Saat hari itu tiba, hari di mana dirinya akan menyandang gelar sebagai pengantin pria untuk Jiwon, dapat membuatnya menjadi pria paling bahagia di dunia. Karena setelah penantiannya selama bertahun-tahun, dirinya berhasil meyakinkan Jiwon untuk mengarungi mahligai rumah tangga bersamanya.
Tapi ternyata kebahagiaan yang ia kira dapat memuaskan dahaga miliknya, tak kunjung ia rasakan.
Mujin justru mendapatkan jenis emosi baru seperti rasa hampa yang menyakitkan.
Sambil menunggu kedatangan Jiwon di altar, Mujin masih sempat-sempatnya memperhatikan tamu undangan yang datang. Kedua obsidian hitamnya mencari keberadaan So Hee, namun wanita kesayangannya itu tidak ada di sudut manapun.
Seketika rasa cemas dan takut menghampiri dirinya, ia takut jika So Hee memutuskan untuk pergi dari hidupnya karena dirinya yang akan menikah.
Mujin tidak mau jika itu sampai terjadi, meskipun dirinya telah menikah namun hubungannya dengan So Hee harus tetap berjalan.
Lamunannya tentang So Hee terhenti saat Jiwon datang dengan gaun pengantinnya dari arah depan melewati karpet yang digelar panjang membelah jalanan.
Mujin memusatkan perhatian pada wanita tercintanya, seulas senyum tipis terbit di bibirnya. Jiwon nampak cantik dengan balutan gaun pengantin itu. Meski tubuhnya tidak lagi seindah dulu, atau wajah cantiknya tidak berseri seperti dulu, semua tidak akan merubah fakta jika Jiwon adalah wanita yang ia cintai.
Para tamu yang hadir hanya diisi oleh keluarga inti Jiwon dan Mujin, sedangkan pernikahan yang digelar menampilkan tema kebun bunga kecil-kecilan seperti permintaan Jiwon.
Jiwon dan Mujin kini saling berhadap-hadapan, keduanya melempar senyum satu sama lain.
Hingga kemudian sang pastor memulai upacara pengesahan janji suci yang akan diucapkan ulang oleh pasangan pengantin tersebut.
Jiwon kembali merasakan sakit tak terkira pada kepalanya, namun ia berusaha untuk menahannya karena sebentar lagi waktunya untuk mengucapkan janji suci.
Tepat setelah dirinya selesai, Mujin mencium bibirnya sekilas. Jiwon tidak melepaskan pelukannya pada pundak Mujin, tidak setelah darah yang pekat keluar dari hidungnya.
“Mujin, jangan siksa dirimu sendiri.” wanita itu berujar pelan dan lemah.
Lalu setelah itu kedua matanya terpejam erat, dan Jiwon pun pergi setelah dirinya resmi menjadi istri dari Choi Mujin.
“Jiwonie—” Mujin menyebut nama itu dengan nada getir.
Dipeluknya erat-erat tubuh Jiwon itu, ia memeluknya seolah-olah tidak rela saat sang maut memisahkan keduanya.
Para tamu mulai menghampiri keduanya dengan perasaan iba, mereka semua tahu bagaimana kisah cinta Mujin dan Jiwon sejak awal.
Mujin yang tidak pernah menyerah akan kesehatan Jiwon, mendampingi wanita itu sejak awal hingga kini. Pria yang tidak pernah mengeluh dan berusaha keras meyakinkan diri jika kebahagiaan adalah akhir untuk keduanya.
Namun rupanya Tuhan memiliki kehendak lain, dan Jiwon benar-benar pergi ke sisi-Nya dalam keadaan menjadi seorang istri dari pria yang dicintainya.
Walau hanya untuk beberapa detik.
**
Would you tell me I was wrong?
Would you help understand?
Are you looking down upon me?
Are you proud of who I am?
There's nothing I wouldn't do
To have just one more chance
To look into your eyes
And see you looking back[Christina Aguilera - Hurt]
Mujin barusaja pulang dari pemakaman Jiwon, dan kini ia pergi untuk mencari So Hee ke rumahnya.
Wanita itu sejak pagi tadi tidak terlihat batang hidungnya, membuat dirinya yang memang sudah cemas semakin dibuat kelimpungan.
Ia mengamati rumah So Hee dari depan, sepi seperti biasa. Tanpa menunda waktu lagi dirinya langsung membuka kunci pintu rumah wanita itu.
Tidak heran kenapa Mujin bisa memiliki kunci rumah So Hee, karena rumah itu memang pemberian darinya. Dan ia tentu memiliki kunci lain agar bisa masuk secara leluasa menemui wanita kesayangannya.
Kepergian Jiwon menciptakan luka yang mendalam bagi Mujin, selain tidak ikhlas karena wanita itu pergi meninggalkannya. Mujin juga merasa teramat bersalah pada Jiwon, atas semua sifat brengseknya karena memiliki wanita lain selain Jiwon.
“So Hee, Ini aku!”
Mujin berteriak memanggil So Hee di dalam kamar wanita itu, namun tidak ada sahutan dari sudut mana pun.
Pria itu lantas mencarinya ke tempat lain, mulai dari kamar mandi, ruang makan beserta dapur, juga halaman belakang rumah itu.
Tapi hasilnya masih sama, So Hee tidak ada di mana pun.
Dengan pikiran yang mulai kalut, Mujin mencoba menghubungi So Hee tapi seberapa sering ia mencoba, nomor wanita itu tetap tidak aktif.
Pria itu lantas kembali ke kamarnya dan menjatuhkan diri di samping ranjang So Hee.
“Aku telah kehilangan Jiwon, dan sekarang aku juga kehilangan So Hee—”
Mujin menjatuhkan kepalanya pada kasur dan meremas sprai nya dengan erat.Apakah ini balasan atas keserakahannya? Atau atas semua kebohongannya pada Jiwon maupun So Hee?
Kepergian Jiwon memang membuatnya sangat terpukul, tapi selain itu Mujin juga merasa lega. Setidaknya Jiwon tidak perlu lagi merasakan sakit karena penyakit yang di deritanya.
Apalagi saat Jiwon pergi, keduanya telah resmi dinyatakan sebagai sepasang suami-istri. Hal yang sangat diinginkan olehnya maupun wanita itu.
Tapi kepergian So Hee membuatnya sangat putus asa, ia sudah terbiasa hidup bersama wanita itu. Terbiasa diperhatikan, terbiasa dicintai, dan ia tidak yakin mampu menjalani hidup dengan normal tanpa kehadiran So Hee.
“Kemana dia pergi?” Mujin bergumam pelan.
Ia lantas mencoba untuk bangkit dan mencari petunjuk yang bisa saja ia dapatkan dari kamar So Hee.
Mujin mulai menyisir beberapa tempat dan benda yang mungkin saja bisa dijadikan petunjuk. Dan kedua obsidian hitamnya jatuh pada sebuah test pack yang berada di bawah ranjang milik So Hee.
Dengan cepat Mujin berjongkok dan mengambilnya.
Jantungnya berdebar kencang namun setelahnya ia merasakan sesak di dadanya saat membaca hasil test pack yang ia duga adalah milik So Hee.
Pria itu menangis tanpa suara sambil menggenggam erat test pack milik So Hee.
“So Hee, kenapa kau membawa pergi semua milikku?”
Dari mulai cinta, kasih sayang, dan sekarang adalah darah dagingnya.
Kini, apalagi yang tersisa dari hidupnya selain rasa sakit yang tengah ia perangi.
END
Kurang puas banget, harusnya dibikin sangat nestapa. Haha
