dwi

0 0 0
                                    

Hai Hai Haiii, ah selamat pagi, siang, atau malam?
Selamat Membaca Saja.

----------------------------------

"Ardhana, saya baru baru ini mendengar dari ajudan Ekspor, dia berkata hasil Ekspor tidak bakal mencukupi untuk pembangunan jembatan, dan dia juga berkata jika kita meneruskan rencana pembangunan jembatan tanpa meminta bantuan Pemerintah Negara itu sama saja menyiksa warga Nounthen" ucap sang tangan kanan Ardhana selama ia menjadi raja.

Dahi Ardhana berkerut tanda ia bingung "Saya sudah menduga bahwa ajudan Ekspor akan mengatakan ini. Namun, yang membuat saya terkejut mengapa ia mengatakan hal ini terlalu cepat?" sambil membuat ekspresi seolah olah ia sedang bingung.

Melihat Ardhana yang sekarang telah merubah mimik wajah nya menjadi dingin, dengan tangan yang dilipat di depan dada nya membuat Graha menjadi bingung dua kali lipat, ia merasa bahwa semuanya telah direncanakan.

"Maksud mu?" tanya Graha seraya menyatukan dua kepal jari itu di paha nya.

Namun hal yang tak disangka terjadi, Ardhana pergi meninggalkan Graha yang masih kebingungan itu. "Sial, mengapa semuanya begitu rumit" umpat sang tangan kanan seraya meninggalkan ruangan.

---

Kebun itu sangat luas, yang didalamnya terdapat sayuran dan buah buahan yang begitu subur, angin berhembus mengenai ranting ranting lalu menggoyangkan dedaunan dengan sangat lembut, hingga terasa untuk tubuh yang panas ini, bukan, bukan karena cuaca namun karena terlalu banyak memikirkan manusia manusia tidak punya adab itu.

"Graha, apakah kebun di sebelah selatan akan ditanami tanaman yang sama seperti kebun ini?" tanya Ardhana dengan mata yang menyipit karena terik nya sinar matahari.

"Sepertinya iya" jawab Graha seadanya.

"Saya ingin, kebun ini ditanami rempah rempah dari kota Xersinha sebelah utara, nanti saya buat anggarannya" serius Ardhana.

"Ardhana, kota Xersinha sangat jauh dari Nounthen, apakah bisa untuk membawa tanaman itu dari sana? pemerintahan negara sangat melindungi Xersinha, atau kau sudah merencanakan yang lain?" diakhiri dengan tuntutan pertanyaan yang menjorong kepada menuduh.

"Kau jangan berfikir seperti itu, saya tidak seburuk yang kau kira, Graha. Setelah makan malam temui saya di ruangan, kita bahas persoalan ini" final Ardhana sebelum sang penjaga kebun mengarahkan Ardhana dan jajarannya untuk berkeliling menuju kebun selatan.

Setelah selesai berkeliling, cuaca semakin terik dan sekarang rombongan pemerintah Nounthen sedang berteduh si sebuah saung yang letak nya tak jauh dari kebun, bahkan dari saung itu dapat melihat seluruh kebun dengan jelas, akan tetapi tidak se jelas jika dilihat secara dekat.

Di belakang saung itu terdapat sebuah hutan pohon jati yang luas nya tidak seberapa. Sang ajudan memanggil menteri keuangan dalam sembunyi, mereka membicarakan masalah dana terkait pembangunan jembatan penghubung Nounthen dan kota kota lainnya.

"Gimana? apakah ia terpengaruh oleh rencana kita?" tanya Henry sang menteri keuangan secara bertubi tubi kepada Azkar sang ajudan Ekspor.

"Saya sudah menyampaikan kepada Graha, katanya ia akan membicarakan terlebih dahulu kepada Ardhana. Saya yakin, Ardhana akan memutuskan untuk bekerja sama dengan pemerintahan negara, dan kita bebas" jelas Azkar.

"Kita bisa bebas pergi kemana pun tanpa memperdulikan Nounthen yang menyesakkan" ucap Henry

---

Makan malam diisi dengan khidmat hanya terdengar suara dentingan sendok ketika bertemu dengan piring, mereka menikmati hidangan dengan sangat tertata, ya karena tabble manner mereka sudah diatas rata rata.

Suara bariton yang terdengar berat karena baru saja berbicara seketika menghentikan kegiatan makan malam itu, semua orang terfokus ke arah suara.

"Graha, ikuti saya" ucap Ardhana.

"Baik" meskipun makanan belum ia habiskan sepenuhnya, Graha dengan sigap menuruti perintah sang Raja.

Setelah keduanya sampai disebuah ruangan yang letaknya tidak jauh dari ruang utama, ruangan yang berisikan buku buku tebal sejarah Nounthen yang asli, dan jurnal jurnal keuangan dari tahun ke tahunnya, di dinding ruangan itu terdapat sebuah grafik yang menunjukan kondisi ekonomi Nounthen untuk tahun sekarang.

Ardhana dan Graha sudah duduk di posisinya masing masing, Graha nampak seperti orang kebingungan, dan Ardhana cukup santai kali ini.

"Ardhana, kamu benar benar ingin melakukan hal itu pada Xersinha?" pembuka suara.

"Graha Graha, saya tidak sebodoh itu untuk melakukannya, itu sama saja menjebloskan diri kepada urusan Negara" jawab Ardhana

"Lantas, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Graha.

"Bekerja sama" Ardhana kini menunjukan raut wajah tenang setenang rintik hujan.

"Bekerja sama dengan para Menteri Xersinha?, itu sama saja memasuki urusan Negara, memangnya kau tak tahu para Menteri di Xersinha memiliki kewenangan untuk melaporkan segala yang terjadi pada Xersinha maupun pemerintahannya langsung kepada Presiden" ungkap sang tangan kanan, mengingatkan.

Benar sekali, Xersinha adalah sebuah kota yang berada di sebelah utara Negara, kota itu memiliki banyak tumbuhan rempah rempah, salah satu yang sangat diincar oleh para penjajah adalah Jahe. Mungkin di seluruh kota juga memiliki tanaman Jahe, namun Jahe yang berada di Xersinha adalah Jahe yang memiliki cita rasa unik karena rasanya seperti campuran Jahe dan Gula, sampai sekarang ntah mengapa belum ada yang bisa memecahkan hal tersebut, dan warga Xersinha terkenal penuh intimidasi. Hal itulah yang menjadi alasan mengapa Pemerintah Negara sangat memperketat keamanan Xersinha.

"Saya tahu Graha, saya tidak berniat bekerja sama dengan para Menteri angkuh"

"Ck, diamlah. Saya muak dengan pemikiran mu yang buruk." lanjut Ardhana, diiringi dengan wajah malas.

"Saya hanya mengingatkan" wajah malas Graha kini terpelihatkan.

Kini keduanya hanya dihiasi dengan keheningan yang melanda, mereka sama sama tengah memikirkan Xersinha, namun pemikiran mereka berbeda. Tanpa mereka sadari waktu telah menunjukan tengah malam, malam itu sang bulan menyinarkan sinarnya dengan sempurna hingga cahaya yang dihasilkannya mampu menembus jendela ruang kerja Ardhana.

"Ini sudah tengah malam Ardhana, apakah kau tidak mengantuk?" tanya Graha dengan kesal karena dari 2 jam yang lalu belum muncul percakapan kembali.

"Silahkan keluar, selamat beristirahat" ucap Ardhana spontan yang membuat Graha bertambah kesal.

Ardhana dan Graha sudah menjadi teman sejak kecil, mereka tinggal di sebuah desa yang jaraknya tidak jauh dari jembatan itu. Hidup mereka sangat sederhana, mereka sama sama tidak mempunyai seorang ayah kala itu. Tidak, ayah graha tidak meninggal saat perang, namun sang ayah hanya meninggalkan Graha dengan ibunya tanpa memberi tahu ayahnya akan kemana, dan sampai saat ini belum ada kabar lebih lanjut mengenai hal itu.

Mereka berdua di besarkan dan di didik oleh perempuan yang hebat, sampai dimana kini mereka bisa menjadi manusia nomor 1 di Nounthen. Namun kejanggalan kejanggalan tetaplah ada menyertai mereka, dan itu bertambah ketika Ardhana diangkat menjadi raja.

NOUNTHEN'S (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang