Aksa pulang sebelum jam makan malam dan El bahkan belum selesai masak."Kakak udah pulang?"
"Iya, santai saja lagipula belum masuk jam makan malam" ucap Aksa.
"Ya udah kakak bersih-bersih dulu aja, nanti kalau El udah selesai masaknya El panggilin Kakak" ucap El membuat Aksa mengangguk.
El menyelesaikan masakannya setelah itu Ia memanggil Aksa di kamarnya.
Suasana masih sedikit canggung dan keduanya tidak berbicara apapun sampai El tiba-tiba tersedak membuat Aksa bangkit dan memberinya air lalu mengusap punggung El.
"Kamu gak papa?" Tanya Aksa.
"Gak papa kok Kak, tersedak sedikit" ucap El membuat Aksa menarik tangannya dari punggung El.
"Maaf, kakak reflek" ucap Aksa akhirnya karena Ia tadi beranggapan jika Key yang tersedak makannya Aksa langsung bangkit.
"Nanti malam Kakak mau ke rumah sakit, kamu mau ikut gak?" Tanya Aksa.
"Kakak aja, El udah ke rumah sakit tadi pagi sebelum kerja" ucap El karena Ia juga tidak ingin mengganggu waktu Aksa dan Key.
Aksa selesai makan dan berdiri ingin membawa piring kotor miliknya ke dapur namun El menghentikannya.
"Biar El aja Kak, Kakak siap-siap buat ke rumah sakit Ajax ucap El mengambil alih piring di tangan Aksa lalu membawanya ke dapur dan membereskan meja makan.
Aksa hanya mengambil ponsel dan dompetnya di kamar.
"Kamu beneran gak mau ikut?" Tanya Aksa lagi.
"Iya Kak"
"Ya udah Kakak pergi dulu, kalau kakak pulangnya kemalaman dan kamu mau tidur kunci aja pintunya kakak bawa kunci cadangan kok" ucap Aksa.
"Iya Kak" setelah itu El menatap kepergian Aksa dari dapur.
"Mau bagaimanapun Key adalah hidup kak Aksa" ucap El dan tiba-tiba Ia merasakan mulai lagi dan kepalanya sedikit pusing.
"Sepertinya Aku langsung istirahat saja" ucap El berjalan untuk mengunci pintu depan sebelum Ia naik ke kamarnya.
El mengambil obat penambah darah dan meminumnya lalu ponselnya berdering dan itu Vino.
"Hai sayang" sapa Vino dan El menanggapi dengan senyuman.
"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Vino.
"Emang keliatan yah?" El.
"Iya agak pucet, kamu sakit atau kecapean kerja?" Vino.
"Mungkin aja, agak lemes doang sih dan udah minum obat kok"
"Gak periksa?"
"Aku gak papa Vino, mungkin efek Key gak bangun-bangun" ucap El dan raut wajahnya berubah sendu.
"Sayang, Key pasti sebentar lagi bangun. Jangan sedih terus nanti aku jadi pengin pulang buat peluk kamu" ucap Aksa.
"Tuh kan rasanya jadi kangen pengin cepet pulang" ucap Aksa dan raut wajah El kembali sendu mengingat apa yang akan terjadi jika Vino tau soal El dan Aksa. Vino pasti akan marah dan membencinya.
"Sayang"
"Ya"
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Vino.
"Tidak ada, Aku hanya takut"
"Takut apa sayang?"
"Oh tidak ada" ucap El.
"El.."
"Enggak ada Vino, Aku hanya takut saja"
"Udah, jangan banyak berfikir dan lebih baik kamu istirahat supaya keadaan kamu membaik" ucap Vino setelah itu panggilan berakhir.
Di sisi lain Aksa juga sedang mengusap punggung tangan Key. Entah kata apalagi yang harus Ia ucapkan Dia hanya selalu berharap Key cepat bangun.
"Key, apa menurutmu Aku sudah benar bersikap baik pada El?"
"Apa Kamu tidak akan marah jika Aku memberi perhatian pada wanita lain meskipun itu saudara kembarmu?"
"Apa kamu akan marah jika Aku terus mengabaikan Kembaranmu itu"
"Key.. kalau kamu bangun nanti dan mengetahui pernikahanku dan El apa kamu akan marah padaku dan El?"
"Apa kamu nantinya akan membenci saudara kembarmu karena menikah dengan ku?"
"Aku- Aku juga tidak ingin ini terjadi Key, jika Aku tau sejak awal pasti Aku tidak akan mengucapkan sumpah pernihakan itu" Aksa.
"Jika memang Aku bersalah, kamu bisa marah padaku tapi bisakah kamu bangun. Aku benar-benar merindukanmu"
.
.
Aksa turun ke lantai bawah dan mendengar suara El yang sedang muntah dari dapur.
"El" panggil Aksa menghampiri El yang sedang muntah di wastafel dapur.
Aksa memijit tengkuk El.
"Kamu gak papa?" Tanya Aksa.
"Iya kak, nyobain masakan tadi malah mual" ucap El membersihkan bibirnya dengan air.
"Masakan?" Aksa menghampiri kompor dan mencoba masakan yang El buat.
"Yang ikan kan?" Tanya Aksa.
"Iya" jawab El akhirnya.
"Gak masalah kok, cuman kurang garem aja" ucap Aksa.
"Ya udah, Kakak tambahin garem sendiri aja ya" ucap El masih merasa mual.
Aksa menambahkan sedikit garam pada masakan El.
"Udah mendingan?" Tanya Aksa.
"Udah si kak"
"Ya udah ayo sarapan" ajak Aksa.
Namun di meja makan El tidak menyentuh masakannya sama sekali.
"Gak ikut makan?" Tanya Aksa.
"Takut muntah lagi, soalnya masih ngerasa mual liat ikannya" ucap El.
"Ya udah kamu mau sarapan Apa, Kakak cariin" ucap Aksa karena ini hari libur jadi mereka free.
"Gak usah deh kak, El juga gak pengin makan" ucap El.
"Tapi kak boleh gak kalo Kak Aksa keluar beliin yang manis-manis tapi jangan cake" ucap El.
"Terus?" Aksa.
"Ya apa aja, yang penting jangan cake dan jangan cokelat juga" request El.
"Ya nanti coba Kakak cariin"
"Makasih kak" ucap El lalu berdiri dari duduknya.
"Kemana? Ini beneran gak mau sarapan?" Aksa.
"Mau nyuci, nanti aja" ucap El lalu akhirnya meninggalkan Aksa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Regret In Mistakes
FanfictionCerita seorang kembaran yang terpaksa menggantikan kembarannya di hari pernikahan karena mengalami kecelakaan dan Koma. Apakah yang suami bisa mencintainya atau bahkan membencinya. Seokjin Jisoo Taehyung