintu yang dimakan rayap tak luput diganti dengan yang baru, tirai putih gading melambai dari jendela yang terbuka. Ada banyak kardus besar yang sudah dikosongkan dilipat dan diikat dengan tali, diletakkan di teras rumah ketika si gadis menghampiri.

Lagrange PointTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang