03. Duka yang kembali

2.4K 285 9
                                    

" Jika langit bisa menerima senja, mengapa kehadirannya di balut kesengsaraan "

°°°

Baru saja kaki ini melangkah, berharap akan ada kebahagiaan menjemput, walau hanya sesaat. Lupa akan setiap kehadirannya yang tak diharapkan

"Aidan, maaf. Bapak tidak bisa lagi nahan kepala sekolah buat tidak mencabut beasiswa kamu"

"Gimana, pak?" Aidan memposisikan alat bantu dengarnya dengan baik, ia berharap rungunya salah tangkap

"Pihak sekolah udah mempertimbangkan semuanya, Aidan. Beasiswa kamu udah di cabut, mulai bulan ini kamu harus membayar uang sekolah"

"Kenapa, pak?" Ia berdiri, mencekal tangan guru BK yang selama ini banyak membantunya "Nilai saya ada yang bermasalah, pak"

Sang guru menggeleng, mengusak Surai Aidan "saya hanya menyampaikan amanah dari kepsek, untuk alasannya kamu bisa tanya langsung"

Tubuh Aidan meluruh, darimana lagi ia harus membayar uang sekolah, untuk mengisi perutnya pagi ini saja ia tak mampu.  Tak mungkin juga meminta pada Afano

"Terimakasih, pak. Kalau begitu saya pamit ke kelas" pamitnya masih dengan senyum yang sama

"Aidan" ditepuknya kedua bahu Aidan "mereka bisa berbuat sesuka hati karena mereka punya kuasa. Kita yang kecil hanya bisa ditindas tak mampu berbuat apa-apa. Jangan pernah berpikir untuk menjemput kedua orangtuamu"

'Aidan masih punya alasan untuk bertahan, pak. Mungkin, ada waktunya Aidan harus pulang.'

"Aidan masih takut dosa, pak" candanya

"Bagus, belajar yang benar. Buat ayah dan ibu bangga di sana"

Aidan tertawa, memasang pose hormat "siap, pak" sebelum kakinya melangkah meninggalkan guru Bk-nya yang tersenyum sendu

"Bahu mu terlalu kuat, nak. Bagaimana bisa mereka yang hina, membenci anak tak berdosa seperti mu"

°°°

Ruangan yang biasanya digunakan untuk mendisiplinkan mereka yang tak taat peraturan, kini dipenuhi asap rokok

"Kalau guru tau gimana?"

"Bapaknya natha guru BK, aman itu"

Yang di sebut namanya berdecak, tak suka akan tingkah laku temannya "Udah, anjing. Lo semua mau di skors?"

Afano melempar sebungkus rokok tepat pada wajah Natha yang tengah menahan emosi "dari pada lu ngebacot, mending join"

"Gue ga segila lu" sarkas Natha, menginjak bungkus rokok yang isinya masih penuh

Afano mendelik, ia membeli sebungkus rokok itu harus kejar-kejaran dengan polisi dulu "babi, lu kalau ga mau join mending sana keluar" katanya emosi

"Eh!, Udah woy!" Mahen berdecak, memisahkan keduanya yang hendak beradu kekuatan "Lo mending diem dah, fan"

"Bener, gue bawa berita bagus"

Alis Afano menaut, menatap Yohan yang tengah meneguk segelas wine "sesuai yang lu harapkan, bokap gue ngecabut beasiswa Aidan"

Surat Dari Adek | Jeno Haechan [ Tahap Revisi ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang