Bagian dua nihh...
Selamat Membaca--------------------------
Para warga setiap harinya merasa bahagia, mereka menganggap Nounthen ini adalah surga, karena cuaca dan kesuburannya yang sangat indah membuat mereka tidak pernah berfikir untuk pergi dari Nounthen. Setiap bulan, seluruh warga Nounthen diberikan sejumlah uang untuk kebutuhan mereka selama satu bulan, sebenarnya mereka tidak membutuhkan itu semua karena hidup mereka sudah sempurna, kebahagiaan selalu datang kepada mereka.
Para kepala keluarga di pekerjakan di kebun Nounthen. Nounthen memiliki 7 kebun, semuanya memiliki ukuran yang sangat luas, pemerintah Nounthen sejak dahulu selalu menanami kebun itu dengan Palawija dan Buah buahan. Sebagian hasil dari perkebunan itu disimpan dan dibagikan untuk kebutuhan warga setiap bulannya, dan yang sebagiannya dikirim Pemerintah ke kota lain, untuk membayar upah pekerja.
Tahun demi tahun telah terlewati dengan sangat sempurna, masalah demi masalah hanya singgah sementara di Nounthen, jika Xersinha memiliki warga yang penuh dengan intimidasi maka Nounthen memiliki warga yang penuh dengan tatapan kelembutan, tapi siapa yang tahu jika mereka bertemu orang luar? karena sejak dahulu mereka sama sekali tidak pernah menginjakan kaki mereka ke luar Nounthen bahkan jembatan itu. Hanya para pemerintah yang biasa keluar Nounthen untuk urusan bisnis keuangan.
"Semua yang ada di Nounthen sangat sempurna, tapi aku pernah berfikir bagaimana kalau kita coba keluar Nounthen?" tanya seorang gadis ditengah obrolan seru diantara ketiganya
"Kata ibu, luar Nounthen itu seram, banyak hantu nya" ucap salah satu temannya.
"Kata ayah aku juga, di luar Nounthen banyak monster raksasa, katanya jembatan itu rusak karena monster yang ingin ke Nounthen jatuh di jurang Senaia" ungkap satu gadis lainnya yang memang sering diceritakan oleh ayah nya mengenai Nounthen, tapi apakah semuanya memuat fakta atau hanya dongeng semata?
"Ayah aku juga sering bilang, kalau jembatan Senaia itu angker" ucap gadis yang awalnya berfikiran untuk keluar Nounthen
"Tetapi namanya bagus, cantik. Aku suka, kalau aku bisa menawar sama ibu, aku ingin namaku diubah menjadi Senaia" ucap gadis lainnya.
Senaia adalah sebuah jurang yang sangat curam, banyak yang mengira atau berfikiran sampai menyimpulkan bahwa senaia adalah tempat yang angker, pada saat peperangan itu terjadi banyak sekali prajurit yang gugur dimasukan ke dalam senaia, namun udara Senaia sangat asri, tidak ada sedikitpun tanda bahwa tempat itu angker, hanya letak strategis nya yang membuat senaia disegani para manusia
Di seberang Nounthen, tepatnya sebelah utara Senaia terdapat sebuah hutan yang sangat luas bernama Ríxian, pepohonan di hutan tersebut sangat tinggi menjulang, ukurannya jauh dibanding pohon pada umumnya, di ujung pohon tersebut terdapat sebuah bunga berwarna merah menyala yang sangat khas dengan daun dan ranting berwarna coklat tua itu, terlihat sudah rapuh namun tidak pernah berguguran.
Jika manusia melewati hutan tersebut, hanya ada dua hal kemungkinan, yang pertama tidak akan bisa balik ketempat awal, atau menghilang tanpa jejak. Sebenarnya jika di pikir pikir kedua dua nya adalah hal yang sama saja, namun mereka memiliki makna yang berbeda. Seorang Fisikawan yang berniat meneliti pohon Ríxian dikabarkan tidak kembali ke rumah selama 2 bulan, setelah 2 bulan itu sang Fisikawan telah ditemukan di sebuah rumah yang letak nya tak jauh dari rumah awal sang fisikawan, jika sang fisikawan menginjakan kaki di rumah awal maka sekujur tubuh mengeluarkan sebuah siluet berwarna merah menyala yang mampu membuat tubuh itu terbakar.
--------
Secangkir teh yang beraroma melati menyerbak mengisi aroma ruangan itu, ruangan yang bernuansa menyeramkan, di dinding itu terdapat lukisan seorang raja yang dikenal dengan ketegasannya dalam memimpin, Darwin Athasea sang kakek.
Darwin terkenal pada abad ke-6 setelah menggantikan Ratu Raska, ia adalah seorang pemimpin yang tegas, dan tidak bertele tele dalam kehakiman. Darwin adalah mantan Jaksa Agung pada masa pemerintahan Ratu Raksa. ia diangkat menjadi raja dikarekanan perang yang dimenangkan atas dasar Darwin.
