3. Ganteng?

1 0 0
                                    

Ia menggertakkan giginya diiringi dengan getaran kaki yang tidak bisa diam selayaknya orang menjahit. Dengan lekat ditatapnya Cillia oleh sang sahabat yang tak lain adalah Rania. Hembusan nafasnya pun dibuang tepat didepan wajah Cillia hingga temannya ini mengernyitkan dahi.

"Makan apaan lo bau banget!" Cillia mendorong pundak Rania untuk menjauh, sambil tertawa-tawa renyah ia meledek sang sahabat, "Pete, gasuka lo?"

"Gak lah! Bau banget ya ampun."
"Lebay lo elah!"
"Pantesan gak ada cowok yang mau deket ama lo, gak heran sih!" Cillia membalas sembari mengibas-ibaskan tangannya.
"Jangan gitu lo! Kayak pede aja lo punya cowok, kemaren aja bisa putus!"
"Mau berantem???"
"Hahahahaha anjir sorii lah!"

Hari ini sudah malam, namun Rania seenaknya datang bertamu. Sudah menunjukkan pukul sepulang kurang seperapat ia masih mau menunjukkan batang hidungnya di hadapan Cillia. Namun sang sahabat tidak masalah. Keluarga gadis ini pun sudah maklum dengan Rania, anak ini memang sahabat terdekat Cillia sejak SMP. Rumahnya pun tak jauh, hanya beda blok. Rania adalah seorang perempuan bertinggi sedang berkulit sawo matang. Wajahnya benar-benar seperti orang Jawa, rahangnya tegas dan bibirnya sedikit tebal. Sama seperti Cillia ia mengenakan kacamata namun framenya sedikit lebih tebal. Kepribadiannya lumayan tengil, namun sangat setia kawan. Sangat bisa diandalkan oleh Cillia.

"Betewe busway lo gak nemu cem-ceman baru?" Rania menyenggol lengan Cillia sambil menggoda, gadis berpiyama hijau tua ini menggeleng, "gak ada sih. Kurang menarik anak-anak kelompok gua, yang ada cewek-ceweknya yang cakep."

"Gua nanya cowok! Bukan ceweknya!"
"Ya itu gue udah bilang juga, kurang menarik di kelompok gue!"
Rania mendengus tak terima, ia mengintip layar ponsel Cillia dan mendapati ada sebuah foto profil anak laki-laki yang masih dalam mode zoom. Lantas Rania menyabet benda pintar ini dan mulai mengamati lekat-lekat.
"Ini yang lo bilang ga menarik?! Ganteng parah cuy!" Ucapnya dengan nada heboh, Cillia buru-buru menyambar handphonenya dan memasukkannya kedalam saku celanananya, lalu berkata, "Emang gue kasih izin buat lihat?!" Nadanya sedikit meninggi.

"Hayooo zoom zoom foto orangg!"
"Gak boleh?!!"

Kekurangan dari Rania adalah sikapnya yang sedikit seenaknya, kadang Cillia suka gemas sendiri menghadapinya.

"Kasih tahu boleh kali ignya..."
Cillia menolak tegas, "gak."
"Nama aja deh!"
"Ada syaratnya!" Cillia berkata sambil tersenyum miring, Rania menggerlingkan matanya dan menyahut dengan jengkel, "apaan?"
"Jokiin tugas MPLS gua ya."
"Dekil lo! Kerjain sendiri!"
"Yaudah sih tadinya gua sekalian mau spill yang lain juga."
"Oke mana kertasnya gue kerjain abis ini."
Cillia tersenyum puas, "gitu dong."

Telunjuknya yang lentik sibuk menggeser layar ponselnya untuk mencari sosok yang dibilang tampan oleh temannya. Rania sangat semangat dilain sisi Cillia sedikit jengkel. Harusnya ia jauhkan handphone ini dari jangkuan Rania yang sangat sangat kepo itu.

"Nah ini!" Pekik Rania bersemangat, Cillia menatap tak percaya. Kenapa jadi Arlen?!

"Ini banget Ran?" Ia bertanya memastikan, Rania mengangguk cepat, "benerr! Itu orang yang tadi gue lihat ganteng!"
"Ganteng?"
"Iyaaa!"

Darimana gantengnya?!

Darimana gantengnya?!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 06, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Youth! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang