Buat kalian yang sayang Shizui semoga berkenan
Happy reading
*
*
*
*
*
"Kyaa! Kya! Kya! "
Teriak riang dua balita yang tengah asyik menarik narik rambut putih penuh cinta.
Sementara pemilik rambut putih itu hanya tertawa riang, walau terlihat wajah nya sedikit memerah.
"Aaa kakek! Maaf! " Seorang pemuda bergegas berlari dan mengangkat dua balita yang tengah asyik bermain 'mari tarik rambut kakek' itu.
"Lan shi, Lan er, kalian tidak sopan pada kakek. "
Dua balita itu berkedip lucu, lalu tertawa renyah.
"Jingyi, biarkan adik adikmu bersama kakek. "
"Tapi kek mereka... "
"Tak apa, kemarikan. "
Dengan ragu ragu pemuda yang ternyata Jingyi itu mendekat.
Dua balita berparas serupa itu langsung menghambur ke pangkuan sang kakek, Jingyi hanya meringis melihat kelakuan random kedua adik nya itu.
Dengan helaan napas berat Jingyi meninggalkan ruang tengah rumah itu telinganya masih mendengar pekik ceria kedua balita yang tengah 'menyiksa' sang kakek.
"Jingyi, Kau sudah pulang? " Suara lembut terdengar menyapa.
"Iya Pa, apa Ayah, Paman dan Kakak belum pulang? "
Pemilik suara yang ternyata Wei Wuxian menggeleng pelan.
"Ganti pakaian mu dulu, lalu makan lah, mungkin mereka tidak makan siang di rumah. "
"Iya pa. "
Jingyi melangkah menuju kamar nya, sejenak memperhatikan lelaki berparas cantik yang tengah sibuk menyiapkan dua mangkuk makanan balita.
"Pa.. Sepertinya Kakek tersiksa oleh si kembar."
"Tersiksa? Ha ha ha ha.. "
"Ish aku serius Pa, lihat saja kelakuan mereka. "
"Biarkan mereka memberi kebahagiaan untuk kakek mu, tenang saja. "
Jingyi baru membuka mulut, namun Wei Wuxian sudah terlebih dahulu meninggalkan dapur menuju ruang tengah.
Dengan menggeleng pelan pemuda itu melangkah menuju kamar nya.
Semntara di ruang tengah, Wei Wuxian melihat kedua balitanya tengah tertawa riang di punggung sang kakek.
"Hiya! Hiya! Hiya! " Ayo tuda cepat lalinya tita tejal mucuh! " Lan Er balita yang ada di punggung Lan Qiren melonjak lonjak girang saat sang kakek berlari kecil mengelilingi ruang tengah, semntara di depan nya Lan Shi tertawa riang sambil berlarian menghindari kejaran kakek nya.
"Sudah cukup bermain nya, ayo saat nya makan. "
Wei Wuxian meraih Lan Er yang mengulurkan tangan saat mereka mendekat, begitu pula Lan Shi, Wei wuxian lalu mendudukan mereka di bangku makan yang baru saja di bawa oleh se orang pelayan.
"Ini, untuk Lan Er, dan ini untuk Lan Shi. "
Wei Wuxian meletakan dua mangkuk berisi makanan. "Habiskan lalu kita tidur siang. "
Kedua balita itu mengangguk patuh.
"Ini untuk kakek. "
Wei Wuxian meletakan sepiring buah persik yang telah di kupas di hadapan Lan Qiren, pemuda itu lalu duduk di sebelah lelaki tua yang kini mulai menikmati buah yang baru saja di sodorkan.
"Maaf kan si kembar ya kek, mereka pasti sangat merepotkan mu. " Ujar Wei Wuxian, tangan nya perlahan memijit bahu dan lengan Lan Qiren
"Tidak sama sekali, mereka membuat ku merasa ingin terus hidup. "
"Ah sayang sekali padahal ku kira mereka akan membuat mu cepat mati. " Seloroh Wei Wuxian sambil tertawa kecil.
"Bocah sialan. " Lan Qiren memukul pelan kepala Wei wuxian yang masih tertawa pelan sambil terus memijit.
"Terimakasih karena kau sudah mengganti semua kebahagiaan ku, andai saja sejak dulu seperti ini. "
Mata Lan Qiren menatap sendu dua balita yang tengah asyik makan di dampingi dua orang baby sitter.
"Tidak perlu membahas masa lalu Paman, biarkan saja yang sudah terlewati untuk jadi pelajaran. "
"Sisa hdup ku mungkin tak lama lagi, aku ingin menghabiskan nya dengan bahagia. "
"Paman akan berumur panjang, sampai nanti si kembar dewasa."
Lan Qiren sejenak terdiam, matanya menatap sendu lelaki di depan nya yang masih saja tersenyum.
"Terbuat dari apa hatimu hingga tidak sedikit pun ada rasa dendam padaku. "
Wei Wuxian terkikik geli.
"Aku sedang balas dendam pada mu Paman, mereka berdua itu senjataku. " Seloroh nya.
Lan Qiren ikut tertawa kecil dan mengalihkn pandangan ke arah si kembar Lan.
"Mereka adalah senjata untuk membalas dendam ku padamu, kau harus menyayangi mereka sepenuh hati mu, menggantikan semua waktu yang kau buang karena menyia-nyiakan Shizui dan Jingyi. "
Kata kata yang Wei Wuxian ucapkan bukan penuh dengan kebencian, senyum tulus terukir di bibir nya, Lan Qiren terlihat berkaca kaca sesaat kemudian bahunya terlihat naik turun dengan pelan.
Dia menangis.
Wei Wuxian mengusap bahu itu pelan dan memeluk leleki yang sudah berumur itu penuh sayang.
"Maaf.. Maaf kan aku Wei Wuxian... "
"Tidak ad yg prlu di maafkn Paman, semua sudah berlalu. "
"Maaf.... "
Kata maaf terus terucap, membuat Wei Wuxian jadi ikut terbawa suasana hingga pelukan nya semakin erat.
Adegan 'mari peluk kakek' itu terlihat oleh tiga lelaki yang baru saja melangkah masuk, dengan senyum terkembang mereka menghampiri.
Lan Wangji memeluk keduanya dari arah belakang sofa, semntara Shizui bersimpuh dan merebahkan kepala di pangkuan sang kakek, sementara Lan Xichen?
Lelaki itu menghampiri si kembar yang tengah asyik menikmati makanannya mencium mereka lalu menghampiri seorang lelaki yang berdiri angkuh menonton drama di ruang keluarga itu.
"Kau tidak ikut berpelukan bersama mereka? " Ketusnya
Lan Xichen tersenyum.
"Aku ingin memeluk mu. "
"Cih."
Bibir nya menolak tapi kenyataan nya saat putra pertama Lan itu memeluk nya dia hanya terdiam bahkan saat bibirnya di kecup lembut pun tangan rampingnya malah memeluk tubuh kekar itu.
Keduanya lalu melangkah meninggalkan ruangan itu.
*
*
*
*
*
*
®070724
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind That Smille
Fanfictionseseorang kadang menyembunyikan kesedihan, kecewa, amarah hanya denga sebuah SENYUMAN BxB only M-preg Homophobia harap menjauh
