III

11 0 0
                                        

Sejak kembali dari perpustakaan aku telah memikirkannya berkali kali, tapi tidak ada jawaban yang lebih tepat kecuali senjata yang berbicara kepadaku tadi adalah artefak.

"Nona, kenapa sejak tadi anda melamun?" tanya Mina. Ia tengah berdiri di belakangku, mengepang rambutku.

Setelah mandi kilat tadi awalnya aku tidak ingin di dandani lagi, karena toh nanti tinggal tidur kan? jadi untuk apa aku berdandan lagi?

Tapi Mina menolak dengan keras, bahkan dia menatapku dengan mata yang menggebu gebu seperti ingin memakanku, jadi kubiarkan dia mendandaniku.

Gaun yang ku pakai memang lebih simpel dari gaun tadi siang, dan aku pun tidak masalah dengan gaun berwarna tosca ini, ringan. Sedangkan rambutku hanya di kepang menyamping saja, katanya agar tak mengganggu makanku.

Aku yang tengah duduk di depan cermin menatap Mina lewat cermin.
"Apakah aku melamun?"

Mina mengangguk angguk, bersamaan dengan itu ia tersenyum kecil.
"Sudah selesai" girangnya.

Aku menatap diriku di dalam cermin.
Aku tersenyum tipis, gadis di dalam cermin itu terlihat cantik.
Kekuatan gen dari Ayah dan Ibu ku memang perpaduan yang hebat.

Setelah puas mengagumi diri sendiri aku pun beranjak berdiri dan melangkah keluar.
"Kembalilah, tugasmu sudah selesai"

Mina menggeleng; "Lalu nanti siapa yang akan membantu Nona melepaskan gaun untuk tidur?" tanya nya.

Aku terkekeh kecil.
"Aku bisa melakukannya sendiri" ucapku.
Mina menggeleng dengan keras, aku takut kepala nya akan terkilir.
"Tidak boleh, Nona! itu adalah tugas saya." ucapnya.

Sembari berjalan aku mengangguk kecil.
"Baiklah, aku tidak akan mengurangi tugasmu." candaku.

Aku melangkah menuju ruang makan, Mina mengikuti dari belakang.
"Apakah hanya Kak Louis yang akan makan malam?" tanya ku.

Mina terlihat seperti berpikir sejenak, lalu ia menggeleng.
"Saya dengar Yang Mulia Duke telah pulang Nona, jadi sepertinya hari ini beliau akan ikut makan malam bersama." jelasnya.

Aku heran mendengar penjelasannya, bagaimana dia tau ya? dia kan lebih banyak menghabiskan waktu bersama ku daripada dengan orang lain.

Tapi aku tidak berpikir buruk, jika itu Mina dia tidak akan membohongiku.
Untuk apa bukan?
Dia bahkan rela mati demi meyakinkanku.

.
.

"Nona, tolong percaya pada saya." ucap Mina,  ia tengah berlutut di hadapan Lyra, sedangkan Lyra membaca dokumen yang di berikan olehnya.

Wajah Lyra berubah menjadi gelap, ia menatap Mina penuh amarah.
"Kau mendapat semua omong kosong ini dari mana?"

Mina menjedukkan kepala nya ke lantai sampai berdarah, ia tidak berani melihat wajah Lyra yang seperti itu.
"Saya sendiri yang mencari nya, Nona. Tolong percaya pada saya" ucapnya.

Lyra tersenyum culas.
"Bagaimana aku bisa tahu kau jujur atau tengah berbohong sekarang ini? mungkin saja pihak lawan telah menyuapmu untuk merenggangkan hubunganku dengan Evan."
ucapnya, ia mendudukkan dirinya di atas meja yang ada di ruangan itu, sembari mngipaskan kertas dokumen di tangannya.

Kemudian dia berdiri dan mendekat pada Mina.
"Berdiri lah" perintahnya.

Mina segera berdiri. Lyra mendekatinya lalu mengelus lembut pipi nya.
"Kau tau? kau adalah teman yang baik bagiku. Tapi aku tidak akan mengampuni pengkhianat" bisik Lyra.

Mina merinding di buatnya, ia tau saat ini Nona nya tidak bermain main. Namun seperti Nona nya yang menganggap dirinya teman, Mina juga seperti itu. Baginya Lyra adalah adik yang harus dia jaga.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 06, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Lady Return's LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang