Karel membawa Rista pada sebuah cafe. Cafe dengan konsep luar ruangannya yang cantik. Karena sudah sore di mana cahaya matahari pun mulai redup, lampu-lampu pun sudah dinyalakan. Cukup unik karena lagu yang dimainkan pun klasik. Dengan sayup-sayup angin, tempat ini cocok untuk orang yang sedang mencari ketenangan. Suasananya sangat mendukung.
"Aku baru tau loh ada tempat kayak gini."
"Aku seneng kalau kamu suka."
Rista mengangguk-angguk. "Pasti tempatnya sering disewa buat party deh."
"Analisa kamu keren."
Rista tertawa. "Kamu berlebihan, itu 'kan bukan sesuatu yang wah, semua orang juga bisa nilai."
"Tapi karena itu kamu, terlihat lebih istimewa."
Kening Rista sedikit berkerut dengan raut bertanya. Namun, Karel hanya menggeleng seraya tersenyum. Rista jadi teringat akan respon Ferdi tadi pagi. Apa memang hal begitu sedang tren sekarang?
Seorang pelayan datang, membuat Rista bisa keluar dari situasi itu. Rista tersenyum kecil begitu pelayan itu selesai menata makanan di meja mereka.
Rista mengambil garpu, bersiap menikmatinya begitu tersadar bahwa ada kertas di bawah piringnya. Rista pun menarik kertas itu dan membukanya.
Kamu cantik.
Isi tulisan pada kertas itu. Rista mendongak pada Karel. Keningnya sedikit berkerut seolah bertanya. Melihat Karel yang menyunggingkan senyum, Rista pun akhirnya tahu jika tulisan itu dari dia.
"Makasih," ucap Rista dengan senyum yang lembut.
Rista terkaget begitu mendengar ledakan diikuti kertas-kertas konfeti yang berterbangan. Tak cukup di sana Rista pun bingung begitu para pemain musik berjalan mendekat ke arah mejanya.
Rista menatap Karel untuk bertanya, tapi pria itu malah berdiri, menerima buket bungan dari salah satu pelayan kemudian berlutut di depan Rista. Senyum mengembang, buket bunga, melodi lembut dari lagu romantis ...
"Rel?"
"Aku nggak pandai bikin sesuatu yang indah, Ta. Tapi aku nggak bisa lebih menunggu karena alasan bodoh itu," ucapnya dengan pandangan hangat yang menelisik pada Rista.
"8 tahun lalu, saat aku pertama kali lihat kamu. Kamu yang selalu diam dengan wajah bosan, kadang menggerutu sendirian. Kamu menolak berbaur meski dalam keramaian. Termasuk kamu pun mungkin nggak menyadari keberadaan aku saat itu." Karel tersenyum seolah tengah mengingat kenangan yang indah.
"Pertemuan kedua, aku semakin kebingungan karena aku sama sekali nggak bisa lepas pandangan dari kamu. Hingga saat itu pandangan kita nggak sengaja bertemu, kamu tersenyum. Mungkin hanya senyum biasa, tapi dari sana, aku mengerti apa yang aku inginkan."
Karel sedikit menunduk. "Dulu aku pengecut, aku nggak berani bilang, sampai akhirnya aku harus pergi jauh. Aku selalu memikirkan, apa kita bakal dipertemuan lagi atau nggak."
Wajahnya kembali mendongak dengan senyum yang lebih lebar. "Tuhan mengabulkan, kita bertemu dengan kamu yang semakin membuat aku jatuh. Aku suka sama kamu, Ta. Waktu dan jarak bahkan nggak bisa ngikis hal itu sedikit pun."
Karel menarik napas dalam. Menyiapkan dirinya untuk kalimat yang paling mendebarkan. "Ta, will you be mine?"
oOo
Ferdi turun dari mobilnya tergesa. Setelah memacu mobil dengan gila-gilaan, Ferdi sama sekali tidak bisa menenangkan isi kepalanya. Apalagi Katrina bilang bahwa Karel akan menyatakan perasaannya pada Rista hari ini. Ferdi harus menghentikannya. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Relationshit
RomanceFerdi berjiwa keabangan. Rista berjiwa keibuan. Ferdi kehilangan ibunya. Rista yang menemani di titik terendahnya. Ferdi itu sarampangan. Rista yang buat hidup Ferdi tertata. Ferdi nyaman dengan semua sikap Rista. Tapi Rista tetap berdeklarasi sebag...
