Ibu...
Ibu---
"Hei! Bangun dasar anak s*alan"
Hujan baru saja berhenti, rintihan air yang tertinggal di permukaan tanah bergelinang. Suara teriakan wanita yang terdengar sedikit memekik membangunkan gadis bertubuh kecil dan ringkih yang tengah terbaring meringkuk di atas tumpuk-kan jerami, gadis itu melihat sayu-sayu wanita paruh baya memakai pakaian sederhana namun terlihat berkualitas sedang.
"Hei pemalas! Akhirnya kamu bangun juga, cepat bangun dan kerjakan pekerjaan-mu. Kamu berpikir kamu masih nona muda dari keluarga Linglong? Kamu tidak lebih hanya-lah anak s*al yang dilahirkan oleh nyonya pertama, setelah kematian-nya sekarang nyonya rumah telah berganti..."
Nyonya pertama?
Ah, Ibu sudah tiada...
"Hei! malah melamun, cepat bangun!"
Tangan sang wanita paruh baya menarik baju lusuh dan juga tidak layak pakai gadis itu, tidak berdaya dia hanya bisa tertarik keatas dan dipaksa berdiri. Dia menatap wanita paruh baya itu dengan mata sayup hendak menangis, tubuh-nya masih mengigil karena tidur semalaman di atas tumpukan jerami digubuk terbuka dimana dia ditemani oleh beberapa hewan ternak milik keluarga.
"Cepat bersihkan kotoran kuda dibelakang sana!"
"Ada apa ini...?"
Suara anak laki-laki yang nampak-nya sedikit lebih tua dengan gadis itu terdengar dari arah luar gubuk, sang wanita paruh baya dengan segera menghempaskan tarik-kannya dan tersenyum paksa dan menghampiri laki-laki itu.
"Tuan muda, I...ini bukan apa-apa. Saya hanya mengajarkan gadis pemalas ini agar lebih mengerti peraturan keluarga...", Anak laki-laki itu menatap tajam ke arah sang gadis, tidak tau apa yang ada di dalam pikiran-nya.
"Linglong Ruyi, Pergi dan kerjakan apa yang diperintahkan...", Ucap anak laki-laki itu datar.
Linglong Ruyi, benar. Itu adalah nama gadis itu, dia baru saja teringat di dalam mimpi-nya dia juga mendengar wanita dengan paras anggun yang memeluknya memanggilnya begitu.
Ibu...
"Apa kamu bisa mendengar? Tuan muda menyuruhmu!"
Ruyi tersentak dan segera berlari kecil kearah belakang untuk membersihkan kandang kuda, meninggalkan anak laki-laki dan juga wanita paruh baya tadi di depan gubuk.
"Tuan muda..."
Grrrr!
Terdengar suara aungan yang sangat kencang, sang wanita paruh baya sontak saja terkejut dan terjatuh kebawah. Kakinya yang gemetaran dan juga keringat dingin yang mengalir di wajahnya terlihat dengan sangat jelas, sosok harimau terlihat di depannya.
Ya, itu adalah siluman.
Sejak dahulu manusia tidak pernah mempercayai para siluman, mereka dianggap berbahaya dan juga jahat. Siluman yang lemah dan memilih tidak mencampuri urusan manusia juga tidak diberikan kebebasan, hingga akhirnya muncul musuh dari kegelapan yang dalam melahap setiap mahkluk hidup yang mencoba untuk melarikan diri. Sehingga, para manusia dan juga siluman dipaksa untuk bekerja sama menghentikan kegelapan.
Di dalam wilayah kekuasaan kekaisaran Wei, manusia di wajibkan untuk membuat kontrak dengan siluman demi membasmi para makhluk kegelapan. Tentu saja bagi para keluarga bangsawan seperti keluarga Linglong, siluman-siluman yang bisa membuat kontrak dengan mereka adalah siluman-siluman hebat yang mempunyai kekuatan yang besar.
"Tu....tuan muda, Saya salah apa...?"
Anak laki-laki itu tidak menjawab, dia hanya menatap tajam ke arah wanita paruh baya itu dan berbalik berjalan kearah koridor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ikatan Roh/Spirit Bonds
FantasySejak dahulu manusia tidak pernah mempercayai para siluman, mereka dianggap berbahaya dan juga jahat. Siluman yang lemah dan memilih tidak mencampuri urusan manusia juga tidak diberikan kebebasan, hingga akhirnya muncul musuh dari kegelapan yang dal...
