" Tuhan saja maha pemaaf, tapi mengapa hambanya tidak "°°°
Langit tampak cerah, sepertinya sang pusat tata surya sedang berbahagia. Pemuda manis dengan ransel coklat-nya, menelusuri jalanan setapak.
Memegang perutnya, netra bulatnya menatap asap mengepul dari kedai penjual roti bakar.
"Bunda, Idan mau roti bakar"
Tersenyum getir ketika kenangan masa kecil terlintas dalam benaknya. Merogoh saku seragamnya, hanya ada uang seribu logam. Bahkan ini hanya cukup membeli setangkai permen
Ia kembali berjalan, melirik arah matahari. Menghela nafas ketika ia sadar dirinya sudah terlambat, seharusnya ia bangun lebih awal seperti biasa. Mengingat ia tak lagi punya uang untuk naik kendaraan umum.
"15 menit dari jam seharusnya, lo pikir ini sekolah punya bapak lo"
Aidan meremat tali ranselnya, meringis ketika dirinya dimarahi petugas kedisiplinan sekolah
"Maaf, aku tadi bangun telat" ucapnya jujur. Ia dapat melihat Afano, berdiri tak jauh darinya
"Sana gabung, puter lapangan 20 kali" bahunya di dorong hingga tubuhnya sedikit limbung kedepan
Ia menatap Afano, berharap abangnya mau membantu. Ah, sepertinya Aidan bodoh. Mana mungkin Afano membantunya. Mereka tak saling kenal, perbedaan yang sangat kontras membuat siapapun tak menyadari bahwa mereka anak kembar
Ia mulai menjauh, ikut berlari mengitari lapangan bersama anak-anak yang juga terlambat seperti dirinya
Mulai menghitung setiap putaran yang sudah ia lakukan. Surai hitamnya lepek, peluh dimana-mana. Ranumnya bergumam, mengucapkan kata semangat pada dirinya sendiri
"Lo masih punya 17 putaran lagi"
Mengadah, mendapati Afano berdiri memperhatikan mereka. Ia tersenyum simpul, membiarkan kakinya melangkah membawa bobot tubuhnya yang kian dirasa memberat
"15 putaran lagi"
Aidan melajukan langkahnya "ayo Aidan, baru 5 putaran" ucapnya mensugesti dirinya sendiri. Namun nyatanya, tubuhnya merespon bertolak belakang dengan yang ia inginkan.
Ia menghela nafas, menatap tangannya yang di penuhi ruam-ruam merah. Sejenak ia berhenti, mengambil nafas dalam-dalam. Pusing mendera kepalanya, benda cair mulai menetes dari indra penciumannya. Seperti yang ia takuti, tubuhnya tak bisa diharapkan
"Idan ga boleh ikut lomba lari, Idan punya asma. Biar Fano aja yang ikut, Fano janji bawa hadiah sepeda itu buat Idan"
Bersimpuh dengan tangan memegang perut, Netra bulat itu sayu-sayu terpejam. Mengundang jeritan dari siswi yang melewatinya
°°°
Ruangan bernuansa putih, dengan sedikit sinar matahari yang mengintip masuk. Aidan melenguh ketika dirasakan kepalanya memberat"Udah bangun?"
Aidan menatap aneh pemuda mungil yang duduk sembari bermain ponsel "belum, masih tidur. Otw bawa kubur"
Arka mendelik, memasukan ponselnya kedalam saku "mulut lu kalau ngomong yang baik-baik aja, ntar di aminin malaikat kan ga lucu Dan"
Aidan tertawa "berarti emang udah saatnya"
Kali ini mulut Aidan di tampar kecil, Arka tak suka jika Aidan selalu membahas kematian. Memang kodrat-nya, setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Arka paham, hanya saja ia masih tak ingin temanya pergi lebih cepat.
"Jangan dulu njir, utang lu sama gue belum lunas" celetuk Arka sembari melempar sebungkus nasi goreng yang ia beli dari kantin
"Heh! Kan kamu yang suka tiba-tiba ngasih makanan. Masa itu di anggap utang?"
"Iyalah, semua yang gue kasih ke elu itu hasil utang di warung Bu Winda"
"Ka.." Aidan menatap tak percaya teman sebangkunya "jadi, nasi goreng ini juga hasil ngutang?"
Arka mengangguk santai "makanya lu harus hidup lebih lama" ucap arka memelan di akhir
"Nanti kalau ada duit ku ganti, ya ka"
"Makan aja sih, urusan bayar belakangan" Arka menyandarkan punggungnya di dinding " kata dokter yang meriksa lo tadi, Lo udah ga makan dari kemarin"
Kunyahan Aidan memelan "ngga, aku makan kok. Cuman tadi ga sempet sarapan"
"Dan, jangan bohong"
"Ka, mau makan atau ngga. Bukan urusan kamu kan?" Aidan melipat kertas nasi yang sudah habis isinya "ada waktunya, kamu mending diem dari pada harus bertindak untuk orang yang bahkan kamu ga tau hidupnya gimana"
"Gue cuma mau bantu lo?"
'Memangnya pembunuh berhak dibantu, ka.'
Aidan menepuk bahu Arka, ia tersenyum manis "cukup, kamu jadi temen ku selama ini. Aku udah seneng, ka"
°°°
"Tugas seorang Abang itu jagain adiknya"
"Fano paham ayah, kalau idan sakit, Fano peluk, kalau Idan diserang monster, Fano yang lindungi Idan"
"Kalau Idan nakal gimana ayah?"
"Fano musuhan sama Idan. Idan ga boleh nakal, nanti Fano hukum Idan, Fano kunciin di kamar mandi. Biar Idan kapok"
"Ga boleh gitu sama adiknya, bang"
Kaleng soda yang masih penuh isinya, tercampak menghantam dinding. Membanting tubuhnya pada sandaran kursi
"Kusut amat mukanya? Sebat?"
Afano menyambar sebungkus rokok yang diserahkan cuma-cuma. Memetik api, membiarkan batang nikotin itu terbakar
"Kali ini kenapa? Lo di tampar lagi sama cewe Lo?"
"Sekelas Afano? Ya kali kusut cuma gara-gara cewe. Ada kali seminggu 40 kali cewe nampar dia"
Sindiran itu bagai angin yang hanya menggelitik rungunya, ia kembali mengisap batang nikotin itu
"Aidan, dia gapapa kan?"
Alisnya bertaut, menoleh pada Natha yang berucap di sampingnya
"Ngapain lu nanya ke gue?"
Natha mengangkat bahunya "Lo yang nganter dia, njing?" Pemuda berwajah kelinci itu menatap Afano "kalau gue liat-liat, muka lo rada mirip Aidan?"
"Kembar kali, na"
Emosi yang ia tahan terlepas, pukulan mentah mendarat pada rahang kakak kelasnya "jaga alat omong lo"
"Dih? Marah lu? Atau jangan-jangan emang kembar?"
Afano kembali memukuli kakak kelasnya membabi buta, yang menyaksikan hanya bisa terdiam.
"Fan, udah bangsat. Anak orang bisa mati"
"Biar aja mati sekalian"
Natha menarik nafasnya "bunda, ga suka liat anaknya jadi pembunuh"
Tangannya menggantung di udara, Afano melepaskan cengkeramannya pada leher kakak kelasnya. Ia menyambar tasnya, pergi dari sana tampa menoleh pada Natha yang terdiam membisu, ia hanya refleks berucap seperti itu. Apa afano tersinggung?
Publis, Medan, 11 Jan 2023
Revisi, Medan, 14 nov 2024

KAMU SEDANG MEMBACA
Surat Dari Adek | Jeno Haechan [ Tahap Revisi ]
FanfictionHubungan saudara itu seperti jalanan kadang mulus kadang juga menikung tajam, bahkan ada banyak lika-likunya. Pada dasarnya hubungan persaudaraan memang tak selamanya akur, sesekali pasti ada yang diributi apa lagi anak kembar. Lalu bagaimana denga...