Meja

19 1 0
                                        

Hari yang melelahkan...

Pukul 23.30
==========================

“Mba Caera pulang aja ini udah mau jam 12 malam lo, entar dicariin orang rumah...” Ucap Wili dari balik meja kasirnya.

“Udah ngapapa, aku temani samapai closing ya... ” Jawab Caera sambil membaringkan kepalanya diatas meja.

“Katanya mau nemani closing, tapi malah tidur Mba? Udahlah pulang aja toh juga ada Abang tukang bakso yang nemani aku sampai closing hehehe...” Bujuk Wili cengengesan menghadap Abang tukang bakso yang dia maksud.

“emgh... Sudah lah nga papa, ntar bangunin aku ya kalo mas admin nya udah datang” Saut Caera yang sudah memejamkan matanya.

==========================
Dasar!

Pukul 00.15
==========================

“Tidak... tidak... bukan aku... jangan...”

Brungggg.....

“Apa apaan ini, malah tidur bukannya kerja!!”
Ucap seorang pria yang baru saja masuk cafe dan langsung menggebrak meja dimana Caera sedang tertidur lelap.

Suasana mendadak hening, wili yang tadi banyak berbicara selama Caera tertidur kini diam seribu bahasa saat melihat wajah pucat Caera yang kaget karena gebrakan meja dari seorang pria yang baru saja masuk.

Pria itu menarik kursi dan duduk tepat dihadapan Caera. Menatap Caera dengan seksama.

“Ehh, kalo ditanya itu ja jawab! Nga usah so sok kaget ya, se  se sampai muka di pucat-pucatin gitu!”

Pria itu menghujani Caera dengan pertanyaan yang mengintimidasi nya.

Caera menarik nafas yang dalam dan mengusap mukanya dengan kedua tangannya, berusaha menenangkan diri atas apa yang baru saja terjadi.

“Astaghfirullah, Ya Allah... Mas Aziz bikin kaget saja kurang kerjaan sekali sih! Jam berapa sekarang? Ko baru datang? Kasihan tau Wili dari tadi nungguin!”

Sekarang berbalik, giliran Caera yang memaki staf admin tu dengan berbagai pertanyaan. Wili merasa kaget dan terharu atas apa yang barusan Caera katakan. Kaget karena Caera memaki staf admin dan terharu karena ternyata Caera mempedulikan nya.

Ya itu pemikiran Wili, dia langsung meletakan segelas air yang dia pegang tepat di hadapan Caera. Tanpa bertanya segelas air itu untuk siapa Caera langsung meminumnya, entah lah apa yang membuat Caera begitu pucat sebuah gebrakan meja atau mimpi buruk yang menghantuinya.

“Ehh.. Tadi itu... Tadi... Di di sana... Gimana ya... Ehh... Macet Ra...”

Staf admin yang bernama Aziz itu memang memiliki kesamaan dengan comedian Aziz Gagap yaitu sama-sama gagap, yang membedakan mereka adalah comedian Aziz Gagap hanya gagap saat tampil di TV sedangkan Aziz staf admin lancar berbicara hanya saat menyanyi.

“Sudahlah mas Aziz aku tidak butuh penjelasan, langsung closing saja”

Caera berdiri dari tempat duduknya mengambil tas dan pergi meninggalkan meja dan 3 orang yang sedang sibuk menghitung omset hari ini.

“Lah mba... Ko pulang? Katanya mau temani sampai closing... Mba... Mba Caera... ”

Caera tidak menghiraukan teriakan dan rengekan Wili dia sibuk dengan  pikirannya sendiri.

“Eh Abang tukang bakso mau kemana? Jagan pulang atuhh... Ini closing nya belum kelar... ” 

Lagi- lagi Wili merengek agar tidak ditinggal tapi sepertinya dia hanya meminta pada angin lalu karena tidak ada yang menghiraukan nya.

“Su su sudah lah, ce ce cepat biar pulang juga”

============================
Tunggu aku...

Pukul 00.45
============================

Jarak rumah Caera dengan cafe tempat dia bekerja tidak begitu jauh bisa ditempuh dengan jalan kaki. Dan malam ini Caera memilih jalan kaki.

Tidak Ada Yang Perlu DisesaliCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang