"Lo manggil siapa?" Tanya Ryan tidak percaya. Dia langsung berdiri begitu mendengar namaku disebutkan oleh Adam dengan santai.
Meskipun Ryan terlihat gusar, Adam tidak mempedulikannya dan menerobos masuk. Dia melewati banyak siswa dengan kasar dan berjalan ke arahku yang sudah tidak bisa bersembunyi. Dengan langkah cepat dia membuka jalan kemudian menarik tanganku. Tanpa berdaya karena Adam lebih kuat, aku dipaksa berdiri kemudian ditarik mengikutinya.
"Lan. Ayuk jalan. Kita berdua aja." Kata Adam.
"Kak, please, tolong pergi. biarin aku tenang. Hari ini aku ngga mau bolos." Bisikku. Aku memang tidak siap untuk berdua saja dengannya. Entah apa yang akan dia lakukan padaku jika itu terjadi.
Sayangnya Adam tidak mau mendengarkan. Dia tetap menyeretku paksa di tengah seluruh pasang mata yang memperhatikan kami. Adam baru berhenti ketika Ryan dan dua temannya menghalangi jalan.
"Ngapain lo narik-narik babu gue!" Tanya Ryan sambil memelototi Adam.
"Babu lo?" Adam bertanya balik.
"Iya. Babu gue. Si Cupu mau gue suruh gantiin piket gue nanti, jadi dia ga boleh kemana-mana."
"Lo ngga bisa nyuruh-nyuruh cowok gue. Ngga akan gue biarin. Sekarang gue mau cowok gue jalan sama gue jadi dia mesti jalan sama gue." Kata Adam dengan omong kosongnya. Meskipun aku tidak pernah merasa menerimanya sebagai pacar, Adam rupanya langsung mengataiku cowok punya dia. Aku harus meluruskan ini sebelum semuanya makin kacau.
"Kak, aku bukan cowok kakak!" Kataku setengah berteriak.
"Kalau gue bilang lo cowok gue, artinya lo cowok gue." Adam bicara tegas sambil mengeratkan pegangan tangannya pada pergelangan tanganku.
Aku mulai panik. Adam tidak bisa melakukan ini. Dia hanya akan membuat Ryan makin panas. Kalau Ryan makin marah, hidupku akan makin sengsara.
Seakan mengabulkan kekhawatiranku, Ryan menyeringai dengan sorot mata tajam. Pandangannya beralih dari Adam menuju ke arahku.
"Oh, gue ngerti. jadi lo udah bisa godain cowok sekarang? Hebat juga lo." Kata Ryan jengkel.
"Ngga gitu." Aku membela diri.
Ryan beralih ke Adam lagi. "Kalau gue bilang orang ini babu gue, artinya dia babu gue. Elo ngga bisa bawa dia kemana-mana. Kalau Si Cupu berani pergi sama lo, Begitu balik ke kelas ini, dia bakal gue habisin." Ucap Ryan dengan penekanan-penekanan serta aura dingin yang menyeruak seperti blizzard.
Aura dingin itu merasukiku begitu kuat sehingga tanpa sadar wajahku terasa ikut beku. Ekspresi Ryan ini adalah ekspresi yang dia gunakan ketika memukuliku. Mengenang semua siksaan yang pernah dia berikan, tanganku langsung gemetar.
Mendengar ancaman Ryan, Adam menarik kerah baju cowok itu kemudian Dimas dan Ergi balas menarik kerah baju Adam. Empat orang itu berada dalam posisi terkunci namun siap berkelahi. Tidak ada yang berani melerai. Tidak ada yang berani melapor pada guru juga. Semua yang hadir hanya menonton empat berandalan itu memelototi satu sama lain.
"Kalau lo ganggu cowok gue, gue akan hajar lo lagi kayak dulu." Adam mengangkat dagu dan mengeratkan pegangan tangan kanannya pada kerah baju Ryan.
"Lo pikir gue takut?" Ryan langsung melayangkan pukulan namun Adam berhasil menghindar. Dalam sekejap tanganku dilepaskan sementara Adam membanting Dimas dan Ergi ke lantai. Gara-gara itu, seluruh kelas tidak lagi bisa diam.
"Panggil guru sana!"
"Lu aja. Gue takut."
"Duh gimana nih?"
"Jangan berkelahi please."
"Ryan, hajar dia!"
"Habisin Adam!"
Berbagai macam bisikan, bujukan dan dukungan terdengar ketika Ryan dan Adam berhadapan. Dimas dan Ergi yang kalah telak langsung mundur dan berubah jadi cheerleader. Mereka membiarkan Ryan membereskan semuanya. Tanpa banyak drama lagi, perkelahianpun dimulai. Ryan dan Adam menyerang satu sama lain dengan gerakan cepat dan terlatih seperti dua aktor film laga.
