Bagaimana rasanya menjadi orang yang serba salah? Apa lagi sampai menyalahkan diri sendiri karena merasa sulit mengambil keputusan?
Kamu apa kabar? Dua tahun lalu, kita dipertemukan kembali setelah lima bulan tidak bertemu. Tentunya dengan suasana yang berbeda. Kalau diingat-ingat, malah berujung pada penyesalan.
Hari ini aku kembali menangis. Dengan sebuah lagu yang dirilis oleh virgoun tentang orang tua, juga bagaimana dewasa memang semenyebalkan itu.
Aku pikir di tahun ini aku bisa lebih baik. Ternyata masih belum mampu. Aku pikir mengenangmu aja udah cukup. Ternyata, nggak. Aku kangen banget sama kamu. Tapi, buat kita ngobrol lagi itu kayanya percuma.
Tapi, yang jelas, aku merasa serba salah sekarang. Kenapa aku harus mikirin perasaan orang lain sih daripada aku sendiri? kenapa aku nggak enakan sama orang? biasanya kamu yang bisa mencairkan semuanya.
Buat ngetik aja aku udah nggak kuat.
Dari 19 januari ke tanggal 30 januari butuh waktu seenggaknya 11 hari aku menulis lagi. Hujan sering melanda kota malam hari. Bikin kantuk menghampiri. Aku baru saja menyelesaikan sesi berbincang dengan ayah via video call.
Dilanjutkan membaca cerita fiksi, yang menceritakan alur 2008 ke 2015 sejauh ini, tayangan anak Pasha ungu yang sudah sedewasa itu, teman masa Sekolah Dasar yang baru saja menikah kemarin, ternyata, kita sudah setua ini.
Semoga, semesta berpihak pada kita. Untuk mencapai satu harap, bahagia. Meskipun nanti, kita tidak bersama.
To be continued
Published on January, 30.