Bukan, bukan raja Nounthen. Raja Negara.
Pakaian yang bukan lagi pakaian formal, dengan secangkir teh yang berhamburan aromanya menyerbak hingga seisi kamar. Ardhana menatap lukisan itu dengan seksama seolah menganggap bahwa lukisan itu adalah asli. Namun bukan itu, ia hanya janggal kepada salah satu ukiran yang di buat pada telinga Darwin, ia seperti menemukan sebuah kosakata dalam bahasa Francis yang masih belum jelas.
Rasanya sangat janggal, namun ia abaikan.
Dengan langkah santai ia mendudukan diri di pinggiran kasur berwarna emas, menatap jendela yang makin menampakan pekat nya langit malam. Sang ibunda sudah lama tidak berkunjung ke kerajaan, ia merasa sangat rindu, namun Ardhana tidak bisa langsung menuju kastil tempat ibu nya berada, ia hanya bisa menunggu kapan ibunya berkunjung.
Sang ibunda, Oliveya memang sedang melakukan pelatihan menyulam tingkat tinggi dengan para teman sosialitanya. Pelatihan itu kerap dilaksanakan 5 kali dalam seminggu, sungguh menyesakkan. Tidak hanya terfokus pada aksi menyulam nya, Oliveya juga kentara dengan pesta teh yang diselenggaran di beberapa tempat, tentu Ardhana tidak melarang, bukan kah menyenangkan sang ibunda adalah kewajiban seorang anak?
Memikirkan sang ibunda hanya membuat rindu ini semakin menggebu. Teh beraroma melati kini hanya tersisa ampas batang teh dengan bunga melati di dasar cangkir. Fikiran itu mulai tenang yang dilanjutkan merebahkan diri di kasur yang sudah menemaninya menangani Nounthen dari awal, rasa kantuk mulai melanda, memejamkan mata hingga bertemu sang mimpi adalah tahap selanjutnya.
---------------------
"Tuan, saya mendapatkan sebuah surat dari ajudan kepala bagian" ucap salah seorang kepala Maid yang memiliki tinggi seperti wanita pada umumnya, namanya Risna.
"untuk apa kepala bagian mengirim surat selarut ini. Baiklah, kau boleh pergi" keheranan yang diiringi penerimaan.
"Baik tuan, saya permisi" ucap Risna sebelum langkah itu bertambah meninggalkan yang dituju.
Yang terhormat, Raja Ardhana Nounsea
Surat ini saya tulis untuk menyampaikan sesuatu yang sangat darurat tepatnya pada Nounthen sebelah utara ada satu keluarga yang memiliki penyakit aneh, saya harap Yang terhormat Raja Ardhana Nounsea bisa segera menangani hal ini sebelum penyakit itu menular.
Hormat saya,
Isi dari surat itu terdapat sebuah masalah yang begitu darurat dan bisa menganggu aktivitas warga Nounthen jika masalah ini sudah tersebar di telinga mereka, Sebelum itu terjadi masalah ini jangan dulu tersebar, Ya!
"Ardhana harus segera menangani masalah ini sebelum berdampak luas, tapi ini sudah larut pasti pria itu sudah lelap" Graha terlihat sedang bingung menghadapi masalah sekarang.
Dengan lihat ia mengambil keputusan untuk mengirim sebuah surat peringatam kepada kepala desa agar jangan dulu masalah ini menyebar luas sebelum Ardhana dan pihak kerajaan yang mengumumkannya sendiri. Setelah dirasa cukup Graha langsung memanggil kepala maid yang jam malam memang tugasnya.
teng teng teng
Tak lama kepala maid itu datang dengan tegopoh gopoh, sebab ini sudah larut!
"Ya tuan, kenapa tuan memanggil saya" kalimat yang tepat.
"Tolong antarkan surat ini kepada pos, dan bilang agar segera mengantarkannya ke Nounthen sebelah utara sebelum matahari terbit" ucap Graha setengah berbisik, takut ada penguntit.
"Baik tuan" maid itu langsung menuruti apa yang diperintahkan tuannya.
Graha kembali memasuki kamar nya yang memiliki nuansa perak, pria itu selalu suka yang berbau perak, bahkan ia tengah merancang baju perang dari perak jika nanti Nounthen ditakdirkan untuk berperang.
*******
Dua lelaki baik!

KAMU SEDANG MEMBACA
NOUNTHEN'S (ON GOING)
FantasiNounthen S. Spraklise Sebuah Kota yang terletak di sebelah barat dunia, keberadaannya sangat jauh dari ibu kota negara, jalanan menuju kota tersebut sangat terjal karena harus melewati sebuah jembatan yang sangat panjang, dan di bawahnya jurang yang...