"Lan, kamu ngga apa-apa?" Di tengah kekacauan itu, Ethan mendatangiku yang mundur ketakutan dan tidak tahu arah lagi. Dua monster di depanku itu membuat kepalaku meneriakkan bahaya terus menerus. Stress yang sulit ditangani akhirnya membuatku ingin segera melarikan diri. Tak lama kemudian, kakiku malah lemas dan aku jatuh berlutut ke lantai.
Aku mulai takut karena membayangkan kemarahan Ryan nanti. Aku juga takut pada Adam yang mungkin menyeretku ke rooftop lagi. Ryan mungkin menusuki jarum ke bawah kukuku kemudian Ergi dan Dimas mungkin menghajarku. Terakhir kali, mereka mengancam akan membuat foto-foto memalukan jika aku berani macam-macam. Apa ancaman yang diucapkan itu akan dilakukan?
"Kenapa hidupku sesusah ini?" Keluhku ketika Ethan mengelus-elus punggungku untuk menenangkan.
"Bangun dulu Lan. Kita ke belakang ya, biar aman." Kata Ethan membisiki.
Aku tidak bicara lagi dan mengikuti tuntunan Ethan. Kami mundur jauh ke belakang hingga mepet tembok. Di depan papan tulis, Ryan sedang menyikut Adam dan Adam membalasnya dengan tendangan. Dua manusia itu benar monster. Pantas saja aku tidak pernah bisa berkutik jika Ryan ingin membully. Orang itu juga tahu betul apa yang perlu dilakukan agar pukulannya terasa menyakitkan.
"Lan, kamu ngga apa-apa?" Tanya Ethan lagi.
Aku akhirnya mengangguk setelah menarik nafas beberapa kali. Kalau bukan karena bantuan Ethan, aku mungkin masih berlutut di lantai tanpa bisa berbuat apa-apa. Kelemahan ini membuatku jijik pada diriku.
Suara-suara seruan terdengar riuh. Ada yang berteriak melihat kebrutalan perkelahian Ryan dan Adam. Ada yang berbisik dengan temannya. Ada juga yang bertaruh. Terakhir, ada yang menyorotku dengan pandangan aneh.
"Gue ngga nyangka Si Cupu kayak elu bisa dapet cowok. Lu pake pelet ya?" Sinta mendekat dan langsung menyodok dahiku dengan dua jarinya.
"Dasar homo kegatelan. Apa ngga cukup sama Ethan aja?" Tambah teman Sinta di sebelahnya.
"Eh jelek! Ngga usah ganjen lo! Gue jijik ngeliat orang macam elo keganjenan gini. Bisa ngga sampah kayak elo mati aja?" Lina, sahabat terbaik Sinta ikut menyahuti.
"Kalian jangan keterlaluan." Kata Ethan membela. Aku sendiri tidak bisa membalas ucapan trio cerewet ini. Mereka selalu bisa berbicara lebih cepat sebelum korbannya mampu membalas.
"Hidih, lo belain pacar lo tapi dianya ganjen nyari cowok lain. Apa lo ngga sakit hati, Than?" Sinta beralih ke Ethan.
"Ethan bukan pacarku." Balasku cepat. Semua kesalahpahaman ini harus diluruskan segera.
"Oh jadi elo tipe yang itu, yang flirting kemana-mana tapi sok-sok-an ngga pacaran dengan siapa-siapa. Biar dapet semuanya." Pembicaraan Sinta makin ngelantur. Kenapa ada saja pikiran buruk yang muncul di kepala cewek ini?
"Dasar gi..." Sinta mau melanjutkan hinaan tapi terhenti oleh suara keras dari pintu.
"Ada apa ini?" Bentak Bu Dilla begitu melihat kekacauan yang terjadi di kelas. "RYAN! ADAM! Ngapain kalian berantem?"
Dua berandalan yang tadi sibuk memukuli satu sama lain akhirnya terpaksa berhenti. Sudut bibir Adam terlihat memar dan berdarah sementara Ryan mendapat bekas biru di tulang pipinya. Mereka melepaskan satu sama lain begitu Bu Dilla melerai.
"Kalian berdua ke ruang BK sekarang!"
***

KAMU SEDANG MEMBACA
RYVAN 1 - Ugly Duckling
RomanceSeme pembully vs Uke culun vs seme gentleman Cerita tentang orang culun yang menjadi ganteng setelah bertemu tambatan hati yang baik. Sayangnya gara-gara glowing up, orang yang dulu suka membullynya malah mengejar-ngejarnya. Catatan: author nulis u...