Terlihat sebuah mobil SUV berwarna putih yang tengah melintasi jalan raya dengan kecepatan sedang, di dalam mobil itu terdapat dua orang laki-laki dengan perkiraan usia antara 21 - 22 tahun. Berbeda dengan sang pengemudi yang tampak menikmati perjalanannya, sang penumpang justru terlihat memasang wajah masam dengan bibir yang mengerucut pertanda dirinya tidak menyukai perjalanan kali ini.
"Aku heran denganmu Juan, ada begitu banyak tempat di Rio yang bisa kau jadikan tempat meneliti dan kau memilih pergi sejauh ratusan kilometer untuk mendatangi sebuah mansion tua? Benar-benar gila" ujar Cio dengan napas yang berembus kasar.
"Ini bukan hanya sekedar mansion tua, Cio. Ada nilai sejarah dibaliknya. Kau tahu? Araruna dulunya menjadi kota yang menolak keras perbudakan dihapuskan."
"Tidak tahu dan tidak mau tahu." jawab Cio tidak acuh.
Mendengar jawaban sahabatnya itu, Juan pun memutuskan untuk tidak lagi berkomentar dan memilih menikmati sisa perjalanan ini dengan bersenandung. Juan tahu jika sahabatnya itu memang tidak menyukai perjalanan darat yang membutuhkan waktu lama, sehingga terkadang mudah sekali kesal.
Tidak terasa mobil yang dikendarai Juan hampir sampai di tempat tujuan, saat matanya menangkap plang bertuliskan 'Welcome to Paraiba' yang menandakan mereka sudah tiba di provinsi tempat kota Araruna berada. Kota Araruna adalah sebuah kota kecil yang terletak di pesisir timur Arjintina. Kota ini dulunya terkenal sebagai penghasil kopi terbaik di negara tempat Juan dan Cio tinggal, sebelum akhirnya para penduduk kota ini mulai berimigrasi ke daerah perkotaan yang lebih besar dan membuat kota ini seperti kehilangan jiwanya.
Juan adalah seorang mahasiswa arkeologi yang tengah mencari sisa-sisa perbudakan di kota ini untuk tugas akhirnya. Juan diberitahu oleh dosennya mengenai sebuah mansion tua milik seorang tuan tanah dari abad ke - 19 yang memiliki cerita kelam dibaliknya. Berbekal dengan bantuan teknologi bernama google maps, Juan pun memutuskan untuk mendatangi kota ini bersama dengan Cio sahabatnya.
***
"Ini tempatnya?" tanya Cio begitu mobil yang dikendarai oleh Juan berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua berlantai 3 yang terlihat sangat megah.
"Itu yang dikatakan oleh google maps." jawab Juan dengan mata yang masih tertuju pada layar ponselnya.
"Ini memang terlihat seperti mansion tua, namun cukup terawat. Kau yakin tempat ini yang di maksud oleh dosenmu?"
"Hanya ada satu mansion yang kita lihat saat memasuki Araruna, dan itu adalah bangunan ini. Jadi ku rasa memang ini tempatnya."
Mendengar penuturan dari Juan yang terlihat amat meyakinkan, Cio pun memilih keluar dari mobil untuk mendapatkan udara segar. Beruntung mereka berangkat saat matahari belum terbit, sehingga dapat tiba di tempat ini sebelum matahari menyengat. Cio memandang bangunan itu dengan seksama, ada perasaan hangat yang tiba-tiba menyelusup masuk ke dalam relung hatinya, seolah-olah tempat ini begitu familier baginya.
"Kalian pasti pembuat konten kan?" tuduh seorang laki-laki paruh baya yang menghampiri Cio dan Juan secara tiba-tiba, dan membuat kedua pemuda itu terlonjak kaget.
"Konten?" tanya Juan dengan alis yang dinaikkan sebelah.
"Disini tidak boleh membuat konten, tempat ini bukan untuk masyarakat umum lebih baik kalian pulang saja"
KAMU SEDANG MEMBACA
1881
FantasiaBencio harus terlempar ke masa lalu saat dirinya mencoba untuk menyentuh tiang gantung yang berada di sebuah mansion tua, dan membuatnya harus bertemu dengan seorang anak dari tuan tanah paling menakutkan yang ada di kota itu.
