Hari ini Rista free.
Setelah puas tidur di kamar Ferdi, Rista pun pulang ke apartemennya sendiri yang berada tepat di seberang. Dia membersihkan diri dan memakai setelan santai. Niatnya ia akan menemui Jeya, lebih tepatnya anaknya yang baru berusia sekitar 5 bulan.
Bayi menggemaskan yang membuat Rista merasa dosa jika seminggu saja tidak menengoknya. Di perjalanan kemarin, Rista sempat membeli beberapa baju. Rista a sudah tak sabar memakaikannya pada tubuh bayi itu.
Rista sudah berada di dalam mobil, ia menyimpan ponselnya pada holder. Meskipun akan bertemu, tidak ada salahnya ia melakukan panggilan video dulu dengan Kean, nama anak sahabatnya itu. Namun, belum sempat dirinya menemukan kontak Jeya, panggilan dari Ferdi sudah lebih dulu mengisi layar. Dengan senang hati dia pun mengangkatnya.
"Siang gantengnya Mami," sapa Rista seraya mulai melajukan mobilnya. Melintasi badan jalanan dengan kecepatan yang normal.
Di seberang sana Ferdi terlihat langsung menekuk wajah. Tatapan julidnya terlihat begitu khas menempel. Rista pun dibuat tertawa. Meskipun tak seekstrim dulu, watak seseorang mana mungkin semudah itu hilang. Dulu telinga Rista akrab sekali dengan komentar betapa menyebalkannya seorang Ferdinan Agasena.
"Mau ke mana?"
"Tebak."
"Kean."
"Wah, bener banget. Seratus buat Nak Aga."
Ferdi berdecih kecil yang lagi-lagi tak gagal memancing gelak tawa Rista.
"Udah makan?" Rista melemparkan pertanyaan. Sekarang sudah masuk jam istirahat makan siang.
"Baru aja selesai." Ferdi menyorotkan kamera pada piringnya.
"Kok nggak dihabisin?" Rista memberengut tidak suka.
"Berapa kali gue bilang jangan sisa-sisain makanan. Bodo amat lo udah punya banyak duit, lo nggak boleh perlakuin makanan kayak gitu," lanjutnya mengeluarkan omelan.
Ferdi menghela napas. "Iya, kanjeng."
"Lagian itu keliatan resto mahal. Porsi dikit, eh nggak abis. Baiknya lo tabung duitnya buat modal nikah."
"Iya, yang anak sultan tapi otaknya ngirit abis." Ferdi memutar bola matanya.
"Ga, gue mau nanya deh, lo udah bikin tabungan buat nikah nggak sih? Ganesh bikin dari zaman kuliah loh, masa sampe sekarang lo belum?" Mata Rista berubah menyipit dan memandang Ferdi penuh dakwaan.
"Nggak sekalian aja nih lo yang kelola keuangan gue," sarkas Ferdi dengan mata yang ikut menyipit.
"Bukan gitu, maksudnya lo bener-bener harus bikin planning buat masa depan."
"Hmmm...." Ferdi bergumam panjang.
"Dibilangin ngeyel."
"Itu bukan ngeyel."
Rista hendak meraih tisu begitu seorang anak tiba-tiba menyebrang hingga ia mengerem mendadak. Tubuh Rista terhuyung yang untungnya sabuk pengaman menahannya dari terkena benturan.
"Kenapa, Zi?" tanya Ferdi yang berubah panik.
Rista yang masih terengah karena kaget itu menggeleng. Matanya mengikuti anak yang sudah melompat-lompat di tepi jalan dengan hembusan lega. "Ada anak tiba-tiba nyebrang, tapi oke kok, semua baik-baik aja."
Rista mengacungkan jempolnya lalu tersenyum ke arah Ferdi.
"Yang fokus nyetirnya, liat depan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Relationshit
RomanceFerdi berjiwa keabangan. Rista berjiwa keibuan. Ferdi kehilangan ibunya. Rista yang menemani di titik terendahnya. Ferdi itu sarampangan. Rista yang buat hidup Ferdi tertata. Ferdi nyaman dengan semua sikap Rista. Tapi Rista tetap berdeklarasi sebag...
